GURU BAKRIE DAN SEMARAK WACANA KEAGAMAAN

diskusi-filsafat-islamUntuk kesekian kalinya saya mengangkat Guru Bakrie dalam coretan kecil saya. Ulama bernama lengkap KH. Ahmad Bakrie ini memang banyak mempengaruhi keberagamaan saya sebagai seorang muslim Banjar tatkala saya rajin hadir di pengajian beliau di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.

Kali ini saya teringat dengan ujaran beliau: “Wayahini kabanyakan urang pintar” (sekarang ini terlalu banyak orang pintar). Bagi mereka yang mengetahui latar belakangnya pasti akan faham bahwa apa yang disampaikan Guru Bakrie itu bisa bersifat objektif, dalam arti itu adalah kritik beliau terhadap banyaknya wacana-wacana keislaman bermunculan yang melahirkan perbedaan pendapat keagamaan sehingga menimbulkan kebingungan bagi masyarakat muslim umum soal mana yang benar dan mana yang harus diikuti.

Ujaran Guru Bakrie itu juga bisa bersifat subjektif, mengingat banyaknya serangan kritik terhadap kiprah dakwah beliau yang di satu sisi mewakili Islam tradisional dan di sisi lain suksesnya beliau menguasai Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan menggalang dana untuk pembangunan Pondok Pesantren yang beliau kelola dalam waktu yang sangat cepat melalui pengajian beliau di masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan itu.

Terlepas dari apapun latar belakang yang mendasari keluarnya ujaran itu dari Guru Bakrie, kritik beliau tersebut jelas menohok fenomena wacana keagamaan kita sekarang ini.

Zaman dulu, sejauh pengalaman saya, cuma sedikit orang yang berbicara agama. Masyarakat sadar bahwa otoritas ilmu keagamaan hanya dimiliki para ulama dan kaum cendekiawan, sebab merekalah yang memiliki modal berupa ilmu-ilmu dasar keagamaan yang mumpuni sehingga berbicara dan dimintai jawaban atas berbagai macam persoalan agama. Kokohnya otoritas ini membuat para agamawan berada pada posisi yang eksklusif dan elegan, khusus bagi para simpatisan, sedangkan bagi kalangan modern-liberal, kelompok keagamaan dianggap sebagai kelompok kelas bawah, ketinggalan zaman, diajuhi dalam pergaulan dan menjadi bahan sisnisme dan ejekan. Paling banter, para agamawan hanya dibutuhkan untuk membacakan doa saat acara hajatan dan selamatan atau imam shalat jama’ah di masjid, atau paling tidak memimpin doa pada acara-acara kenegaraan.

Namun situasi itu berbeda jauh saat ini. Hampir setiap orang berbicara agama, siapapun itu. Tak peduli sejauh mana ia sudah belajar agama. Banyak orang yang mungkin pernah belajar agama dari sekolah agama namun tidak melanjutkan hingga ke jenjang yang lebih tinggi turut mewacanakan agama. Banyak pula yang mungkin konsisten belajar agama secara otodidak, mengejar pengajian di sana-sini, berbicara soal agama. Banyak juga yang baru belajar agama atau baru memiliki hasrat belajar agama lalu kemudian membaca banyak buku dan baru mengikuti pengajian-pengajian, pun dengan semangat membicarakan agama. Bahkan tak sedikit mereka yang belajar agama hanya melalui internet dan media-media sosial juga getol berkomentar soal agama.

Banyak kalangan berpendapat bahwa fenomena maraknya wacana agama yang hadir di tengah-tengah publik karena menguatnya semangat liberalisme sehingga masyarakat patut berterimakasih kepada liberalisme atas maraknya keshalihan ini. Akan tetapi saya tidak akan menggunakan istilah tersebut, melainkan ini adalah konskuensi dari upaya kita membangun generasi pembelajar agama. Banyaknya orang yang belajar agama tentu melahirkan banyak orang-orang pintar yang berbicara mengenai agama. Banyaknya orang-orang pintar melahirkan banyak perbedaan pendapat dan wacana-wacana keagamaan, sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri.

