CAK NUR DAN GUS DUR: MEMBACA KEMBALI PEMIKIRAN DUA GURU BANGSA

gusdur-caknurDalam keterlibatan berdiskusi ringan dengan beberapa sosiolog akhir-akhir ini, saya sampai pada satu sintesa bahwa Islam pertama kali masuk ke nusantara secara “tidak sengaja”. Sangat jauh kemungkinan jika para pedagang Arab dan India dengan niatan bisnis yang dominan memiliki rencana terstruktur untuk menyebar agama. Ketidaksengajaan itu akhirnya melahirkan bentuk agama unik yang begitu dialogis dengan budaya-budaya lokal dan jauh berbeda dengan bentuknya di daerah asal.

Itu jika kita berbicara asal mula kedatangan Islam. Tapi mengenai penyebaran Islam di Nusantara, Azyumardi Azra memberikan catatan penting dalam karyanya “Islam Nusantara” (2005): Proses masuknya Islam di nusantara bersifat evolusioner, atau islamisasi yang berproses secara pelan dengan berbagai macam bentuk persentuhan dengan budaya lokal.

Sejarah adalah suatu proses “menjadi”, sebagaimana manusia adalah makhluk “menjadi”, sehingga kita tidak bisa berpijak pada satu titik historis tertentu  dalam membaca masa lalu untuk menegaskan masa kini kita. Dalam konteks islamisasi nusantara, pada saat tertentu Islam datang dalam wajah yang lembut namun di saat lain hadir dengan darah tertumpah.

Inilah mungkin kritik yang diajukan, misalnya, kepada Cak Nur yang melalui proyek “masyarakat madani”-nya nampak terjebak pada romantisisme tentang suatu masyarakat ideal di masa lalu, meskipun ia tetap mengakui bahwa islam di negeri ini adalah sebuah proses yang selalu berkembang. “Islam adalah masa depan!”, seru Cak Nur.

Saya kira kita bisa mengamini Gus Dur ketika ia menawarkan, katakanlah, penafsiran baru ajaran agama sesuai dengan konteks dan kebutuhan masa kini. Nampaknya Gus Dur seirama dengan, atau bisa saja terpengaruh oleh, para pemikir muslim kontemporer seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Abid al-Jabiri, Muhammad Arkoun, dan lain-lain.

Baik Gus Dur dan Cak Nur sama-sama membayangkan paradigma Islam yang berdialog dengan nilai-nilai kemanusiaan, kemodernan, dan keindonesiaan. Perbedaannya terletak pada bagaimana keduanya memperlakukan, meminjam istilah Abid al-Jabiri, “turats”, tradisi yang diwariskan orang-orang terdahulu. Cak Nur menjadikan tradisi sebagai pijakan ideal karena nilai-nilai kemanusiaan dan kemodernan hadir dalam tradisi namun terlalu maju bagi masyarakat zaman dulu, sedangkan Gus Dur lebih cenderung melakukan peninjauan kembali pemahaman Islam.

Menganalisa pemikiran kedua guru bangsa kita ini, yang sama-sama berasal dari Jombang namun menghasilkan dua corak pemikiran berbeda, nampaknya akan menjelaskan kecenderungan berbeda keagamaan Islam Indonesia dimana yang satu berbasis perkotaan dan yang satu berbasis masyarakat kelas menengah dan pedesaan. Meski demikian, perlu kiranya membandingkan analisa sepintas tulisan ini dengan analisa Greg Barton, komentator agresif dua tokoh kita itu.

Iklan

TENTANG ISLAM NUSANTARA, LAGI

MinangkabaumosqueSemakin hari tema “Islam Nusantara” semakin hangat diperbincangkan. Kubu pengusung dan kubu penolak seperti berbalas serangan, menyampaikan argumen masing-masing. Hanya saja, kubu pengusung nampak lebih ilmiah dalam mengkampanyekan Islam Nusantara, sedangkan penolak lebih menampakkan sebagai reaksi emosional dibanding argumentasi kreatif. Meski demikian, kita katakan saja pertarungan ideologis-intelektual ini dapat memberi andil bagi kehidupan Islam kita di Indonesia yang menunjukkan geliat kebangkitannya. Bukankah peradaban besar lahir dari kedewasaan masyarakatnya dalam menyikapi perbedaan?

Sebenarnya gagasan Islam Nusantara bukan gagasan baru. Pada tahun 2010 digelar Annual Conference of Islamic Studies (Konferensi Tahunan Studi-Studi Islam) ke-10 di Banjarmasin. Pertemuan tahunan para cendekiawan itu mengambil tema “Menemukan Kembali (Reinventing) Islam Nusantara”. Dengan demikian, sejak saat itu, setidaknya, para ilmuwan kita sudah memiliki visi yang sama, yakni mengangkat Islam Nusantara. Terma “reinventing” sangatlah krusial di sini, istilah yang menunjukkan bahwa Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang baru diciptakan tetapi sudah dipraktekkan berabad-abad yang lalu sejak era masuk dan penyebaran Islam di bumi Nusantara. Istilah “Islam Nusantara” yang dikumandangkan saat ini lebih berupa slogan bagi sebuah pergerakan keilmuan yang bercita-cita menghidupkan Islam yang ramah, toleran dan rahmah li al’alamin, sebagaimana diterapkan oleh para ulama di zaman dulu. Islam Nusantara dinilai penting sebagai jalan tengah antara pemahaman Islam yang eksklusif dan radikal, diwakili oleh Islam Timur-Tengah, di satu pihak dan pemahaman Islam yang sekuler dan liberal di pihak lain.

