GURU BAKRIE DAN SEMARAK WACANA KEAGAMAAN

diskusi-filsafat-islamUntuk kesekian kalinya saya mengangkat Guru Bakrie dalam coretan kecil saya. Ulama bernama lengkap KH. Ahmad Bakrie ini memang banyak mempengaruhi keberagamaan saya sebagai seorang muslim Banjar tatkala saya rajin hadir di pengajian beliau di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.

Kali ini saya teringat dengan ujaran beliau: “Wayahini kabanyakan urang pintar” (sekarang ini terlalu banyak orang pintar). Bagi mereka yang mengetahui latar belakangnya pasti akan faham bahwa apa yang disampaikan Guru Bakrie itu bisa bersifat objektif, dalam arti itu adalah kritik beliau terhadap banyaknya wacana-wacana keislaman bermunculan yang melahirkan perbedaan pendapat keagamaan sehingga menimbulkan kebingungan bagi masyarakat muslim umum soal mana yang benar dan mana yang harus diikuti.

Ujaran Guru Bakrie itu juga bisa bersifat subjektif, mengingat banyaknya serangan kritik terhadap kiprah dakwah beliau yang di satu sisi mewakili Islam tradisional dan di sisi lain suksesnya beliau menguasai Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan menggalang dana untuk pembangunan Pondok Pesantren yang beliau kelola dalam waktu yang sangat cepat melalui pengajian beliau di masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan itu.

Terlepas dari apapun latar belakang yang mendasari keluarnya ujaran itu dari Guru Bakrie, kritik beliau tersebut jelas menohok fenomena wacana keagamaan kita sekarang ini.

Zaman dulu, sejauh pengalaman saya, cuma sedikit orang yang berbicara agama. Masyarakat sadar bahwa otoritas ilmu keagamaan hanya dimiliki para ulama dan kaum cendekiawan, sebab merekalah yang memiliki modal berupa ilmu-ilmu dasar keagamaan yang mumpuni sehingga berbicara dan dimintai jawaban atas berbagai macam persoalan agama. Kokohnya otoritas ini membuat para agamawan berada pada posisi yang eksklusif dan elegan, khusus bagi para simpatisan, sedangkan bagi kalangan modern-liberal, kelompok keagamaan dianggap sebagai kelompok kelas bawah, ketinggalan zaman, diajuhi dalam pergaulan dan menjadi bahan sisnisme dan ejekan. Paling banter, para agamawan hanya dibutuhkan untuk membacakan doa saat acara hajatan dan selamatan atau imam shalat jama’ah di masjid, atau paling tidak memimpin doa pada acara-acara kenegaraan.

Namun situasi itu berbeda jauh saat ini. Hampir setiap orang berbicara agama, siapapun itu. Tak peduli sejauh mana ia sudah belajar agama. Banyak orang yang mungkin pernah belajar agama dari sekolah agama namun tidak melanjutkan hingga ke jenjang yang lebih tinggi turut mewacanakan agama. Banyak pula yang mungkin konsisten belajar agama secara otodidak, mengejar pengajian di sana-sini, berbicara soal agama. Banyak juga yang baru belajar agama atau baru memiliki hasrat belajar agama lalu kemudian membaca banyak buku dan baru mengikuti pengajian-pengajian, pun dengan semangat membicarakan agama. Bahkan tak sedikit mereka yang belajar agama hanya melalui internet dan media-media sosial juga getol berkomentar soal agama.

Banyak kalangan berpendapat bahwa fenomena maraknya wacana agama yang hadir di tengah-tengah publik karena menguatnya semangat liberalisme sehingga masyarakat patut berterimakasih kepada liberalisme atas maraknya keshalihan ini. Akan tetapi saya tidak akan menggunakan istilah tersebut, melainkan ini adalah konskuensi dari upaya kita membangun generasi pembelajar agama. Banyaknya orang yang belajar agama tentu melahirkan banyak orang-orang pintar yang berbicara mengenai agama. Banyaknya orang-orang pintar melahirkan banyak perbedaan pendapat dan wacana-wacana keagamaan, sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri.