Oleh karena itu, menurut saya, gairah wacana keagamaan ini patut dirayakan sebagai bagian dari tahapan kebangkitan keilmuan Islam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menyaksikan orang-orang mulai memperhatikan agama dan merasa penting berbicara agama. Dunia keagamaan bukan lagi dunianya para geek dan orang-orang yang terpinggirkan dari pergaulan. Bukankah Washil ibn Atha’ yang kemudian menjadi pionir madzhab teologi Islam Mu’tazilah adalah orang yang berbeda pendapat dengan Hasan Basri, gurunya yang seorang sufi?! Bukankah Abu Hasan al-Asy’ari, pendiri madzhab teologi Asy’ariyah yang kemudian berekspansi menjadi Ahlus Sunnah, adalah orang yang mengkritik gurunya al-Jubba’i yang bermadzhab Mu’tazilah?!

diskusi-ilmiahTinggal kemudian bagaimana membangun tradisi dialog antar wacana yang sehat, ilmiah dan produktif dalam suasana yang damai, silaturrahim dan penuh rasa persaudaraan, bukan sekedar adu singgungan dan sarkasme, hujatan dan bully di media-media sosial yang bahkan para ulama yang telah jauh berpengalaman dalam keilmuan pun jadi korban kekerasan ketikan keypad. Satu wacana memang akan menjadi antitesa bagi wacana lain, tapi jika para pewacana membuka diri dan “membunuh otoritas”-nya terhadap wacana-wacananya itu yang lahir adalah sintesa yang indah.

Saya kira ini adalah tugas pemerintah melalui program-program pendidikan dan masyarakat melalui ormas-ormas keagamaan untuk membangun semacam ruang publik (public sphere) yang adil dan sehat, ilmiah dan produktif dalam rangka mengakomodir wacana-wacana keagamaan yang muncul, sehingga kebangkitan keilmuan Islam sebagaimana yang terlihat benar-benar bergerak maju, bukan jalan di tempat atau malah mundur.

“Urang-urang pintar” yang disebut Guru Bakrie memang akan merisaukan jika hanya bisa mengkritik dan menyinggung apalagi mem-bully, tapi justru akan memberi manfaat bagi umat jika mereka mau saling berdiskusi dan berdialog secara langsung dan terbuka.

Sukamara, 14/12/2016

Iklan

SEMAKIN TEBAL IMAN SEMAKIN MUDAH MENERIMA PERBEDAAN

BerimanSebagaimana setiap tahunnya, mahasiswa dan mahasiswi yang akan mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) diberikan pembekalan terlebih dahulu selama beberapa hari. Saya yang saat itu turut mendaftarkan diri mengikuti KKN ikut menyimak. Setelah pihak rektorat memberikan materi pembekalan seharian penuh, diberikan kesempatan kepada mahasiswa-mahasiswi peserta KKN untuk bertanya atau berkomentar mengenai kegiatan wajib akademik itu. Ada komentar menarik dari seorang mahasiswi yang berbicara di depan khalayak. Ia mengenakan baju gamis dan kerudung terurai panjang ciri khas perempuan anggota gerakan neo-fundamentalisme Islam dan ia adalah anggota organisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Mahasiswi itu dengan tegas mengutarakan ketidaksetujuannya jika di lokasi KKN nanti mahasiswa dan mahasiswi ditempatkan serumah sebagaimana KKN-KKN sebelumnya, sebab penempatan seperti itu, menurutnya, berpotensi merusak akhlak dan bertentangan dengan syari’at Islam. Setelah mahasiswi itu, majulah seorang mahasiswa yang menyampaikan keberatannya terhadap pernyataan mahasiswi tadi. Ia mengatakan bahwa penempatan mahasiswa dan mahasiswi serumah jangan hanya dilihat dari kacamata syari’at secara lahiriah. Harus dipertimbangkan apakah pihak desa yang menjadi lokasi KKN bisa menyediakan dua buah tempat tinggal agar mahasiswa dan mahasiswi terpisah dan ternyata memang tidak setiap desa bisa memenuhi kehendak tersebut. Selain itu, ini argumennya yang paling menarik, jika mahasiswa dan mahasiswi cukup kuat imannya meski tidur di satu kamar sekalipun tak akan melakukan perbuatan tak senonoh, sebaliknya jika iman tidak kuat, meski berjauhan tempat tinggal mahasiswa dan mahasiswi yang terbakar nafsu birahi akan mencari cara agar dapat berbuat asusila. Sontak kegiatan pembekalan KKN jadi arena adu argumentasi.