Baru dalam beberapa bulan terakhir kita mendengar seruan akan penolakan, bahkan kecaman, terhadap gagasan Islam Nusantara. Tidak dapat diketahui pasti apakah para penolak tidak mengetahui bahwa gagasan itu sudah lama diusung atau sudah tahu tapi menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Namun ketika lantunan al-Qur`an dengan langgam jawa sebagai simbol Islam Nusantara muncul, penolakan dan kecaman pun tak dapat dihindarkan, seakan kasus langgam jawa seperti pemantik api yang kobarannya semakin membesar sekarang ini. Islam Nusantara akhirnya mendapat tantangan serius dari dua golongan, yakni kubu yang sudah lama berseberangan dengan kubu pengusung yang seakan mendapat peluru gratis untuk ditembakkan, dan masyarakat umum yang menganggap kasus langgam jawa adalah pemandangan tak lazim dan sulit diterima.

Penolakan terhadap Islam Nusantara berkisar pada: “seharusnya meng-Islam-kan Nusantara, bukan me-nusantara-kan Islam.” Jika membandingkan gagasan Islam Nusantara secara komprehensif dengan slogan tersebut, penolakan itu rasanya tidak nyambung. Sebagai orang awam pemahaman saya terhadap gagasan Islam Nusantara sebenarnya sederhana:

Dalam memandang agama harus dibedakan mana yang ‘substantif’ dan mana yang ‘bentuk’, mana yang isi dan mana yang kemasan. Yang substantif dalam agama tak akan berubah dan tidak boleh diubah. Ia bersifat universal dan fundamental. Ia merupakan nilai-nilai dan, karena itu, abstrak, seperti keesaan Tuhan, keadilan, kemanusiaan dan lain-lain. Adapun ‘bentuk’ bersifat historis, konkrit, bisa berubah sesuai konteks, yakni aplikasi nilai-nilai universal dan fundamental tadi, dan setiap masyarakat di setiap masa punya cara masing-masing dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut. Dalam Islam Nusantara atau Islam Indonesia, yang “di-nusantara-kan” atau “di-indonesia-kan” adalah ‘bentuk’ bukan yang substantif, kemasan bukan isi, sebab substansi dan isi memang tak bisa diapa-apakan. Cara menerapkan keadilan bagi masyarakat Arab berbeda dengan masyarakat Nusantara, begitu pula keadilan bagi orang Barat berbeda dengan keadilan bagi orang kita. Nabi Saw pernah mengatakan: “kamu lebih tahu urusan duniamu”. “Dunia” dalam nasihat Nabi itu bisa difahami sebagai ‘bentuk-bentuk’, perwujudan dari nilai-nilai, sebab alam dunia adalah bayangan dari alam sebenarnya dan hakiki, asal-muasal nilai-nilai, yakni akhirat. Jadi, wajar saja jika banyak orang keliru memahami gagasan Islam Nusantara karena sudah keliru cara pandangnya. Bagi yang tahu ilmu Nahwu, dalam pemahaman saya, mungkin Islam Nusantara jika dibahasa-arabkan berkerangka sifah wa al-mawshuf, bukan mudhaf-mudhaf ilayh, ada juga yang menyebut tarkib majaziy. Banyak orang yang nampaknya memahami Islam Nusantara dalam kerangka mudhaf-mudhaf ilayh, padahal ia seharusnya difahami sebagai sifah wa al-mawshuf. Yang pasti saya menangkap banyak hal positif dalam gagasan progresif yang sebenarnya sudah lama dilaksanakan tapi baru sekarang diributkan itu.

SEKILAS TENTANG ISLAM NUSANTARA

(Tulisan ini hanyalah kilas pandang saya dalam memahami Islam Indonesia atau Islam Nusantara, suatu pandangan tentang nilai dan bentuk Islam dengan konteks Nusantara)

Sudah menjadi teori yang sampai saat ini disepakati banyak ilmuwan bahwa Islam masuk ke Indonesia (atau Nusantara) dengan jalan damai tanpa melalui cara-cara kekerasan dan pemaksaan. Kebanyakan ahli sepakat bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 M dan gelombangnya mencapai titik puncak pada abad ke-11 M, dari Arab. Melalui teori ini dapat dikatakan Islam yang datang ke Nusantara adalah Islam yang datang dari masyarakat Islam-Arab. Namun demikian, Islam yang datang dari Arab berasimilasi (bercampur, berdialog) dengan budaya-budaya lokal dan bentuk kompromi Islam-Arab dengan budaya Nusantara itu adalah kasus yang unik. Proses islamisasi yang terjadi di Nusantara berbeda dengan yang terjadi di belahan dunia lain dikarenakan jauhnya Nusantara dari titik awal keberangkatan penyebaran Islam (Arab). Sebagian ahli lain mengatakan bahwa hasil dari proses islamisasi di Nusantara berbentuk Adhesi, artinya penduduk Nusantara memeluk Islam sembari masih mempertahankan komitmen terhadap kepercayaan dan praktek keagamaan lokal mereka di luar kepercayaan yang profetik atau yang menyangkut ushul al-din (prinsip-prinsip dasar agama).