Oleh karena itu, menurut saya, gairah wacana keagamaan ini patut dirayakan sebagai bagian dari tahapan kebangkitan keilmuan Islam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menyaksikan orang-orang mulai memperhatikan agama dan merasa penting berbicara agama. Dunia keagamaan bukan lagi dunianya para geek dan orang-orang yang terpinggirkan dari pergaulan. Bukankah Washil ibn Atha’ yang kemudian menjadi pionir madzhab teologi Islam Mu’tazilah adalah orang yang berbeda pendapat dengan Hasan Basri, gurunya yang seorang sufi?! Bukankah Abu Hasan al-Asy’ari, pendiri madzhab teologi Asy’ariyah yang kemudian berekspansi menjadi Ahlus Sunnah, adalah orang yang mengkritik gurunya al-Jubba’i yang bermadzhab Mu’tazilah?!

diskusi-ilmiahTinggal kemudian bagaimana membangun tradisi dialog antar wacana yang sehat, ilmiah dan produktif dalam suasana yang damai, silaturrahim dan penuh rasa persaudaraan, bukan sekedar adu singgungan dan sarkasme, hujatan dan bully di media-media sosial yang bahkan para ulama yang telah jauh berpengalaman dalam keilmuan pun jadi korban kekerasan ketikan keypad. Satu wacana memang akan menjadi antitesa bagi wacana lain, tapi jika para pewacana membuka diri dan “membunuh otoritas”-nya terhadap wacana-wacananya itu yang lahir adalah sintesa yang indah.

Saya kira ini adalah tugas pemerintah melalui program-program pendidikan dan masyarakat melalui ormas-ormas keagamaan untuk membangun semacam ruang publik (public sphere) yang adil dan sehat, ilmiah dan produktif dalam rangka mengakomodir wacana-wacana keagamaan yang muncul, sehingga kebangkitan keilmuan Islam sebagaimana yang terlihat benar-benar bergerak maju, bukan jalan di tempat atau malah mundur.

“Urang-urang pintar” yang disebut Guru Bakrie memang akan merisaukan jika hanya bisa mengkritik dan menyinggung apalagi mem-bully, tapi justru akan memberi manfaat bagi umat jika mereka mau saling berdiskusi dan berdialog secara langsung dan terbuka.

Sukamara, 14/12/2016

Iklan

KONSTELASI MUSIK INDONESIA

kla-project-2Saya rindu musik Indonesia tahun 90-an dan awal 2000-an, bukan karena eksklusivisme generasi, tapi memang ini romantisme. Sekitar tahun 95 atau 96 saya mendengarkan lagu Kirana Dewa 19 yang terdengar keren di telinga saya. Sejak saat itu saya mulai menyukai lagu-lagu Indonesia. Maklum, ABG. Selain Dewa 19 saya pun menikmati Kla Project, Nugie, dan mungkin sedikit Java Jive, serta yg paling dekat, Padi.

Saya terpesona dengan “Saujana”, “Sudi Turun ke Bumi”, “Burung Gereja”, “Pelukis Malam”, sampai “Pesawatku”. Kesemua lagu itu punya aransemen musik yang manis disertai dengan lirik yang puitis nan membuai. Memang demikianlah musik Indonesia tahun 90-an dan awal 2000-an, ia bukan cuma soal nada tapi juga keindahan bahasa. Lagu Pelukis Malam oleh Nugie sangatlah memukau: “Binatang malam riuh mengisi sunyi damai, aku berdiri dengan takjub. Oh, langit malam payungi gugusan bintang kecil, aku berbisik mengucap doa. Dapatkah aku melukis dikau. Wahai malam panjang, tuntunlah penaku, melukis wajahmu, di dalam kalbu.” Membaca lirik ini seketika saya terbawa dengan keindahan malam dan kekaguman akan Sang Pencipta. Nugie memang musisi yang punya imajinasi yang luas, sehingga hanya karena melihat sebuah pesawat ia ingin minta antarkan ke bulan.