Argumen mahasiswa yang membantah mahasiswi tadi memang layak dikritik, sebab perbuatan maksiat bisa saja terjadi bukan karena ada niat melainkan karena ada kesempatan, seperti cerita hikmah terkenal tentang seorang ahli ibadat bernama Barsiso yang amal ibadahnya tak tertandingi oleh manusia manapun di zamannya namun karena godaan syaithan ia akhirnya berzina dengan perempuan cantik yang berobat padanya. Akan tetapi, argumen mahasiswa itu, bahwa iman yang kuat akan meruntuhkan segala godaan untuk berbuat keburukan meski kesempatan sudah begitu terbuka di depan mata, juga tak dapat ditampik begitu saja. Bisa dikatakan, tumpukan amal ibadah Barsiso nampaknya tidak membuat imannya tebal.

Dewasa ini banyak orang atau kelompok mengaitkan perbedaan pemahaman agama dengan kemaksiatan. Orang atau kelompok lain yang tak sependapat dianggap telah berdosa, bahkan tak jarang pula memvonis mereka yang di seberang itu kafir atau tidak beriman. Vonis semacam ini jelas telah keliru menempatkan persoalan pada tempatnya. Hukum agama atau syari’at dalam arti sempit adalah legal ethic, atau dalam bahasa lugasnya, alat untuk mewujudkan ajaran moral yang ideal secara nyata atau konkrit. Karena itu, objek hukum adalah segala perbuatan yang bersifat konkrit. Pemahaman agama tentu saja bukan sesuatu yang bersifat konkrit sehingga tak bisa dihukumi secara syar’i. Adapun dalam hal teologis sulit kiranya, jika tidak dikatakan tidak mungkin, bagi manusia menjustifikasi apakah seseorang atau kelompok tergolong beriman ataukah kafir, sebab bagaimanapun justifikasi itu berada di luar wewenang manusia (QS. Al-Najm: 32), sehingga apapun vonis yang ditetapkan hanyalah sekedar perkiraan belaka dan perkiraan biasanya lebih didasarkan oleh hawa nafsu. Jikapun aliran-aliran teologi Islam dalam sejarah memperbincangkan keberimanan dan kekafiran seseorang, vonis itu hanyalah instrumen demi mendapatkan legitimasi bagi aliran yang dianut. Tak dapat kita enyahkan bahwa sejarah perkembangan teologi Islam adalah sejarah perdebatan-perdebatan dan kontestasi politik.

Vonis terhadap orang atau kelompok lain yang berbeda faham itu didasarkan pada pendirian bahwa keyakinan sendiri adalah yang paling benar, atau yang masyhur disebut truth claim. Di satu sisi pembenaran terhadap keyakinan memang diperlukan, sebab keyakinan (iman) memang perlu pembenaran (tashdiq), akan tetapi mengatakan bahwa orang atau kelompok lain salah adalah sesuatu yang lain lagi. Bayangkan jika masing-masing orang atau kelompok saling menganggap dirinya dan kelompoknya benar dan yang lain salah, entah jadi apa nantinya kehidupan bermasyarakat ini. Bukankah sikap ini yang dikecam Tuhan sebagai pemecah-belah umat? (QS. Ar-Rum: 31-32)

Klaim bahwa pendapat sendiri adalah benar seharusnya membangun kepercayaan diri di tengah perbedaan pendapat. Toh, aku yang paling benar, kok! Mengatakan bahwa yang lain salah dan kemudian memvonis ini-itu justru menunjukkan kerendahan diri serta ragu bahwa pendapat sendiri benar. Orang yang memiliki kekurangan akan menutupi kekurangannya itu dengan kesombongan. Jadi, truth claim bukanlah penyakit utama dalam diri orang atau kelompok yang tak bisa menerima perbedaan, melainkan rasa takut akan keberadaan orang atau kelompok lain, dan rasa takut tersebut bermula dari keyakinan yang rapuh. Jika iman tertancap kokoh, keberadaan orang atau kelompok lain yang berbeda faham tidak akan menjadi persoalan, bahkan jika harus “tidur sekamar”. Dengan demikian, semakin tebal dan kokoh iman seseorang justru semakin membuatnya menerima perbedaan, sebaliknya semakin tipis dan rapuh iman semakin sulitlah ia menerima keberadaan yang lain.

