GURU BAKRIE DAN SEMARAK WACANA KEAGAMAAN

diskusi-filsafat-islamUntuk kesekian kalinya saya mengangkat Guru Bakrie dalam coretan kecil saya. Ulama bernama lengkap KH. Ahmad Bakrie ini memang banyak mempengaruhi keberagamaan saya sebagai seorang muslim Banjar tatkala saya rajin hadir di pengajian beliau di Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.

Kali ini saya teringat dengan ujaran beliau: “Wayahini kabanyakan urang pintar” (sekarang ini terlalu banyak orang pintar). Bagi mereka yang mengetahui latar belakangnya pasti akan faham bahwa apa yang disampaikan Guru Bakrie itu bisa bersifat objektif, dalam arti itu adalah kritik beliau terhadap banyaknya wacana-wacana keislaman bermunculan yang melahirkan perbedaan pendapat keagamaan sehingga menimbulkan kebingungan bagi masyarakat muslim umum soal mana yang benar dan mana yang harus diikuti.

Ujaran Guru Bakrie itu juga bisa bersifat subjektif, mengingat banyaknya serangan kritik terhadap kiprah dakwah beliau yang di satu sisi mewakili Islam tradisional dan di sisi lain suksesnya beliau menguasai Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan menggalang dana untuk pembangunan Pondok Pesantren yang beliau kelola dalam waktu yang sangat cepat melalui pengajian beliau di masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan itu.

Terlepas dari apapun latar belakang yang mendasari keluarnya ujaran itu dari Guru Bakrie, kritik beliau tersebut jelas menohok fenomena wacana keagamaan kita sekarang ini.

Zaman dulu, sejauh pengalaman saya, cuma sedikit orang yang berbicara agama. Masyarakat sadar bahwa otoritas ilmu keagamaan hanya dimiliki para ulama dan kaum cendekiawan, sebab merekalah yang memiliki modal berupa ilmu-ilmu dasar keagamaan yang mumpuni sehingga berbicara dan dimintai jawaban atas berbagai macam persoalan agama. Kokohnya otoritas ini membuat para agamawan berada pada posisi yang eksklusif dan elegan, khusus bagi para simpatisan, sedangkan bagi kalangan modern-liberal, kelompok keagamaan dianggap sebagai kelompok kelas bawah, ketinggalan zaman, diajuhi dalam pergaulan dan menjadi bahan sisnisme dan ejekan. Paling banter, para agamawan hanya dibutuhkan untuk membacakan doa saat acara hajatan dan selamatan atau imam shalat jama’ah di masjid, atau paling tidak memimpin doa pada acara-acara kenegaraan.

Namun situasi itu berbeda jauh saat ini. Hampir setiap orang berbicara agama, siapapun itu. Tak peduli sejauh mana ia sudah belajar agama. Banyak orang yang mungkin pernah belajar agama dari sekolah agama namun tidak melanjutkan hingga ke jenjang yang lebih tinggi turut mewacanakan agama. Banyak pula yang mungkin konsisten belajar agama secara otodidak, mengejar pengajian di sana-sini, berbicara soal agama. Banyak juga yang baru belajar agama atau baru memiliki hasrat belajar agama lalu kemudian membaca banyak buku dan baru mengikuti pengajian-pengajian, pun dengan semangat membicarakan agama. Bahkan tak sedikit mereka yang belajar agama hanya melalui internet dan media-media sosial juga getol berkomentar soal agama.

Banyak kalangan berpendapat bahwa fenomena maraknya wacana agama yang hadir di tengah-tengah publik karena menguatnya semangat liberalisme sehingga masyarakat patut berterimakasih kepada liberalisme atas maraknya keshalihan ini. Akan tetapi saya tidak akan menggunakan istilah tersebut, melainkan ini adalah konskuensi dari upaya kita membangun generasi pembelajar agama. Banyaknya orang yang belajar agama tentu melahirkan banyak orang-orang pintar yang berbicara mengenai agama. Banyaknya orang-orang pintar melahirkan banyak perbedaan pendapat dan wacana-wacana keagamaan, sesuatu yang tidak dapat kita pungkiri.

Oleh karena itu, menurut saya, gairah wacana keagamaan ini patut dirayakan sebagai bagian dari tahapan kebangkitan keilmuan Islam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menyaksikan orang-orang mulai memperhatikan agama dan merasa penting berbicara agama. Dunia keagamaan bukan lagi dunianya para geek dan orang-orang yang terpinggirkan dari pergaulan. Bukankah Washil ibn Atha’ yang kemudian menjadi pionir madzhab teologi Islam Mu’tazilah adalah orang yang berbeda pendapat dengan Hasan Basri, gurunya yang seorang sufi?! Bukankah Abu Hasan al-Asy’ari, pendiri madzhab teologi Asy’ariyah yang kemudian berekspansi menjadi Ahlus Sunnah, adalah orang yang mengkritik gurunya al-Jubba’i yang bermadzhab Mu’tazilah?!

diskusi-ilmiahTinggal kemudian bagaimana membangun tradisi dialog antar wacana yang sehat, ilmiah dan produktif dalam suasana yang damai, silaturrahim dan penuh rasa persaudaraan, bukan sekedar adu singgungan dan sarkasme, hujatan dan bully di media-media sosial yang bahkan para ulama yang telah jauh berpengalaman dalam keilmuan pun jadi korban kekerasan ketikan keypad. Satu wacana memang akan menjadi antitesa bagi wacana lain, tapi jika para pewacana membuka diri dan “membunuh otoritas”-nya terhadap wacana-wacananya itu yang lahir adalah sintesa yang indah.

Saya kira ini adalah tugas pemerintah melalui program-program pendidikan dan masyarakat melalui ormas-ormas keagamaan untuk membangun semacam ruang publik (public sphere) yang adil dan sehat, ilmiah dan produktif dalam rangka mengakomodir wacana-wacana keagamaan yang muncul, sehingga kebangkitan keilmuan Islam sebagaimana yang terlihat benar-benar bergerak maju, bukan jalan di tempat atau malah mundur.

“Urang-urang pintar” yang disebut Guru Bakrie memang akan merisaukan jika hanya bisa mengkritik dan menyinggung apalagi mem-bully, tapi justru akan memberi manfaat bagi umat jika mereka mau saling berdiskusi dan berdialog secara langsung dan terbuka.

Sukamara, 14/12/2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s