SEMAKIN TEBAL IMAN SEMAKIN MUDAH MENERIMA PERBEDAAN

BerimanSebagaimana setiap tahunnya, mahasiswa dan mahasiswi yang akan mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) diberikan pembekalan terlebih dahulu selama beberapa hari. Saya yang saat itu turut mendaftarkan diri mengikuti KKN ikut menyimak. Setelah pihak rektorat memberikan materi pembekalan seharian penuh, diberikan kesempatan kepada mahasiswa-mahasiswi peserta KKN untuk bertanya atau berkomentar mengenai kegiatan wajib akademik itu. Ada komentar menarik dari seorang mahasiswi yang berbicara di depan khalayak. Ia mengenakan baju gamis dan kerudung terurai panjang ciri khas perempuan anggota gerakan neo-fundamentalisme Islam dan ia adalah anggota organisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Mahasiswi itu dengan tegas mengutarakan ketidaksetujuannya jika di lokasi KKN nanti mahasiswa dan mahasiswi ditempatkan serumah sebagaimana KKN-KKN sebelumnya, sebab penempatan seperti itu, menurutnya, berpotensi merusak akhlak dan bertentangan dengan syari’at Islam. Setelah mahasiswi itu, majulah seorang mahasiswa yang menyampaikan keberatannya terhadap pernyataan mahasiswi tadi. Ia mengatakan bahwa penempatan mahasiswa dan mahasiswi serumah jangan hanya dilihat dari kacamata syari’at secara lahiriah. Harus dipertimbangkan apakah pihak desa yang menjadi lokasi KKN bisa menyediakan dua buah tempat tinggal agar mahasiswa dan mahasiswi terpisah dan ternyata memang tidak setiap desa bisa memenuhi kehendak tersebut. Selain itu, ini argumennya yang paling menarik, jika mahasiswa dan mahasiswi cukup kuat imannya meski tidur di satu kamar sekalipun tak akan melakukan perbuatan tak senonoh, sebaliknya jika iman tidak kuat, meski berjauhan tempat tinggal mahasiswa dan mahasiswi yang terbakar nafsu birahi akan mencari cara agar dapat berbuat asusila. Sontak kegiatan pembekalan KKN jadi arena adu argumentasi.

Argumen mahasiswa yang membantah mahasiswi tadi memang layak dikritik, sebab perbuatan maksiat bisa saja terjadi bukan karena ada niat melainkan karena ada kesempatan, seperti cerita hikmah terkenal tentang seorang ahli ibadat bernama Barsiso yang amal ibadahnya tak tertandingi oleh manusia manapun di zamannya namun karena godaan syaithan ia akhirnya berzina dengan perempuan cantik yang berobat padanya. Akan tetapi, argumen mahasiswa itu, bahwa iman yang kuat akan meruntuhkan segala godaan untuk berbuat keburukan meski kesempatan sudah begitu terbuka di depan mata, juga tak dapat ditampik begitu saja. Bisa dikatakan, tumpukan amal ibadah Barsiso nampaknya tidak membuat imannya tebal.

Dewasa ini banyak orang atau kelompok mengaitkan perbedaan pemahaman agama dengan kemaksiatan. Orang atau kelompok lain yang tak sependapat dianggap telah berdosa, bahkan tak jarang pula memvonis mereka yang di seberang itu kafir atau tidak beriman. Vonis semacam ini jelas telah keliru menempatkan persoalan pada tempatnya. Hukum agama atau syari’at dalam arti sempit adalah legal ethic, atau dalam bahasa lugasnya, alat untuk mewujudkan ajaran moral yang ideal secara nyata atau konkrit. Karena itu, objek hukum adalah segala perbuatan yang bersifat konkrit. Pemahaman agama tentu saja bukan sesuatu yang bersifat konkrit sehingga tak bisa dihukumi secara syar’i. Adapun dalam hal teologis sulit kiranya, jika tidak dikatakan tidak mungkin, bagi manusia menjustifikasi apakah seseorang atau kelompok tergolong beriman ataukah kafir, sebab bagaimanapun justifikasi itu berada di luar wewenang manusia (QS. Al-Najm: 32), sehingga apapun vonis yang ditetapkan hanyalah sekedar perkiraan belaka dan perkiraan biasanya lebih didasarkan oleh hawa nafsu. Jikapun aliran-aliran teologi Islam dalam sejarah memperbincangkan keberimanan dan kekafiran seseorang, vonis itu hanyalah instrumen demi mendapatkan legitimasi bagi aliran yang dianut. Tak dapat kita enyahkan bahwa sejarah perkembangan teologi Islam adalah sejarah perdebatan-perdebatan dan kontestasi politik.