Nilai sastra dalam lirik lagu nampaknya kini mulai menghilang seiring dgn tergoyangnya industri musik disebabkan oleh makin canggih dan bebasnya teknologi digital dan informasi. Membuat album musik kini justru hanya bikin rugi, sebab orang cuma perlu tombol “download” untuk menikmati musik, sehingga toko kaset kini berubah jadi tempat penitipan bayi. Para musisi dan produser musik mencoba menggaet situs web untuk mengunci tombol unduh dan berkolaborasi dengan provider kartu SIM untuk memproduksi nada tunggu panggilan telepon, tapi semua tidak berpengaruh signifikan bagi nilai produksi. Karena itu, musisi harus membatasi kreativitasnya dengan permintaan pasar. Idealisme seni pun secara perlahan terkikis. Sebagian musisi yang tidak cukup sabar nampak lebih memilih menjadi seorang politisi daripada berkubang di dunia yang semakin sepi.

Pasar saat ini menginginkan jenis musik sederhana dan riang dibarengi dengan lirik yang lugas dan tidak membuat orang berpikir dan berusaha meresapi makna sastrawi di dalamnya. Mungkin tuntutan hidup yang begitu tinggi dengan berbagai persoalan sosial yang sudah semakin rumit sudah begitu melelahkan hati dan pikiran. Karena itulah musik yang memberi gairah pemberontakan terhadap segala kepayahan itu lebih memikat. Di sinilah jenis musik seperti dangdut koplo mendapatkan momentum. Dulu dangdut dengan berbagai sub-jenisnya dianggap sebagai representasi masyarakat kelas bawah, tapi kini hampir setiap orang turut merayakan kejayaan dangdut koplo, sebagai wujud bahwa setiap lapisan masyarakat merasakan kegerahan hidup yang serupa, bahkan mereka yang berada dalam pemerintahan mengungkapkan hasrat untuk keluar dari ribetnya menjalani hari-hari yang segalanya seremonial dengan berjoget.

Namun selalu akan ada harapan bagi mereka yang ingin menikmati dan mengekspresikan diri dengan musik-musik berinstrumen indah dengan lirik-lirik puitis, meski ini hanya akan menjadi, meminjam istilah yang disematkan kepada dunia mistik atau tasawuf dalam agama, “the language of silent”, bahasa kesunyian.

MIMBAR DAN PODIUM

mimbar-podiumSuatu saat saya mengunjungi paman saya di Banjarmasin. Saat waktu shalat maghrib tiba paman mengajak saya shalat di masjid dekat rumah beliau. Setelah shalat qabliyah iqamah pun dilantunkan sang muadzin. Setelah iqamah tak ada satu pun warga sekitar masjid yang hadir maju untuk mengimami shalat (meski tak ada ketentuannya dalam teks sumber agama saya pikir ini tata moral yang baik dalam menunjuk imam dengan mendahulukan warga sekitar masjid ketika kita shalat di masjid yang bukan di lingkungan tempat tinggal kita). Karena tak ada yang maju paman saya meminta saya untuk menjadi imam. Namun sebelum memulai shalat ada satu hal mengganjal dalam pikiran saya: Nanti jika sudah selesai shalat saya membaca wirid dengan keras apa tidak, ya? Tapi setelah melihat mimbar yang ada di masjid tersebut masalah saya pun terpecahkan.

Mimbar adalah tempat khatib menyampaikan khutbah jum’at atau khutbah idul fitri dan idul adha. Penting untuk dicatat bahwa biasanya saat memberikan ceramah agama yang bukan termasuk ritual ibadah, baik ceramah rutin maupun ceramah di acara-acara besar Islam, sang penceramah atau pembicara (khatib) tidaklah menyampaikan ceramahnya di mimbar khutbah, tetapi di podium kecil atau tanpa disediakan tempat khusus sama sekali. Dalam fiqih, sejauh yang saya pelajari, bentuk detail mimbar tidak dijelaskan secara rinci, melainkan hanya disebut “tempat yang tinggi” agar para jama’ah dapat melihat sang khatib. Bentuk-bentuk mimbar yang ada di kebanyakan masjid di daerah Kalimantan Selatan yang kelihatan sekali unsur budaya melayu-banjarnya (sebagian bercampur unsur jawa) menegaskan tidak dirincikannya bentuk mimbar khutbah.

