MIMBAR DAN PODIUM

mimbar-podiumSuatu saat saya mengunjungi paman saya di Banjarmasin. Saat waktu shalat maghrib tiba paman mengajak saya shalat di masjid dekat rumah beliau. Setelah shalat qabliyah iqamah pun dilantunkan sang muadzin. Setelah iqamah tak ada satu pun warga sekitar masjid yang hadir maju untuk mengimami shalat (meski tak ada ketentuannya dalam teks sumber agama saya pikir ini tata moral yang baik dalam menunjuk imam dengan mendahulukan warga sekitar masjid ketika kita shalat di masjid yang bukan di lingkungan tempat tinggal kita). Karena tak ada yang maju paman saya meminta saya untuk menjadi imam. Namun sebelum memulai shalat ada satu hal mengganjal dalam pikiran saya: Nanti jika sudah selesai shalat saya membaca wirid dengan keras apa tidak, ya? Tapi setelah melihat mimbar yang ada di masjid tersebut masalah saya pun terpecahkan.

Mimbar adalah tempat khatib menyampaikan khutbah jum’at atau khutbah idul fitri dan idul adha. Penting untuk dicatat bahwa biasanya saat memberikan ceramah agama yang bukan termasuk ritual ibadah, baik ceramah rutin maupun ceramah di acara-acara besar Islam, sang penceramah atau pembicara (khatib) tidaklah menyampaikan ceramahnya di mimbar khutbah, tetapi di podium kecil atau tanpa disediakan tempat khusus sama sekali. Dalam fiqih, sejauh yang saya pelajari, bentuk detail mimbar tidak dijelaskan secara rinci, melainkan hanya disebut “tempat yang tinggi” agar para jama’ah dapat melihat sang khatib. Bentuk-bentuk mimbar yang ada di kebanyakan masjid di daerah Kalimantan Selatan yang kelihatan sekali unsur budaya melayu-banjarnya (sebagian bercampur unsur jawa) menegaskan tidak dirincikannya bentuk mimbar khutbah.

Adalah seorang ulama kharismatik asal Gambut, Kalimantan Selatan, KH. Ahmad Bakrie, yang menyampaikan pernyataan menarik soal mimbar ini. Masyhur dengan panggilan akrab “Guru Bakrie”, beliau mengadakan pengajian rutin berisi materi fiqih, tauhid, hingga akhlak di masjid raya Sabilal Muhtadin, masjid kebanggaan masyarakat muslim Banjar dan ikon Kalimantan Selatan (pengajian ini menjadi signifikan bagi eksistensi Guru Bakrie karena melalui pengajian inilah kemasyhuran beliau meningkat). Pengajian rutin yang dilaksanakan setiap Jum’at malam antara Maghrib dan Isya itu selalu dihadiri ribuan jama’ah yang datang dari berbagai penjuru Kalimantan, bahkan pula dari luar pulau itu. Guru Bakrie juga adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin di Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar yang berhasil menarik hati para pelajar dan orangtua untuk belajar Islam di sana seiring dengan populernya pengajian rutin beliau di masjid raya. Pengajian beliau di Sabilal Muhtadin yang semakin besar membuat beliau sempat diangkat ketua ta’mir masjid terbesar di kota Banjarmasin itu. Guru Bakrie juga terbilang sebagai murid KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul karena secara rutin beliau datang ke pengajian salah satu ulama kharismatik terbesar di Indonesia itu. Saya sering melihat mobil Guru Bakrie yang berplat KH 1 AB terparkir di parkiran Mushalla Ar-Raudhah, tempat pengajian Guru Sekumpul.

Guru Bakrie membedakan antara “mimbar” dengan “podium” dari segi bentuk keduanya. Bentuk mimbar terbuka di bagian depan dan tertutup di bagian samping dan belakang sehingga khatib menaikinya lewat depan, sedangkan bentuk podium terbuka di bagian belakang dan tertutup di bagian samping dan depan sehingga khatib naik lewat belakang. Teks sumber agama menyebut bahwa khatib berkhutbah di atas mimbar (dari kata Arab “minbar”, huruf “n” berubah menjadi “m” dalam ejaan latin karena kata tersebut terkena hukum tajwid iqlab), bukan di atas podium. Dengan demikian, menurut beliau, khutbah di atas tempat yang tidak terbuka di bagian depan tidaklah sah. “Fatwa” tersebut cukup berpengaruh luas di kalangan muslim Banjar tradisional, sampai-sampai masjid raya Sabilal Muhtadin, yang ibadah-ibadah ritual di sana dilaksanakan dengan cara tradisional, mengganti tempat khutbah khatib semula yang tertutup di bagian depan dengan tempat khutbah sesuai arahan Guru Bakrie selaku ketua ta’mir masjid.