Islam NusantaraNamun dalam rentang sejarah proses persentuhan Islam dengan budaya lokal terus terjadi hingga saat sekarang ini dan bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dengan cara damai, bisa pula dengan cara-cara yang revolusioner, seperti kehadiran Imam Bonjol pada tahun 1890-an yang membawa pengaruh-pengaruh Salaf dan gerakan-gerakan puritanisme lain yang pola dakwahnya nampak lebih represif – hal ini disebabkan oleh faham sebagian ulama yang menginginkan perubahan cepat dan murni dalam kepemelukan Islam di masyarakat Nusantara. Karena itu, sejauh ini kita hanya dapat menyimpulkan bahwa islamisasi Nusantara melibatkan suatu proses yang bersifat evolusioner, atau islamisasi yang berproses secara pelan dengan berbagai macam bentuk persentuhan dengan budaya lokal. Hal ini tak terlepas pula dari sifat Islam Nusantara yang sangat terbuka sehingga apa yang terjadi di dunia Islam berpengaruh besar terhadap situasi Islam di Nusantara (Azra, 2003)

Sejak dimulainya era reformasi di Indonesia Islam muncul dalam kelompok-kelompok yang berbeda-beda yang masing-masing ingin diakui keberadaannya setelah di era Orde Baru suara-suara itu dibungkam oleh otoritas dan Islam hanya mewujud dalam dua arus utama, Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, yang sama-sama bersikap moderat dan mengusung Islam yang toleran dan inklusif. Namun kehadiran kembali gerakan-gerakan Islam puritan yang sebagiannya adalah anak cabang dari gerakan-gerakan Islam internasional – seperti HTI, MMI, PKS, dan lain-lain – yang nampaknya mencoba ingin mereformasi Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara ekstrim, sehingga menggoyang keharmonisan kehidupan bangsa ini yang masyarakatnya multi-kultur. Selain kelompok keagamaan, kelompok-kelompok masyarakat berbasis kesukuan juga ingin menonjolkan identitasnya, sehingga jika tidak disikapi dengan baik justru akan merongrong keutuhan negara ini. Menyikapi ini maka diperlukan konsep Islam yang dapat menjaga keutuhan masyarakat multi-kultur yang sudah sekian lama hidup dalam ke-Bhinneka Tunggal Ika-an. Konsep yang dimaksud adalah “Islam inklusif”.

Secara etimologi kata “inklusif” yang diperlawankan dengan kata “ekslusif” merupakan bentuk kata jadian yang berasal dari bahasa Inggris “inclusive” dan “exlusive” yang masing-masing memiliki makna “termasuk didalamnya” dan “tidak termasuk didalamnya/ terpisah”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “eksklusif” berarti “terpisah dari yang lain”. Sedangkan inklusif berarti “termasuk, terhitung”. Islam merupakan agama yang sangat inklusif, dan bukan merupakan ajaran yang bersifat eksklusif. Tapi inksklusifitas itu bukanlah yang bermaksud perbedaan agama yang di pahami oleh kelompok liberal. Inksklusifitas Islam yang dimaksud adalah agama yang universal dan dapat diterima oleh semua orang yang berakal sehat tanpa memperdulikan latar belakang, suku bangsa, status sosial dan atribut keduniawian lainya.”

Islam inklusif merupakan pandangan bahwa semua agama dan kearifan lokal yang ada dalam setiap budaya memiliki kebenaran dan memberikan manfaat dan keselamatan bagi para penganutnya, sebagaimana di Indonesia banyak terdapat beraneka ragam budaya dan tradisi. Dalam artian lain bahwa, Islam inklusif mempunyai pandangan  bahwa agama-agama dan kearifan-kearifan lokal yang ada di sekeliling kita memiliki kebenaran yang sama, yaitu sama-sama mempunyai tujuan yang sama yaitu kepada Allah. Hanya saja cara menuju kepada Allah yang berbeda antara agama yang satu dengan agama yang lainnya.

Islam inklusif mengharuskan umat Islam meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar, namun Islam melarang untuk merendahkan agama lain. Apalagi menyakiti penganut agama non Islam. Sikap merendahkan penganut non muslim justru akan menunjukkan bahwa agama Islam bukan agama yang mulia. Nabi Muhammad SAW, merupakan sebuah suri tauladan yang baik yang layak dijadikan panutan dalam konteks ini. Dalam kehidupan beliau sebagai pememimpin masyarakat Madinah, sikap toleran terhadap umat yang lainnya merupakan ciri dari kepemimpinannya. Islam inklusif merupakan sebuah pandangan yang mengajarkan tentang sikap terbuka dan toleran dalam beragama dan dengan berhubungan dengan segala hal di luar Islam. Sikap terbuka dan toleran akan berdampak pada relasi sosial yang bersifat sehat dan harmonis antar sesama warga masyarakat.

Dasar Islam yang inklusif adalah konsep bahwa Nabi Muhammad diutus oleh Allah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) sebagaimana diajarkan al-Qur`an, jadi Islam yang dibawa Rasul adalah Islam yang berpijak pada kasih sayang dan cinta kepada seluruh alam. Selain itu, keragamaan agama dan budaya adalah sebuah keniscayaan teologis. Teologi Islam (tauhid) mengandung makna yang lebih dalam sebagai dasar inklusifitas Islam. Pertama, pengabdian sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa ketuhanan tunggal murni yang menjadi prinsip dasar tauhid berimplikasi pada pengabdian terhadap satu objek ketuhanan saja, yakni Allah Swt Yang Maha Tunggal dan kekuasaan-Nya tak terbagi-bagi itu. Mengabdi berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt, suatu semangat yang memang diusung oleh agama Islam, dimana “islam” berarti “penyerahan diri”. Maka dari itu, segala fikiran, perasaan, dan perbuatan harus selalu diniatkan lillahi ta’ala, demi Allah ta’ala. Karena Tuhan adalah sumber segala sifat baik dan terpuji, maka fikiran, perasaan dan perbuatan harus didasarkan pada kebaikan dan kebenaran.