Adalah seorang ulama kharismatik asal Gambut, Kalimantan Selatan, KH. Ahmad Bakrie, yang menyampaikan pernyataan menarik soal mimbar ini. Masyhur dengan panggilan akrab “Guru Bakrie”, beliau mengadakan pengajian rutin berisi materi fiqih, tauhid, hingga akhlak di masjid raya Sabilal Muhtadin, masjid kebanggaan masyarakat muslim Banjar dan ikon Kalimantan Selatan (pengajian ini menjadi signifikan bagi eksistensi Guru Bakrie karena melalui pengajian inilah kemasyhuran beliau meningkat). Pengajian rutin yang dilaksanakan setiap Jum’at malam antara Maghrib dan Isya itu selalu dihadiri ribuan jama’ah yang datang dari berbagai penjuru Kalimantan, bahkan pula dari luar pulau itu. Guru Bakrie juga adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar yang berhasil menarik hati para pelajar dan orangtua untuk belajar Islam di sana seiring dengan populernya pengajian rutin beliau di masjid raya. Pengajian beliau di Sabilal Muhtadin yang semakin besar membuat beliau sempat diangkat ketua ta’mir masjid terbesar di kota Banjarmasin itu. Guru Bakrie juga terbilang sebagai murid KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul karena secara rutin beliau datang ke pengajian salah satu ulama kharismatik terbesar di Indonesia itu. Saya sering melihat mobil Guru Bakrie yang berplat KH 1 AB terparkir di parkiran Mushalla Ar-Raudhah, tempat pengajian Guru Sekumpul.

Guru Bakrie membedakan antara “mimbar” dengan “podium” dari segi bentuk keduanya. Bentuk mimbar terbuka di bagian depan dan tertutup di bagian samping dan belakang sehingga khatib menaikinya lewat depan, sedangkan bentuk podium terbuka di bagian belakang dan tertutup di bagian samping dan depan sehingga khatib naik lewat belakang. Teks sumber agama menyebut bahwa khatib berkhutbah di atas mimbar (dari kata Arab “minbar”, huruf “n” berubah menjadi “m” dalam ejaan latin karena kata tersebut terkena hukum tajwid iqlab), bukan di atas podium. Dengan demikian, menurut beliau, khutbah di atas tempat yang tidak terbuka di bagian depan tidaklah sah. “Fatwa” tersebut cukup berpengaruh luas di kalangan muslim Banjar tradisional, sampai-sampai masjid raya Sabilal Muhtadin, yang ibadah-ibadah ritual di sana dilaksanakan dengan cara tradisional, mengganti tempat khutbah khatib semula yang tertutup di bagian depan dengan tempat khutbah sesuai arahan Guru Bakrie selaku ketua ta’mir masjid.

Saya belum mendapatkan informasi ataupun melacak sumber rujukan, baik dari al-Qur’an, Hadits, maupun khazanah literatur klasik yang menjadi sumber keilmuan muslim tradisional di Indonesia, bagi Guru Bakrie dalam membawa persoalan bentuk tempat khutbah ke dalam hukum Fiqih. Argumentasi yang sering disampaikan kepada jama’ah adalah bahwa tuntunan agama menyebut tempat khatib berkhutbah adalah “mimbar”, bukan “podium”, seperti dalam hadits-hadits Nabi Saw dan bilal mengucapkan “fa idza sha’ida al-khathib al-minbar” (maka apabila khathib naik ke mimbar), bukan “fa idza sha’ida al-khatib al-podium” (maka apabila khathib naik ke podium). “Redaksinya ‘minbar’, bukan ‘podium'”, tegas Guru Bakrie di beberapa kesempatan. Bagi sebagian orang argumentasi ini mirip seperti mengatakan: Al-Qur`an menyebut agar perempuan “yudnina ‘alayhinna min jalabibihinna” (mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh), bukan “yudnina ‘alayhinna min kakambanihinna” (mengulurkan kakamban mereka ke seluruh tubuh) – kakamban adalah sebutan orang Banjar untuk penutup kepala perempuan yang memperlihatkan bagian depan rambut, wajah dan leher.