Vonis terhadap orang atau kelompok lain yang berbeda faham itu didasarkan pada pendirian bahwa keyakinan sendiri adalah yang paling benar, atau yang masyhur disebut truth claim. Di satu sisi pembenaran terhadap keyakinan memang diperlukan, sebab keyakinan (iman) memang perlu pembenaran (tashdiq), akan tetapi mengatakan bahwa orang atau kelompok lain salah adalah sesuatu yang lain lagi. Bayangkan jika masing-masing orang atau kelompok saling menganggap dirinya dan kelompoknya benar dan yang lain salah, entah jadi apa nantinya kehidupan bermasyarakat ini. Bukankah sikap ini yang dikecam Tuhan sebagai pemecah-belah umat? (QS. Ar-Rum: 31-32)

Klaim bahwa pendapat sendiri adalah benar seharusnya membangun kepercayaan diri di tengah perbedaan pendapat. Toh, aku yang paling benar, kok! Mengatakan bahwa yang lain salah dan kemudian memvonis ini-itu justru menunjukkan kerendahan diri serta ragu bahwa pendapat sendiri benar. Orang yang memiliki kekurangan akan menutupi kekurangannya itu dengan kesombongan. Jadi, truth claim bukanlah penyakit utama dalam diri orang atau kelompok yang tak bisa menerima perbedaan, melainkan rasa takut akan keberadaan orang atau kelompok lain, dan rasa takut tersebut bermula dari keyakinan yang rapuh. Jika iman tertancap kokoh, keberadaan orang atau kelompok lain yang berbeda faham tidak akan menjadi persoalan, bahkan jika harus “tidur sekamar”. Dengan demikian, semakin tebal dan kokoh iman seseorang justru semakin membuatnya menerima perbedaan, sebaliknya semakin tipis dan rapuh iman semakin sulitlah ia menerima keberadaan yang lain.

Namun merayakan perbedaan tidak cukup sampai di situ. Perbedaan faham dan kelompok seharusnya dapat menjadi modal untuk pembangunan masyarakat. Misalnya kelompok berhaluan modern yang menekankan aspek lahiriah agama dapat bekerja sama dengan kelompok berhaluan tradisional yang menekankan aspek batiniah. Jika kedua aspek tersebut bisa berjalan beriringan umat kiranya akan mencapai puncak kejayaannya. Ayat “lakum dinukum wa liya din” (QS. Al-Kafirun: 6), yang akhir-akhir ini nampak mendapatkan relevansinya tidak hanya pada cakupan antar agama melainkan juga antar kelompok di dalam agama, tidak bisa difahami secara pasif dalam arti “kita berbeda, ya sudah!” lalu masing-masing kembali ke jalannya sendiri-sendiri, tetapi harus difahami secara aktif atau “kita berbeda, ya sudah, tapi sekarang apa yang bisa kita lakukan bersama dengan berdasar pada faham yang masing-masing pihak yakini?!” Inilah kiranya yang dimaksud Tuhan dengan “wa’tashimu bi habli-l-lahi wa la tafarraqu” (QS. Ali Imran: 103).

Iklan