Kedua, ketinggian Tuhan dan kesetaraan makhluk. Konsepsi tauhid pada penghujungnya hanya mengakui dua keberadaan, yakni Tuhan dan makhluk, dimana yang disebut terakhir pada hakikatnya tiada (fana`) dan yang wujud hanya Dia Yang Maha Tunggal. Karena hanya Allah Yang Maha Ada dan tiada sesuatu yang lain pun yang mampu menyamai-Nya maka hanya Allah-lah Yang Maha Tinggi sedangkan makhluk sangatlah rendah, hanya Allah Yang Maha Kuat sedangkan makhluk sangatlah lemah. Karena seluruh makhluk lemah dan rendah maka derajat mereka pun sama saja dalam kerendahan dan kelemahan itu. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah daripada yang lain. Karena itu, tiada alasan bagi manusia untuk merasa takut dengan sesama manusia dan takut kepada makhluk lain karena tak ada yang lebih tinggi dari mereka. Namun manusia pun tak memiliki alasan untuk merasa tinggi dan menganggap yang lain rendah sehingga ia menyakiti sesama manusia, merendahkan sesama, menghina sesama, menggunjing sesama, mendengki sesama, memerangi sesama, dan lain-lain. Manusia pun tak punya alasan untuk menyakiti makhluk-makhluk lain, baik berupa binatang, tumbuh-tumbuhan, bebatuan, sungai, laut, dan seluruh makhluk di alam semesta. Karena itulah Islam mengajarkan kita untuk tidak mengeksploitasi alam, merusaknya dan menghancurkannya. Dengan demikian, tauhid juga mengandung makna pengakuan akan keagungan Tuhan dan kesetaraan seluruh makhluk.

Konsekuensi dari Islam inklusif adalah: (1) Islam adalah agama terbaik, namun keselamatan di luar agama Islam adalah hal yang mungkin, dan (2) Islam adalah agama yang berkembang (progresif). Karena itu, perlu diterapkan metode kontekstual dalam memahami al-Qur`an dan Sunnah. Kontekstualisasi al-Qur`an terwujud dalam konsepsi Islam Indonesia sebagaimana diusung banyak kalangan akhir-akhir ini.

Pertama-tama Islam Indonesia menghidupkan kembali sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang mengambil bentuk asimilasi dengan budaya-budaya lokal. Hal ini menimbulkan gairah untuk menggali kembali khazanah intelektual Islam klasik di Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Wali Songo, ‘Abd al-Samad al-Palimbani, Nur al-Din al-Raniri, Muhammad Nafis al-Banjari, dan Muhammad Arsyad al-Banjari berserta karya-karya mereka dalam pelbagai bidang agama, ditemukan dan diangkat kembali sebagai sumber-sumber intelektual Islam Indonesia. Ini adalah wujud dari Islam washathan (terinspirasi dari ajaran al-Qur`an), yakni Islam yang berada di tengah-tengah di antara dua kubu ekstrim, dalam hal ini kedua kubu ekstrim yang dimaksud adalah Timur Tengah dan Barat. Islam Indonesia berada pada posisi di tengah kedua kubu itu, sehingga Islam Indonesia tidak puritan, tekstual, islamis, seperti Islam di Timur Tengah saat ini dan tidak pula liberal, sekular, atheis, seperti Barat. Dengan demikian, Islam Indonesia berarti Islam yang difahami secara kontekstual oleh orang Indonesia sendiri dan sumber-sumber keislaman ini dapat ditemukan dalam khazanah intelektual Islam klasik Indonesia.

Naskah KunoSebagai contoh dari kontekstualisasi Islam yang didapat dari karya intelektual Islam klasik adalah konsep pembagian harta waris oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Datuk Kelampayan (gelar Muhammad Arsyad) tidak membagi harta waris seperti sudah dikenal dalam ilmu Faraidh, yakni bagi suami yang ditinggal mati istri mendapat harta separuh dari harta waris dan istri mendapat seperempat harta. Bagi Syekh Arsyad sebelum seluruh harta waris dibagi sesuai hukum Faraidh, harta itu harus dibagi terlebih dahulu separuh-separuh. Paruh pertama untuk suami atau istri yang ditinggal mati istri atau suaminya. Paruh kedua dibagi sesuai dengan hukum waris Islam. Pembagian semacam ini adalah bentuk kontektualisasi Islam dimana kondisi sosial masyarakat Banjar memperlihatkan bahwa suami dan istri sama-sama bekerja atau memiliki andil yang sama dalam keluarga, berbeda dengan masyarakat Arab di zaman Rasul yang masih kental dengan kesenjangan kelamin antara laki-laki dan perempuan. Separuh harta waris yang dibagikan sebelum diterapkannya Faraidh ini disebut dengan harta bersama atau harta perpantangan atau harta papantangan.

Dengan demikian, para ulama Islam klasik Nusantara telah lebih dahulu menerapkan kontekstualisasi ajaran al-Qur’an sebagai wujud dari inklusifitas Islam terhadap budaya dan tradisi lokal. Kontekstualisasi Islam inilah kemudian yang coba dilakukan gerakan Islam Nusantara sebagaimana kita lihat hari ini.

“INSYA ALLAH” DAN “IN SHA ALLAH”: PERSOALAN TRANSLITERASI TULISAN ARAB KE LATIN

menulisSebagian orang mempersoalkan penulisan “insya Allah”. Menurut mereka penulisan itu keliru, sebab jika kalimat yang semula berarti “jika Allah menghendaki” jika ditulis dengan penulisan latin seperti tadi maknanya berubah jadi “membuat Allah” (bentuk mashdar dari “ansya’a-yunsyi’u“), tentunya makna itu bertentangan dengan aqidah. Seharusnya, menurut mereka, yang benar adalah “in sha Allah“, karena memang kalimat dalam bahasa Arab itu terdiri dari tiga kata: “in” (jika), “sha’a” (menghendaki), dan “Allah“.