Akan tetapi, jika melihat konteksnya mudah bagi kita menjelaskan bahwa fatwa tersebut lahir terkait dengan tekanan kalangan kaum muslim modernis terhadap eksistensi pengajian Guru Bakrie yang sedang naik daun saat itu. Perseteruan dan persaingan kaum muslim tradisional dan kaum muslim modernis, baik dalam wacana maupun dalam hubungan sosial, sudah mengisi sejarah masyarakat Islam di Nusantara. Kita patut bersyukur perseteruan tersebut tak pernah mengarah kepada tindakan anarkis karena kedua kubu nampaknya memiliki kesadaran kebangsaan yang kokoh bahkan hingga sekarang dan nanti. Namun bagi Guru Bakrie serangan-serangan bertubi-tubi itu nampaknya dirasa terlalu berat, sehingga memaksa beliau untuk bereaksi. Untuk itu beliau membalas serangan lawan yang nampaknya cukup ampuh yakni fatwa soal bentuk tempat khutbah tadi dan pernyataan pragmatis “kita buktikan mana yang paling banyak umatnya”. Balasan terakhir tadi sepertinya untuk menjawab kritik terhadap isi ceramah Guru Bakrie yang sering berbau “carubu” (kata bahasa Banjar yang berarti cabul). Perlu kiranya disinggung di sini bahwa tantangan terhadap Guru Bakrie tak hanya datang dari kalangan muslim modernis, melainkan sebagian pemuka muslim tradisional, karena melalui pengajian rutin di masjid raya Sabilal Muhtadin beliau berhasil mengumpulkan infaq dengan jumlah yang sangat besar untuk membangun pesantren asuhan beliau yang terbukti berkembang sangat pesat.

Serangan balik yang disebut terakhir tadi nampaknya juga ditujukan kepada sebagian kalangan tradisional yang menganggap dakwah Guru Bakrie yang dianggap”carubu”. Sejauh ingatan saya, dua serangan balasan Guru Bakrie di atas adalah yang paling membekas bagi kaum tradisional dan keduanya itu pula yang membuat pengajian beliau terus eksis hingga Guru Bakrie meninggal di usia yang relatif masih muda (saya turut menyesali kepergian beliau yang terlalu cepat). Karena fatwa “mimbar-podium” saya pandang begitu membekas di kalangan muslim Banjar, dimana hal itu banyak didengungkan kaum muslim tradisional untuk menunjukkan sentimen terhadap kaum modernis, tak keliru kiranya jika saya kemudian berusaha menyesuaikan diri dengan tradisi ibadah ritual di masjid-masjid di Banjarmasin. Maka ketika sebelum memulai shalat berjama’ah saya melihat terlebih dahulu tempat khatib berkhutbah yang tersedia dan ketika mengetahui bahwa tempat itu terbuka di bagian depan tidak ragulah saya memimpin pembacaan wirid panjang dengan keras selepas shalat maghrib waktu itu. Agama selalu melahirkan simbol dan simbol menunjukkan identitas. Wallahu a’lam.