Namun merayakan perbedaan tidak cukup sampai di situ. Perbedaan faham dan kelompok seharusnya dapat menjadi modal untuk pembangunan masyarakat. Misalnya kelompok berhaluan modern yang menekankan aspek lahiriah agama dapat bekerja sama dengan kelompok berhaluan tradisional yang menekankan aspek batiniah. Jika kedua aspek tersebut bisa berjalan beriringan umat kiranya akan mencapai puncak kejayaannya. Ayat “lakum dinukum wa liya din” (QS. Al-Kafirun: 6), yang akhir-akhir ini nampak mendapatkan relevansinya tidak hanya pada cakupan antar agama melainkan juga antar kelompok di dalam agama, tidak bisa difahami secara pasif dalam arti “kita berbeda, ya sudah!” lalu masing-masing kembali ke jalannya sendiri-sendiri, tetapi harus difahami secara aktif atau “kita berbeda, ya sudah, tapi sekarang apa yang bisa kita lakukan bersama dengan berdasar pada faham yang masing-masing pihak yakini?!” Inilah kiranya yang dimaksud Tuhan dengan “wa’tashimu bi habli-l-lahi wa la tafarraqu” (QS. Ali Imran: 103).

SHALAWAT SEBAGAI SENJATA

Perayaan maulidKami cukup panik. Dua mahasiswi peserta Pelatihan Kepemimpinan Mahir Dasar (PKMD) mendadak tak sadarkan diri lalu marah-marah dan mengamuk, kesurupan. Saat itu adalah kali pertama kami mengadakan PKMD untuk mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin di luar ruangan, di alam terbuka. Sebagai presiden mahasiswa Fakultas Ushuluddin saya berusaha untuk tetap tenang meski sebenarnya dalam hati saya gelisah luar biasa.

Akhirnya saya instruksikan teman-teman untuk menghubungi orang yang tahu soal kegaiban karena ilmu pengetahuan sampai saat ini belum bisa menjelaskan fenomena kesurupan ini, apalagi mengobatinya. Sambil menunggu pertolongan, saya menelepon ayah saya, memohon nasihat siapa tahu beliau, sebagai orang bahari, tahu bagaimana mengobati kesurupan. Bapak saya mengaku juga tidak tahu, tapi beliau menganjurkan saya untuk membaca shalawat dengan cara-cara tertentu lalu ditiupkan ke kepala orang yang kesurupan. Tanpa bertanya kenapa dan apa gunanya saya langsung mengerjakannya.

Mahasiswi-mahasiswi kesurupan itu tak jua sembuh sampai orang ahli kesurupan yang diminta bantuan itu mengobati mereka dari jarak jauh! Mereka pun akhirnya sadarkan diri dan pulih seperti sedia kala.

Keesokan harinya di kampus saya bertemu salah satu mahasiswi yang kemarin hari dirasuki roh gaib itu. Saya benar-benar terkejut saat ia mengatakan: “Terima kasih ya bang, sudah membacakan shalawat buat saya. Rasanya sejuk sekali seperti ada AC.” Darimana dia tahu kalau saya bacakan shalawat saat dia kesurupan waktu itu? Dalam pemahaman kita orang yang kesurupan adalah orang yang kehilangan kesadaran diri tapi anehnya mahasiswi itu tahu saya sempat bacakan shalawat dan meniupkannya ke kepalanya. Dia mengaku saat kesurupan sebenarnya dalam keadaan sadar tapi tubuhnya dikuasai “orang lain”, namun dia tahu bahwa saya meniupkan shalawat padahal saya membacanya dengan berbisik tanpa diketahui siapapun yang ada di sana waktu itu.

Itulah pengalaman yang nyata-nyata saya alami tanpa rekayasa dan saya benar-benar dalam keadaan waras. Itulah pula salah satu keajaiban shalawat, sehingga sejak saat itu saya percaya kedahsyatannya yang kemudian saya baca setiap kali saya menghadapi masalah atau sekedar mengisi waktu luang. Kejadian semacam itu tentu tak dapat dijelaskan secara rasional, melainkan hanya dapat difahami melalui pengalaman.