Saya cukup kagum sekaligus heran terhadap mereka yang memusingkan persoalan itu. Pada dasarnya, itu adalah persoalan transliterasi dari tulisan Arab ke Latin, dan transliterasi tak pernah baku, kecuali di Perguruan Tinggi bagi mahasiswa yang menulis karya ilmiah – untuk itu pun mereka harus menyertakan pedoman transliterasi di lembar-lembar awal karya mereka. Jika memang penulisan Latin terhadap tulisan Arab dipersoalkan sedemikian rupa karena dapat merubah makna maka anda harus konsisten dan anda harus menetapkan kaidah-kaidah translierasi tulisan Arab ke Latin. Masalahnya adalah mentransformasi secara akurat huruf Arab ke huruf Latin yang jelas-jelas berbeda itu sangatlah sulit, jika tidak dikatakan tidak mungkin sama sekali. Karena itulah orang hanya mencoba mendekati maknanya dengan menulis bahasa Arab dengan tulisan Latin berdasarkan bunyi kata-kata Arab ketika dilafalkan. Namun jika kita memang ingin men-tansliterasi Arab ke Latin berdasarkan ketepatan struktur, lafal, dan makna Arabnya, maka selama ini kita sudah banyak melakukan kekeliruan dan inkonsistensi.

Penulisan kata “Allah“, misalnya. Penulisan tersebut keliru, sebab kata-kata Arab mengenal huruf-huruf ‘illah (alif, waw, ya) yang jika berbentuk jazm atau sukn menjadi pemanjang pelafalan huruf sebelumnya. Jika nama Tuhan ditulis dengan “Allah” maka tulisan itu tidak menunjuk pada Tuhan sebab huruf “lam” harus dibaca dengan vokal “a” panjang. Bagaimana memanjangkan huruf Arab dengan tulisan Latin? Ada yang menuliskannya dengan dua huruf vokal. Dengan demikian maka kata “Allah” seharusnya ditulis dengan “Allaah”. Begitu pula dengan kata-kata seperti “al-Qur’aan”, “jibriil”, “zakaat”, “shalaat”, dan lain-lain. Jika tidak, maka akan berubah makna. Lalu bagaimana dengan huruf vokal yang dibaca sangat panjang, seperti “malaikat”. Apakah harus ditulis “malaaaikat”, sebab huruf “lam” di sana harus dibaca lebih panjang (dalam ilmu tajwid disebut dengan istilah “mad wajib muttashil“). Kalangan akademisi punya solusi untuk menulis Latin huruf-huruf vokal panjang ini, yakni dengan membubuhkan simbol (^) di atas huruf vokal, sehingga “Allah” ditulis “Allâh”. Begitu pula, “ibrâhîm”, dan “muslimûn”. Namun hal ini menjadi masalah karena simbol tersebut tidak ada dalam alfabet Latin Indonesia.

Sekedar tambahan, ada perbedaan antara orang berbahasa Indonesia dengan orang berbahasa Inggris dalam transliterasi vokal “i” panjang. Contohnya kata “din” (agama). Sebagian orang berbahasa Indonesia menulis latinnya dengan “diin”, sedang orang berbahasa Inggris menulis dengan “deen”. Ini menunjukkan bahwa teknik transliterasi tak pernah baku. Transliterasi tergantung pada bagaimana pelafalan bahasa Arab bertemu dengan teknik pelafalan dalam bahasa dimana ia diserap. Jadi, mustahil menetapkan satu pedoman transliterasi Arab ke Latin yang baku untuk seluruh dunia.

Persoalan lainnya  adalah tentang pemisahan kata. Ambil saja kata “raudhatul jannah” yang berarti “taman surga”. Tulisan Arabnya memang terlihat seperti dua kata, padahal sebenarnya terdiri atas tiga kata, yakni “raudhah” (taman), “al” (sebuah imbuhan), dan “jannah” (surga). Jika ditulis “raudhatul jannah” maka kita sudah mengubah struktur bahasa Arab yang semula tiga kata menjadi dua kata. Ini adalah kekeliruan. Agar tetap mengandung tiga kata, kalangan akademisi juga punya solusi untuk ini. Mereka menulisnya secara Latin dengan “raudhah al-jannah“. Begitu pula dengan kalimat-kalimat seperti “baitul mal“, “husnul khotimah“, “baitullah“, seharusnya ditulis “bait al-mal“, “husn al-khotimah“, “bait Allah“, dan lain sebagainya. Selain itu, imbuhan “al” dalam tulisan Arab menempel pada kata yang “menerangkan”, jika boleh meminjam pola DM (Diterangkan-Menerangkan) dalam ilmu Bahasa Indonesia, sehingga “al” lebih pantas ditempelkan pada kata “mal“, “khotimah” dalam contoh-contoh di atas, bukan pada kata “bait” dan “husn”. Sekedar tambahan lagi, dalam ilmu gramatika Arab (Nahw) imbuhan “al”  disebut “alif lam ma’rifah” yang jika menempel pada suatu kata benda maka benda adalah benda yang spesifik atau sudah diketahui benda mana yang dimaksud, seperti fungsi “the” dalam bahasa Inggris.Transliterasi-Arab-Latin