SENI KASIDAH

Seni Kasidah 1Seni kasidah bisa saja dirunut sampai kepada masa sebelum Islam. Dalam berbagai referensi sejarah dipaparkan bahwa suku bangsa Arab Badui, yang disinyalir asal muasal masyarakat Arab-Islam, adalah bangsa yang sangat mengagungkan bahasanya, karena memang hampir tak ada produk budaya lain yang dimiliki masyarakat yang secara peradaban sangat jauh tertinggal itu. Pengagungan mereka terhadap bahasa Arab, yang memang begitu kaya akan perbendaharaan kata dan gramatika, dituangkan dalam seni sastra dan kaligrafi. Hal ini berbeda dengan budaya bangsa-bangsa yang berperadaban lebih maju seperti Yunani dan Romawi yang lebih senang merayakan seni dalam bentuk seni patung dan lukisan.[1] Karena orang-orang Arab cenderung mengekspresikan keindahan rasa dan karsa mereka dengan berkata-kata, maka dapat kita fahami bahwa mudah bagi Nabi Muhammad Saw yang untuk berdakwah melarang menyembah berhala, sebab selain bernilai syirk pengagungan patung-patung itu tidak sesuai dengan budaya bangsa Arab pada saat itu. Berbeda dengan larangan perbudakan, poligami, dan minuman keras yang memang sudah mengakar-bikar dalam budaya Arab sehingga Nabi harus menghukuminya secara bertahap (tadrijiyyan).

Seni sastra Arab yang mendapat tempat yang sangat tinggi dalam budaya masyarakat Arab melahirkan sebuah tradisi yang sangat unik. Setiap tahun, khususnya saat musim haji, di jantung kota Mekkah dilaksanakan kompetisi membuat dan membaca puisi. Kompetisi tersebut diikuti oleh banyak penyair dari berbagai penjuru negeri. Puisi-puisi yang dinilai paling indah dipajang di tembok-tembok Ka’bah, sebuah situs sejarah berupa bangunan persegi empat yang dibangun oleh Ibrahim berabad-abad sebelumnya yang dikunjungi para turis dari berbagai negeri untuk beribadah haji. Selain Ka’bah karya-karya sastra para pujangga juga dipamerkan di sebuah pasar seni yang juga menjadi pusat perdagangan masyarakat Mekkah, yang dikenal dengan pasar ‘Ukaz, tempat yang sering dikunjungi Nabi untuk bersantai.

Menurut para ahli sejarah, tradisi sastra yang begitu kental berimplikasi sosio-politis dalam struktur masyarakat Arab. Para pujangga mendapat tempat yang tinggi dalam strata sosial, semakin bagus dan tinggi nilai karya sastra seseorang semakin tinggi pula derajatnya. Hal ini menjelaskan mengapa ketika Muhammad Saw, seorang yatim-piatu yang dikenal berasal dari keluarga rendah karena tak seorang pun nenek moyangnya dikenal sebagai sastrawan, hadir menyampaikan al-Qur`an yang mengandung nilai sastra sangat tinggi sehingga tak ada karya seorang pujangga pun mampu menyaingi ketinggian nilai dan kedalaman maknanya, ditolak ajaran-ajarannya oleh sebagian besar petinggi masyarakat Mekkah. Kesastraan al-Qur`an dirasa terlalu maju bagi masyarakat ketika itu dan para petinggi merasa terancam kekuasaan dan kelas sosialnya oleh Muhammad Saw – ini mengajarkan kita bahwa sesuatu ditolak bisa jadi bukan karena ia keliru tapi karena terlalu maju bagi orang-orang pada periode tertentu.

Kehadiran al-Qur`an yang diturunkan Tuhan “bi lisanin ‘arabiyyin mubin” (dengan bahasa Arab yang jelas), dengan demikian, melestarikan tradisi dan budaya Arab. Lambat laun para pujangga mulai tertarik dengan keindahan sastra al-Qur`an, sehingga para penyair itu pun terpengaruh oleh keindahan sastra al-Qur`an.[2] Tradisi ini terus hidup di masa dakwah Islam oleh Nabi Muhammad, sehingga sastra Arab menjadi bagian dari budaya Arab-Islam. Bersamaan dengan penyebaran Islam setelah Rasul wafat budaya Arab-Islam juga dibawa ke wilayah-wilayah taklukan. Uniknya, budaya Arab-Islam tidaklah beresistensi terhadap budaya-budaya baru yang ditemui, melainkan justru berasimilasi dengan budaya-budaya yang ditemuinya di daerah-daerah taklukan, sehingga pengaruh-pengaruh budaya non-Arab sangat terasa dalam sya’ir-sya’ir atau puisi-puisi Arab.