Sebagian besar muslimin percaya bahwa shalawat, doa buat Nabi Muhammad Saw., memiliki keajaiban. Setidaknya, bagi mereka, setiap kali dibacakan shalawat hati menjadi tenang. Tuan-tuan guru tempat saya meminta nasihat juga pernah mengatakan bahwa shalawat mengandung unsur penyejuk, jadi bacalah shalawat jika hati sedang kalut. Kaum muslimin tradisional juga percaya bahwa dengan membaca shalawat peluang Rasulullah memberi syafa’at (pembersihan diri dari dosa-dosa) di hari kiamat kelak, dengan izin Allah tentunya, akan semakin terbuka lebar. Lebih-lebih Sang Rasul juga pernah mengatakan bahwa siapa yang mendoakannya satu kali akan dibalas beliau dengan doa untuknya berpuluh-puluh kali lipat. Siapa yang tak ingin didoakan oleh seorang yang suci?! Dengan membaca shalawat, kaum muslimin percaya bahwa, meski Baginda Rasulullah telah lama wafat dan pernah hidup di negeri yang jauh di sana, beliau masih berkontak mesra dengan umatnya sampai saat ini dan selamanya.

Karena itulah kaum muslimin ramai-ramai membaca dan mengagungkan shalawat dan pengagungan itu diekspresikan dalam bentuk pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw. Maulid dapat difahami sebagai kumpulan kisah hidup Rasulullah Saw yang dibaca dan diperdengarkan kepada sekumpulan jama’ah. Pembacaan kisah hidup itu diseling-selingi dengan pembacaan sya’ir-sya’ir berisi shalawat, doa-doa dan puji-pujian bagi Sang Kekasih Allah. Di tengah-tengah maulid jama’ah berdiri menyambut “kedatangan” Rasulullah Saw yang memuaskan kerinduan umat yang beliau sayangi.

Konon, menurut Ibn Katsir dalam kitab Tarikh-nya, pembacaan maulid dilakukan pertama kali oleh raja Irbil (wilayah Irak sekarang), Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada abad ke-7 Hijriyah. Sultan al-Muzhaffar saat itu mengundang seluruh ulama dan para pembesar untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw secara besar-besaran dan didalamnya dibacakan maulid Nabi. Namun para ulama lain, seperti Ahmad ibn ‘Abd al-Halim al-Harani dan di Indonesia Nurcholish Madjid, mengatakan bahwa tradisi pembacaan maulid Nabi diwariskan oleh Shalah al-Din al-Ayyubi, pemimpin pasukan tentara muslim dalam perang salib. Ketika Sang Singa Padang Pasir melihat berkurangnya semangat berperang pasukannya, ia membuat semacam “eksperimen” untuk mengembalikan semangat juang mereka, yakni membacakan kitab al-Maghaziy berisi kisah-kisah perjuangan dan perilaku Rasulullah Saw dalam perang. Eksperimen tersebut ternyata bermanfaat dan pasukan muslimin pun kembali mendapat gairah menuntaskan tugas mereka.

Dari sini kita dapat mengatakan maulid yang berisi kisah-kisah hidup Nabi Saw adalah senjata sebenarnya tentara muslimin dalam perang salib. Maka dari itu, maulid yang juga berisi shalawat-shalawat adalah senjata kita kaum muslimin saat sekarang ini. Lalu untuk apa senjata shalawat itu? Apa perang yang kita hadapi saat ini?

Nabi Muhammad Saw pernah menyatakan bahwa perang terbesar umatnya adalah perang melawan hawa nafsu. Inilah perang sesungguhnya. Banyak sekali masalah, keresahan dan ketakutan kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Rasa saling dengki, permusuhan, perbuatan kejahatan, dan lain-lain jika direnungkan berawal dari ketidakmampuan kita mengalahkan hawa nafsu. Banyak pula persoalan dan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat. Kebencian, pengkafiran, menganggap kelompok lain salah, merasa benar sendiri, juga diawali oleh ketundukan kepada hawa nafsu. Korupsi, kolusi, nepotisme, terorisme, yang mengancam keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara juga menunjukkan kekalahan para pelakunya terhadap hawa nafsu.