Lain lagi dengan cara menulis huruf Arab yang bunyinya tidak ada dalam susunan alfabet Indonesia, seperti huruf “tsa”, “kha”, “dzay”, “syin”, “shad”, “dhad”, “tha”, “zha”, “’ain”, dan “ghain”. Kebanyakan orang menulisnya dengan gabungan huruf konsonan, yakni masing-masing “ts” seperti dalam kata “tsanawiyah”, “kh” dalam “khadijah”, “dz” dalam “dzikir”, “sy” dalam “syahadat”, “sh” dalam “shalat”, “dh” dalam “fardhu”, “th” dalam “fathanah”, “zh” dalam “zhahir”, tanda baca satu koma atas dalam “’inayah”, dan “gh” dalam kata “maghfirah”. Namun ada sebagian ada yang menulis huruf “dhad” dengan “dl” seperti dalam kata “ridla”. Yang menarik adalah huruf “syin”, seperti dalam kasus “insya Allah” sebagaimana disinggung di awal tulisan ini, ditulis latin dengan “sh”, sehingga kalimat “insya Allah” ditulis dengan “in sha Allah”. Pola penulis huruf “syin” dengan “sh” itu sebenarnya berasal dari tradisi orang yang berbahasa Inggris. Sekali lagi ini menunjukkan perbedaan tradisi dan dialog antara bahasa dimana ia diserap, sehingga tak mungkin memaksakan satu bentuk transliterasi oleh suatu tradisi bahasa kepada bahasa lain

Selain huruf-huruf tersebut ada pula dua huruf yang harus dicari penulisan yang tepat jika tak ingin terjadi simpang-siur makna gara-gara penulisan, yakni huruf “ha” yang diucapkan ringan seperti dalam kata “hajar aswad dan huruf “ha” yang diucapkan dengan berat seperti dalam kata “hijrah”. Penulisan Latin selama ini tidak membedakan keduanya, maka sangat riskan terjadi kesalahfahaman jika, misalnya, tidak dijelaskan huruf “ha” dalam kata “hajar” yang bisa berarti “batu” (dengan “ha” ringan), bisa pula berarti “berpindah” (dengan “ha” berat). Karena itulah kalangan akademisi memberi tanda garis bawah pada huruf “h” jika yang dimaksud adalah huruf Arab “ha” ringan, sehingga “hajar aswad” ditulis dengan “hajar aswad”.

Kekeliruan masih berlanjut dalam soal huruf vokal Arab. Bahasa Arab tak mengenal istilah vokal-konsonan atau huruf hidup-huruf mati. Untuk “menghidupkan” huruf bahasa Arab menggunakan tanda baca yang dikenal dengan fathah yang menghasilkan bunyinya “a”, kasrah yang menghasilkan bunyi “i”, dan dhammah yang menghasilkan bunyi “u”. Dengan demikian, bahasa Arab hanya mengenal tiga bunyi vokal, yakni “a”, “i”, dan “u”. Namun tanda baca yang menempel pada huruf-huruf tertentu membuat huruf-huruf tersebut terdengar dengan bunyi vokal yang berbeda. Contohnya huruf “kha” yang fathah terdengar berbunyi “kho” seperti dalam kata “husn al-khotimah”, sehingga ketika ditulis Latin bahasa Arab seakan punya bunyi “o”. Begitu pula dengan “dhad” dan “qaf” yang jika fathah maka terdengar mengandung bunyi “o” seperti dalam kata “dholal” dan “qolbi”. Jika kita memang ingin mentransliterasi Arab ke Latin harus benar-benar sesuai dengan struktur, lafal, dan makna Arabnya maka jelas penulisan “khotimah”, “dholal” dan “qolbi” adalah keliru, seharusnya tetap ditulis “khatimah”, “dhalal” dan “qalbi”.

Sebenarnya masih banyak lagi kekeliruan kita dalam menulis Latin kata-kata dan huruf-huruf Arab itu, jika sekiranya, sekali lagi, kita memang ingin menulisnya sesuai dengan struktur dan lafalnya karena takut maknanya berubah. Penjelasan panjang tentang kekeliruan-kekeliruan yang dipaparkan di atas bukanlah bermaksud kita harus menentukan rumusan baku transliterasi, tetapi saya ingin menunjukkan bahwa ketika suatu bahasa terserap oleh bahasa lain struktur dan pelafalannya berubah, disebabkan oleh banyak faktor, tapi makna dasarnya tak berubah. Dalam perkembangan bahasa Indonesia dari zaman ke zaman kita banyak menemukan kata-kata Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa Arab dan serapan-serapan itu mengalami perubahan struktur dan lafal tanpa mengubah makna dasarnya. Bahasa Arab pun ketika menyerap bahasa lain juga mengalami perubahan lafal dan penulisan. Misalnya pada kata “falsafah” (filsafat) yang diserap dari bahasa Yunani “philosophia”. Menurut para cendekiawan, perubahan dari “philosophia” menjadi “falsafah” (perubahan lafal “phil” menjadi “fal” disebabkan karena kesulitan orang Arab melafalkan kata tersebut dengan bunyi vokal kasrah dan lebih mudah bagi mereka untuk melafalkannya dengan bunyi vokal fathah.

Tulisan merupakan simbol-simbol yang mempresentasikan makna, atau dengan kata lain makna dihadirkan oleh tulisan. Namun sebagai simbol, tulisan bisa mewujud dalam berbagai bentuk untuk menghadirkan makna yang sama, sesuai keinginan si penulis simbol apa yang dipakai. Misalnya, ketika seseorang menulis “al-Qur`an” namun orang lain menulisnya dengan “al-Quran” atau “Qur`an atau “Quran”, toh pembaca akan mengerti bahwa yang ditunjuk adalah kitab suci umat Islam. Atau ketika seorang menulis “saya senang” bermakna sama dengan ketika ia menulis simbol “:-)”.