Dr. Fadlil Munawwar Manshur, seorang dosen Jurusan Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya UGM melakukan sebuah kajian sangat menarik mengenai sejarah perkembangan Kesusastraan Arab.[3] Puisi-puisi Arab pra-Islam lebih banyak berisikan kisah-kisah kepahlawanan dan tuntunan moral, namun di zaman Islam, puisi-puisi tersebut berubah genre menjadi puisi-puisi cinta dan keindahan. Di zaman pemerintahan Bani Umayyah, pemerintahan otokratik yang tentunya melakukan berbagai cara untuk melanggengkan kekuasaannya, puisi-puisi Arab lebih cenderung mengandung unsur-unsur politis dan membesar-besarkan para bangsawan, sesuatu yang dibenci oleh orang-orang ‘Abbasiyah yang akhirnya mengambil-alih kekuasaan Bani Umayyah. Masa Bani ‘Abbas kemudian mengembalikan nuansa cinta yang dipadukan dengan kelembutan dan keindahan perasaan dalam puisi-puisi Arab-Islam. Hal ini bisa jadi karena pengaruh mistisisme yang begitu kuat dalam tradisi Persia yang menjadi budaya dasar pemerintahan Bani ‘Abbas. Di masa inilah kita mengenal seorang penyair terkenal yang sya’ir-sya’irnya kita lantunkan hingga saat ini, yaitu Abu Nawas. Meski beberapa ahli sastra Arab mengklaim bahwa Abu Nawas adalah orang yang pernah senang bermabuk-mabukan namun sya’ir ilahilas-nya menginspirasi banyak umat Islam untuk rajin memohon ampunan Tuhan. Setelah masa itu, terlebih setelah sastra di zaman Bani Umayyah di Spanyol, sya’ir-sya’ir Arab-Islam semakin berkembang dan mempengaruhi karya-karya sastra Eropa. Dr. Fadlil Munawwar Manshur menyebut bahwa pujangga-pujangga Eropa besar seperti Strassburg dari Jerman dan Shakespeare, penulis kisah Romeo and Juliet, sangat terpengaruh dengan kisah Layla-Majnun.

Uraian di atas pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa konteks atau kondisi dan situasi di mana karya sastra Arab-Islam hadir sangat mempengaruhi karya-karya puisi-puisi para pujangga muslim. Sebagaimana disebutkan, pengaruh-pengaruh itu begitu terlihat dalam perubahan genre puisi-puisi Arab sejak era pra-Islam hingga saat ini. Seiring dengan perjalanan waktu dan semakin besarnya jumlah umat Islam di berbagai tempat di dunia, sya’ir-sya’ir Arab berubah bersamaan dengan pengaruh-pengaruh kontekstual yang melingkupinya, tak hanya dalam genre tapi juga bentuk. Hal ini tentunya sangat terlihat di wilayah Nusantara berabad-abad kemudian. Islam yang membawa budaya Arab yang didalamnya termasuk tradisi sastra Arab mengalami polarisasi dengan budaya Nusantara. Hal ini bisa kita lihat dalam perkembangan sya’ir-sya’ir Arab-Islam dalam Maulid,[4] sebuah karya epik yang menceritakan kehidupan Nabi Muhammad Saw yang dibacakan saat peringatan hari kelahiran Sang Rasul atau kapan pun umat Islam hendaki. Meski sya’ir-sya’ir dan untaian maulid itu berbahasa Arab namun di Nusantara ia dilantunkan dengan lagu yang sangat bernuansa melayu dan jawi, bahkan dalam perkembangan terbaru umat Islam di Nusantara membuat sya’ir-sya’ir sendiri berbahasa Indonesia yang kemudian dimasukkan dalam prosesi pembacaan maulid. Dengan demikian, melalui maulid dan sya’ir-sya’ir Arab yang ada di dalamnya kita dapat melihat wujud terbentuknya budaya Nusantara yang merupakan perpaduan antara budaya Arab dengan budaya yang ada di wilayah Nusantara.