Bahkan, ketika melakukan upaya-upaya sporadis untuk memberantas semua keburukan itu kita juga dikuasai oleh hawa nafsu. Kita sering bersikap tergesa-gesa dalam menilai orang lain, sehingga dengan mengatasnamakan nahy al-munkar kita pun tergesa-gesa, melakukan kekerasaan dan mengambil wewenang Tuhan untuk menghakimi mereka yang dianggap salah secara teologis, entah dengan fisik, kata-kata, maupun rasa benci dalam hati. “Al-‘ajalah min al-syaithan”, tergesa-gesa adalah salah satu perbuatan syaithan, demikian sabda Rasulullah. Semua itu adalah wujud kejatuhan kita oleh dominasi hawa nafsu yang kata Allah selalu membawa kepada kerusakan.

ShalawatOrang yang ber-shalawat sejatinya adalah orang yang dingin hatinya, tenang jiwanya, tidak tergesa-gesa menilai orang lain salah, pun tidak tergesa-gesa menyimpulkan segala fenomena yang nampak di depan mata. Orang yang ber-shalawat adalah orang yang sejuk pikirannya, luhur budi pekertinya, bersikap lemah-lembut kepada siapapun, bahkan kepada orang lain yang berbeda faham dengannya, tak ada sedikit pun rasa benci di dalam hati apalagi dalam sikapnya.

Orang yang ber-shalawat adalah orang yang memiliki senjata ampuh untuk menaklukkan hawa nafsunya, yakni shalawat itu sendiri, sehingga hatinya bersih dan pantas menerima syafa’at dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Mari kita perbanyak membaca shalawat untuk kita “tiupkan” ke dalam hati agar kita tak lagi kesurupan hawa nafsu.

HIJRAH, SABAR DAN MENANG

hijrahMenjelang peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah, umat Islam di Makkah merasa sedih dan mengalami tekanan mental karena hidup mereka semakin sengsara ditindas oleh rezim Quraisy yang eksklusif (karena tidak mau menerima ajaran kebenaran yang dibawa Muhammad). Tekanan mental itu mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri dan harapan akan kemenangan. Allah pun dengan segera menenangkan Nabi dan umatnya dengan mengirimkan wahyu kepada Nabi Muhammad sebagai berikut:

“Bangsa Romawi telah dikalahkan. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa saat lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Rum: 2-4)

Ayat-ayat dalam al-Quran ini menunjukkan bahwa Allah menjanjikan kemenangan bagi orang muslim, seperti halnya bangsa Romawi yang sempat jatuh namun Allah memastikan mereka akan berjaya lagi. Bangsa Romawi bisa bangkit, maka umat Islam pun bisa bangkit. Untuk sementara kaum muslim haruslah bersabar. Cak Nur pernah berujar bahwa sabar adalah menunda kesenangan saat sekarang untuk kebahagiaan yang lebih besar pada saatnya kelak. Hingga nanti pada saat kemenangan tiba umat Islam dipersilahkan gembira. Adapun al-Ghazali menyebut sabar adalah terhindarnya manusia dari perbuatan maksiat saat ia sedang berada dalam musibah. Dengan demikian, bersabar mengandung unsur kesadaran, kecermatan, ketelitian dan rencana yang matang untuk mengatasi berbagai masalah serta mencari letak penyebab kekeliruan, memperbaikinya, dan mengambil langkah-langkah tepat lagi cermat untuk bangkit lagi. Janji Tuhan ini terbukti dengan penaklukan kembali kota Makkah (fath al-Makkah) beberapa tahun setelah Nabi dan umat Islam pindah ke Madinah.

Mudah-mudahan renungan ayat ini akan memberikan sedikit motivasi bagi mereka yang saat ini sedang merasa jatuh.

POLISI DAN PENGABDIAN KEPADA ALLAH SWT

PolisiBarusan saya diminta menyampaikan ceramah singkat di depan Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu Kepolisian Resort di kota kecil saya.

Saya hanya menyampaikan bahwa pada hakikatnya hidup kita ini tak lain adalah untuk mengabdi kepada Allah. Maksudnya, setiap perbuatan, setiap tingkah laku, setiap tindakan kita, dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan tidur itu sendiri, diperuntukan dan dilandasi semangat mengabdi kepada Allah (lillahi ta’ala). Allah adalah sumber kebaikan, semua sifat-sifat yang baik ada pada Allah Swt. Mengabdi kepada Allah berarti setiap perbuatan dan perilaku kita ditujukan dan dilandasi untuk dan dengan kebaikan.