Di lain pihak, ada pula satu tulisan, yang katakanlah dianggap benar oleh kalangan tertentu, seperti dalam kasus ucapan “insya Allah” atau “in sha Allah”. Dalam masyarakat kita begitu masyhur pemahaman bahwa kata itu bisa bermakna apa yang direncakan memang ingin dilaksanakan si pengucap tapi tidak begitu yakin bisa terlaksana, atau justru sebagai dalih penghibur lawan bicara padahal si pengucap memang tidak ingin melaksanakan rencana (dalam masyarakat Banjar diistilahkan dengan insya Allah Banjar dan insya Allah Arab). Contoh paling jelas adalah al-Qur`an, dimana bahasa dan tulisannya tidak – dan tidak akan – berubah tapi punya banyak makna dan tafsiran yang berbeda-beda.

Pada pokoknya, makna ada di dalam ide, bukan pada tulisan beserta teknik penulisannya. Tulisan hanyalah sarana bagi makna untuk hadir dalam interaksi. Jika sebuah tulisan sudah dapat difahami dan disepakati maknanya maka tak perlu memaksakan suatu makna harus ditulis dengan simbol atau tulisan tertentu. Demikian penjelasan saya, insya Allah bermanfaat.

DIALOG: TRADISI MERAYAKAN TAHUN BARU HIJRIYAH DAN ASYURA

Perayaan Tahun Baru HijriyahBerikut adalah dialog saya dengan seorang ibu mengenai peringatan Tahun Baru Hijriyah dan Asyura beberapa waktu lalu. Beberapa poin dalam dialog ini sangat menarik. Berikut petikannya, dan bagaimana pendapat pembaca diserahkan kepada pembaca pula:

Ibu (U): Afwan, dari mana asal mula diadakannya air dan bubur asyura, dan apa keutamaanya..?

Saya (S): Banyak versinya, bu, dan bagi saya semuanya tidak dapat membuktikan kebenaran dan tidak pula dapat dibuktikan kekeliruannya. Yang jelas, ia adalah tradisi masyarakat kita.

U: Mutaassif (kasihan), tradisi dari mana akhi, dan kalau tidak bisa membuktikan kebenaran dan kesalahan mohon penjelasannya, apa boleh tradisi dicampur dengan ritual agama..?

S: Budaya tidak akan bisa dipisahkan dari agama, bu. Sebab melalui budaya-lah agama yang berasal dari langit (ghaib/abstrak) bisa hadir di bumi (hadhir/nyata). Sebagian ritual agama , dalam konteks Islam, berasal dari tradisi yang sudah ada sebelumnya, seperti shalat, puasa, haji, yang mengalami modifikasi oleh Nabi. (Kita tentu ingat bahwa Nabi Muhammad tidaklah datang membawa agama baru, tapi perbaikan dan penyempurnaan terhadap agama-agama sebelumnya yang mengalami penyimpangan). Budaya adalah sarana agama untuk mewujud dalam kehidupan, selama nilai-nilai universal (ushul) agama tidak dilanggar. Meski begitu, bersama dengan tak terpisahkannya budaya dengan agama, kita juga harus “memisahkan” keduanya pada tataran pemahaman. Bagaimanapun budaya bukanlah agama, kita harus bisa memilah mana budaya dan mana agama sehingga kita tidak dapat memaksakan satu bentuk budaya tertentu untuk menghadirkan agama kepada orang lain, karena sarana untuk menghadirkan agama bisa dengan bentuk apa saja.

U: Afwan, apakah tradisi dari firqoh yang menyimpang harus kita jadikan tradisi juga..?

S: Sebagaimana disebut sebelumnya, tradisi atau budaya adalah sarana mewujudkan agama ke ranah konkrit, jadi bisa apa saja selama tidak melanggar hal-hal ushul. Kita punya tradisi sendiri, firqoh lain juga punya tradisi, bukan berarti harus mengikuti tradisi firqoh lain, hanya kita menghormati saja. “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS.64:16)

U: Orang-orang sesat dan menyimpang semisal kelompok Batiniyah, Syi’ah Rafidhah, dan yang setipe dengan mereka. Merekalah pencetus pertama adanya berbagai perayaan dan peringatan (yang tidak ada bimbingan dalam agama) di negeri Muslimin. Seorang yang sangat Faqih bermadzhab Syafi’iy, sekaligus pakar sejarah yang berasa dari negeri Mesir, yang dikenal dengan al-Miqrizy menjelaskan dalam kitabnya “al-Khithath”:

“Peringatan tahun baru Hijriyah merupakan salah satu dari serangkaian perayaan Daulah al-‘Ubaidiyah penganut agama Bathiniyah Isma’ilyah yang sejatinya adalah Syi’ah Rafidhah sekaligus Khawarij, yang berkuasa di negeri Maroko dan Mesir. Daulah ini melakukan berbagai kejahatan terhadap para ulama, para mu’adzin, para penduduk negeri tersebut yang tidak bisa digambarkan seperti pembunuhan, mutilasi (memotong-motong bagian anggota badan), menawan orang-orang perempuan, menjarah harta, merusak milik orang lain, menghancurkan dan membakarnya. Bahkan di antara para pembesarnya ada yang mengklaim derajat Rububiyah (yakni mengaku sebagai Tuhan). Di antara para pembesar tersebut ada yang terang-terangan mencela para Nabi dan para shahabat, bahkan memerintahkan untuk menuliskan celaan-celaan terhadap para sahabat di pintu-pintu masjid!! Adapula yang memerintahkan untuk membakar mushaf-mushaf dan masjid-masjid Ahlus Sunnah!! Bahkan dijelaskan oleh Ahli Sejarahnya kaum muslimin, yaitu Syamsuddin adz-Dzahabi ad-Dimasyqiy asy-Syafi’iy rahimahullah di dalam kitab beliau “Siyar A’lamin Nubala” bahwasannya mereka memutarbalikkan Islam, menampakkan (aqidah) Rafidhah, menyembunyikan madzhab Isma’iliyyah (salah satu sekte bathiniyyah).”