Tidak hanya maulid, di bumi Nusantara sya’ir-sya’ir Arab juga dilantunkan dengan berbagai macam cara, diantaranya dalam bentuk Kasidah dan Hadrah. Kasidah (Arab: qashidah) secara harfiah sebenarnya berarti “puisi” namun di negeri kita kasidah adalah lagu bernuansa islami yang didendangkan seperti lagu-lagu umum lainnya, berisikan nasihat-nasihat keagamaan dan jauh sekali dari bentuk puisi. Perubahan makna kata tersebut kembali menunjukkan percampuran budaya antara Arab dengan budaya lokal. Proses asimilasi dan sekaligus transformasi budaya tersebut sangat terlihat dalam berbagai hal lain dalam kasidah: Dari segi tema (genre) diangkat dari latar belakang kehidupan sehari-hari; dari segi lingual, yakni bahasa yang digunakan lebih banyak bahasa Indonesia dan daerah; dari segi musikal yang merupakan perpaduan antara lagu bernuansa Arab dengan lagu bernuansa melayu; dari segi visual, yakni pakaian yang dikenakan grup kasidah yang merupakan perpaduan antara pakaian Arab dengan pakaian Nusantara; dan lain-lain, bahkan kasidah juga perwujudan percampuran budaya Arab-Nusantara dengan budaya modern, terlihat dari penggunaan alat-alat musik modern seperti gitar, keyboard dan biola. Adapun seni Hadrah tak diragukan lagi adalah budaya lokal yang diisi dengan sya’ir-sya’ir Arab. Penampilan tari-tarian, terkadang menampilkan laki-laki dan perempuan yang bercampur-baur, mengiringi lantunan sya’ir-sya’ir Arab yang berisikan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad, menunjukkan asimilasi budaya Arab dan Nusantara yang kali ini terlihat dari segi nilai-nilai.

Seni Kasidah 2Akhirnya, seni kasidah yang merupakan perwujudan budaya Islam Nusantara yang patut dirayakan. Selain ekspresi seni, pertunjukan seni kasidah juga masih menjadi tontonan menarik untuk dinikmati di tengah budaya modern yang semakin kehilangan nilai relijius. Seni kasidah juga dapat menjadi komoditi pariwisata yang dapat terus mengangkat budaya Nusantara di mata dunia.

(Ditulis untuk menyambut Festival Seni Qasidah IV Tingkat Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, 1 – 3 September 2015)

Catatan-catatan:

[1] Lihat gambaran masyarakat pra-Islam dalam Philip K. Hitti, History of the Arabs, diterjemahkan dari judul asli History of the Arabs: From the Earliest time to the Present oleh R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010), cet. I, h. 108-112.

[2] Amin al-Khuly dan Nasr Hamid Abu Zayd, Metode Tafsir Sastra, Diterjemahkan oleh Khairon Nahdiyyin dari judul asli Naqdul-Khithab ad-Diniy dan Manahij al-Tajdid fi al-Nahwi wa al-Balaghah wa-al-Tafsir wa al-Adab, (Yogyakarta: Adab Press Fakultas Adab lAIN Sunan Kalijaga, 2004), h. 87.

[3] Dr. Fadlil Munawwar Manshur, Sejarah Perkembangan Kesusatraan Arab Kalsik dan Modern, makalah yang disampaikan dalam Seminar Internasional Bahasa Arab dan Sastra Islam: Persoalan Metode dan Perkembangannya, Bandung tanggal 23-25 Agustus 2007 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

[4] Mengenai sejarah Maulid Nabi bisa dilihat dalam karya Ibn Katsir berjudul Kitab al-Tarikh.