Hal itu terpatri dalam ajaran tentang al-akhlaq al-karimah (akhlak yang mulia), dan akhlak mulia itu terwujud dalam peraturan-peraturan dan protokol-protokol kerja. Pemerintah punya protokol dlm setiap kerja dan tindakannya, pegawai juga punya protokol dlm bekerja, para da’i dan ulama pun punya protokol dalam berdakwah. Mengenai protokol dakwah ini sudah diatur oleh Allah sendiri, yakni dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan jika harus berdebat, dengan cara yang baik dan sopan. Itu protokol kerja para ulama dan dai. Jadi jika ada orang berdakwah tidak sesuai dengan protokol yang ditentukan Allah, dengan kekerasan, suka memfitnah dan mengkafirkan, saya himbau Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu Polisi yag mendengarkan ceramah saya itu untuk menindaklanjuti.

Polisi pun ada protokol pula dalam bekerja. Menyikapi kerusuhan ada protokolnya, menghadapi pelaku kriminal ada protokolnya, menilang pelanggar peraturan lalu lintas pun ada protokolnya. Jadi polisi harus mengikuti protokol-protokol yang sudah berlaku sebagai bentuk pengabdiannya kepada kebaikan, kepada negara dan kepada Allah Swt yang Maha Baik. Jika polisi melanggar protokol-protokol itu, maka berarti ia sudah tidak berakhlak mulia dan melenceng dari pengabdian kepada Allah. Semoga Allah melindungi para polisi dan seluruh masyarakat dan memimbing semua agar tetap konsisten di jalan-Nya. Demikian ceramah saya di depan majelis para polisi budiman itu yang juga dihadiri Pak Wakapolres kota kecil saya. Doa saya untuk mereka.

DIMENSI ISLAM

dimensiBerikut kutipan kembali teori Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) tentang psikografi agama dalam “Psikologi Agama: Sebuah Pengantar” (2004):

Setiap agama setidaknya memiliki lima dimensi, yakni:
[1] dimensi ideologis (keyakinan, iman),
[2] dimensi ritualistik (ibadah ritual),
[3] dimensi eksperensial (pengalaman keagamaan, esoteris),
[4] dimensi intelektual (keilmuan), dan
[5] dimensi konsekuensial (manfaat agama baik untuk individu maupun hubungan sosial).

Meski setiap agama memiliki seluruh dimensi ini, namun hanya satu dimensi yang menonjol di masing-masing agama dibanding dimensi-dimensi lain. Dimensi yang paling menonjol dalam Islam adalah dimensi konsukensi agama dalam kehidupan sosial. Dapat dikatakan bahwa Islam sejatinya adalah agama sosial ketimbang agama personal. Islam sebagai agama sosial karena itu berlandaskan pada akhlak. Dimensi-dimensi lain dalam Islam akhirnya berujung pada dimensi sosial ini.

Hal ini terbukti dari ajaran Islam yang menyatakan bahwa segala pekerjaan, baik yang berupa ibadah ritual ataupun tidak, lebih tinggi nilainya jika dilakukan secara berjama’ah. Selain itu, dosa yang dilakukan dalam ibadah ritual dapat diampuni hanya dengan bertaubat atau membayar denda (dam), sedangkan dosa sosial atau hubungan antar sesama tak akan diampuni Allah kecuali mendapat maaf dari orang disakiti.

Sayangnya, umat Islam keliru dalam melihat dimensi agamanya ini. Kita lebih menempatkan dimensi ritualistik (fiqh) di atas dimensi-dimensi lain. Akibatnya, ukuran keshalihan diukur dari banyaknya beribadah, surban yang besar, jubah yang panjang, jenggot yang lebat, sarung yang mahal, peci yang berkilau dan segala macam simbolisasi lainnya. Pengabdian seseorang dalam penggunaan hartanya demi fakir miskin, membela kaum tertindas, menghormati hak-hak setiap orang dan kelompok, menjunjung tinggi akhlak, hampir sama sekali tidak dipandang dan diperhatikan.

Dengan demikian, perlu disyiarkan re-orientasi keagamaan kita, agar shalat kita tidak termasuk shalat yang dikutuk Allah karena tidak mengedepankan dimensi sosial Islam (lihat surah al-Ma’un).

[Terima kasih kepada Ustadz Amat Duwaji, S.Ag (Penyuluh Agama di KUA Kec. Sukamara Kab. Sukamara Kalimantan Tengah) atas informasinya)