Saya belum mendapatkan informasi ataupun melacak sumber rujukan, baik dari al-Qur’an, Hadits, maupun khazanah literatur klasik yang menjadi sumber keilmuan muslim tradisional di Indonesia, bagi Guru Bakrie dalam membawa persoalan bentuk tempat khutbah ke dalam hukum Fiqih. Argumentasi yang sering disampaikan kepada jama’ah adalah bahwa tuntunan agama menyebut tempat khatib berkhutbah adalah “mimbar”, bukan “podium”, seperti dalam hadits-hadits Nabi Saw dan bilal mengucapkan “fa idza sha’ida al-khathib al-minbar” (maka apabila khathib naik ke mimbar), bukan “fa idza sha’ida al-khatib al-podium” (maka apabila khathib naik ke podium). “Redaksinya ‘minbar’, bukan ‘podium'”, tegas Guru Bakrie di beberapa kesempatan. Bagi sebagian orang argumentasi ini mirip seperti mengatakan: Al-Qur`an menyebut agar perempuan “yudnina ‘alayhinna min jalabibihinna” (mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh), bukan “yudnina ‘alayhinna min kakambanihinna” (mengulurkan kakamban mereka ke seluruh tubuh) – kakamban adalah sebutan orang Banjar untuk penutup kepala perempuan yang memperlihatkan bagian depan rambut, wajah dan leher.

Akan tetapi, jika melihat konteksnya mudah bagi kita menjelaskan bahwa fatwa tersebut lahir terkait dengan tekanan kalangan kaum muslim modernis terhadap eksistensi pengajian Guru Bakrie yang sedang naik daun saat itu. Perseteruan dan persaingan kaum muslim tradisional dan kaum muslim modernis, baik dalam wacana maupun dalam hubungan sosial, sudah mengisi sejarah masyarakat Islam di Nusantara. Kita patut bersyukur perseteruan tersebut tak pernah mengarah kepada tindakan anarkis karena kedua kubu nampaknya memiliki kesadaran kebangsaan yang kokoh bahkan hingga sekarang dan nanti. Namun bagi Guru Bakrie serangan-serangan bertubi-tubi itu nampaknya dirasa terlalu berat, sehingga memaksa beliau untuk bereaksi. Untuk itu beliau membalas serangan lawan yang nampaknya cukup ampuh yakni fatwa soal bentuk tempat khutbah tadi dan pernyataan pragmatis “kita buktikan mana yang paling banyak umatnya”. Balasan terakhir tadi sepertinya untuk menjawab kritik terhadap isi ceramah Guru Bakrie yang sering berbau “carubu” (kata bahasa Banjar yang berarti cabul). Perlu kiranya disinggung di sini bahwa tantangan terhadap Guru Bakrie tak hanya datang dari kalangan muslim modernis, melainkan sebagian pemuka muslim tradisional, karena melalui pengajian rutin di masjid raya Sabilal Muhtadin beliau berhasil mengumpulkan infaq dengan jumlah yang sangat besar untuk membangun pesantren asuhan beliau yang terbukti berkembang sangat pesat.

Serangan balik yang disebut terakhir tadi nampaknya juga ditujukan kepada sebagian kalangan tradisional yang menganggap dakwah Guru Bakrie yang dianggap”carubu”. Sejauh ingatan saya, dua serangan balasan Guru Bakrie di atas adalah yang paling membekas bagi kaum tradisional dan keduanya itu pula yang membuat pengajian beliau terus eksis hingga Guru Bakrie meninggal di usia yang relatif masih muda (saya turut menyesali kepergian beliau yang terlalu cepat). Karena fatwa “mimbar-podium” saya pandang begitu membekas di kalangan muslim Banjar, dimana hal itu banyak didengungkan kaum muslim tradisional untuk menunjukkan sentimen terhadap kaum modernis, tak keliru kiranya jika saya kemudian berusaha menyesuaikan diri dengan tradisi ibadah ritual di masjid-masjid di Banjarmasin. Maka ketika sebelum memulai shalat berjama’ah saya melihat terlebih dahulu tempat khatib berkhutbah yang tersedia dan ketika mengetahui bahwa tempat itu terbuka di bagian depan tidak ragulah saya memimpin pembacaan wirid panjang dengan keras selepas shalat maghrib waktu itu. Agama selalu melahirkan simbol dan simbol menunjukkan identitas. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s