Dinukilkan dari al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliky rahimahullah, menjelaskan keadaan mereka : “Para Ulama negeri al-Qairawan sepakat bahwasannya keadaan Bani ‘Ubaid adalah sama dengan keadaan orang-orang murtad dan orang –orang zindiq.” Tidak ada keraguan lagi bahwa meniru dua kelompok diatas merupakan kejelekan, kerugian serta kebinasaan bagi pelakunya. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Artinya : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka, dia termasuk dari mereka (kaum tersebut).” Seorang pecinta Sunnah dan mencintai Nabi umat ini Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia, menghormati beliau dan para shahabatnya serta menganggungkannya, akankah dia rela menjadikan kaum tersebut yang demikian perbuatan dan sepak terjangnya, yang demikian sejarah kejahatannya, sebagai suri tauladannya dan panutannya dalam mengada-adakan acara tersebut??! Kami –walhamdulillah- dalam peringatan semacam ini dan selainnya, senantiasa bersuri tauladan kepada Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para Tabi’in dan generasi awal umat ini. maka kami pun meninggalkan dan menjauhinya sebagaimana mereka menjauhinya dan tidak melakukannya, dengan harapan kami termasuk dari mereka. Kami tidak akan meniru orang-orang kafir, tidak pula meniru orang-orang sesat dan menyimpang dari kalangan al-Bathiniyah al-Isma’ilyah ar-Rafidhah al-Khorijiyah.

Bagi siapa saja yang memiliki akal dan pikiran yang bersih, perlu diketahui bahwa peristiwa hijrahnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah terjadi pada bulan Muharram, tidak pula di hari pertama bulan tersebut. Sebagaimana disebutkan oleh ahli sejarah, peristiwa hijrah tersebut terjadi pada bulan Rabi’ al-Awal. Adapun apa yang dilakukan di kalangan shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu hanya sebatas penentuan tahun Islamiyah dengan tahun Hijrah, yaitu menjadikan peristiwa sebagai tahun pertama, bukan menentukan hari Hijrahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan hari tersebut adalah hari pertama dalam setahun. dari Khutbah Asy-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Junaid.

S: Perlu bukti lebih otentik untuk menghubungkan tradisi bubur Asyura dengan firqoh tertentu, dan perlu keberanian untuk mengatakan peristiwa Hijrah Nabi tidak pada bulan Muharram. Perayaan Tahun Baru Hijriyah bagi saya saat ini nampak sebagai ekspresi masyarakat untuk “menyaingi” perayaan Tahun Baru Masehi. Jadi mari kita hormati. Insya Allah tujuannya untuk meningkatkan takwa.

U: Jazakumullahu khair atas Ilmunya.

“KRITIK”

Diskusi IlmiahSeorang agamawan kemarin mengajak saya untuk sering saling bertemu, mengobrol dan berbincang mengenai masalah-masalah agama. Saya jawab dengan cukup antusias bahwa hal itu bagus sekali dan saya pun merasa “kesepian” di kota kecil ini karena tak ada kawan diskusi.

Saya katakan bahwa saya tidak terlalu suka dengan “pengajian” tapi lebih menyukai “pengkajian” karena di dalamnya ada diskusi. Dalam diskusi ada saling komentar, saling kritik, dan saling memberi pendapat. Semula saya fikir tidak ada yang salah dengan kata-kata saya, namun rupanya ada persoalan. Sontak agamawan itu menolak kata “kritik”.

Baginya “kritik” adalah sesuatu yg negatif karena mengandung perasaan tinggi diri dan merendahkan orang lain. Dalam fikiran saya “kritik” bukanlah berarti “menyalahkan” tapi “menyelidiki” suatu wacana, mulai dari bangunan berfikirnya, perbandingannya dengan wacana lain yang berbicara hal serupa, sampai implementasi wacana di ranah praksis. Demikianlah aktivitas “kritik” seharusnya difahami. Pengertian “kritik” inilah yg difahami para ilmuwan sejak dulu kala mulai al-Farabi dan Ibnu khaldun.

Salah kaprah terhadap sesuatu memang selalu menjadi kendala kaum agamawan dalam membangun keilmuan, jika memang ingin membangun. Kesalahkaprahan ini bisa mengantar agamawan kepada pandangan agama yg eksklusif terhadap segala sesuatu. Para agamawan terlalu cepat menilai segala sesuatu. Mungkin ini karena semangat keagamaan yang hanya berorientasi pada Fiqih, dimana imaji hitam-putih, halal-haram, mendasari pola fikir. Agama pun kaku dan membisu.

Maka dari itu, penting kiranya para agamawan membuka diri terhadap hal-hal baru. Mereka harus lebih banyak melihat dan mendengar segala yang disekitar, bukan lebih banyak berbicara mengenai segala yang disekitar. Bukankah Allah sudah menasihati manusia untuk banyak melihat dan mendengar alam semesta yang di sana terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya, yakni kebenaran?!