SHALAWAT SEBAGAI SENJATA

Perayaan maulidKami cukup panik. Dua mahasiswi peserta Pelatihan Kepemimpinan Mahir Dasar (PKMD) mendadak tak sadarkan diri lalu marah-marah dan mengamuk, kesurupan. Saat itu adalah kali pertama kami mengadakan PKMD untuk mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin di luar ruangan, di alam terbuka. Sebagai presiden mahasiswa Fakultas Ushuluddin saya berusaha untuk tetap tenang meski sebenarnya dalam hati saya gelisah luar biasa.

Akhirnya saya instruksikan teman-teman untuk menghubungi orang yang tahu soal kegaiban karena ilmu pengetahuan sampai saat ini belum bisa menjelaskan fenomena kesurupan ini, apalagi mengobatinya. Sambil menunggu pertolongan, saya menelepon ayah saya, memohon nasihat siapa tahu beliau, sebagai orang bahari, tahu bagaimana mengobati kesurupan. Bapak saya mengaku juga tidak tahu, tapi beliau menganjurkan saya untuk membaca shalawat dengan cara-cara tertentu lalu ditiupkan ke kepala orang yang kesurupan. Tanpa bertanya kenapa dan apa gunanya saya langsung mengerjakannya.

Mahasiswi-mahasiswi kesurupan itu tak jua sembuh sampai orang ahli kesurupan yang diminta bantuan itu mengobati mereka dari jarak jauh! Mereka pun akhirnya sadarkan diri dan pulih seperti sedia kala.

Keesokan harinya di kampus saya bertemu salah satu mahasiswi yang kemarin hari dirasuki roh gaib itu. Saya benar-benar terkejut saat ia mengatakan: “Terima kasih ya bang, sudah membacakan shalawat buat saya. Rasanya sejuk sekali seperti ada AC.” Darimana dia tahu kalau saya bacakan shalawat saat dia kesurupan waktu itu? Dalam pemahaman kita orang yang kesurupan adalah orang yang kehilangan kesadaran diri tapi anehnya mahasiswi itu tahu saya sempat bacakan shalawat dan meniupkannya ke kepalanya. Dia mengaku saat kesurupan sebenarnya dalam keadaan sadar tapi tubuhnya dikuasai “orang lain”, namun dia tahu bahwa saya meniupkan shalawat padahal saya membacanya dengan berbisik tanpa diketahui siapapun yang ada di sana waktu itu.

Itulah pengalaman yang nyata-nyata saya alami tanpa rekayasa dan saya benar-benar dalam keadaan waras. Itulah pula salah satu keajaiban shalawat, sehingga sejak saat itu saya percaya kedahsyatannya yang kemudian saya baca setiap kali saya menghadapi masalah atau sekedar mengisi waktu luang. Kejadian semacam itu tentu tak dapat dijelaskan secara rasional, melainkan hanya dapat difahami melalui pengalaman.

Sebagian besar muslimin percaya bahwa shalawat, doa buat Nabi Muhammad Saw., memiliki keajaiban. Setidaknya, bagi mereka, setiap kali dibacakan shalawat hati menjadi tenang. Tuan-tuan guru tempat saya meminta nasihat juga pernah mengatakan bahwa shalawat mengandung unsur penyejuk, jadi bacalah shalawat jika hati sedang kalut. Kaum muslimin tradisional juga percaya bahwa dengan membaca shalawat peluang Rasulullah memberi syafa’at (pembersihan diri dari dosa-dosa) di hari kiamat kelak, dengan izin Allah tentunya, akan semakin terbuka lebar. Lebih-lebih Sang Rasul juga pernah mengatakan bahwa siapa yang mendoakannya satu kali akan dibalas beliau dengan doa untuknya berpuluh-puluh kali lipat. Siapa yang tak ingin didoakan oleh seorang yang suci?! Dengan membaca shalawat, kaum muslimin percaya bahwa, meski Baginda Rasulullah telah lama wafat dan pernah hidup di negeri yang jauh di sana, beliau masih berkontak mesra dengan umatnya sampai saat ini dan selamanya.

Karena itulah kaum muslimin ramai-ramai membaca dan mengagungkan shalawat dan pengagungan itu diekspresikan dalam bentuk pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw. Maulid dapat difahami sebagai kumpulan kisah hidup Rasulullah Saw yang dibaca dan diperdengarkan kepada sekumpulan jama’ah. Pembacaan kisah hidup itu diseling-selingi dengan pembacaan sya’ir-sya’ir berisi shalawat, doa-doa dan puji-pujian bagi Sang Kekasih Allah. Di tengah-tengah maulid jama’ah berdiri menyambut “kedatangan” Rasulullah Saw yang memuaskan kerinduan umat yang beliau sayangi.

Konon, menurut Ibn Katsir dalam kitab Tarikh-nya, pembacaan maulid dilakukan pertama kali oleh raja Irbil (wilayah Irak sekarang), Muzhaffaruddin al-Kaukabri, pada abad ke-7 Hijriyah. Sultan al-Muzhaffar saat itu mengundang seluruh ulama dan para pembesar untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw secara besar-besaran dan didalamnya dibacakan maulid Nabi. Namun para ulama lain, seperti Ahmad ibn ‘Abd al-Halim al-Harani dan di Indonesia Nurcholish Madjid, mengatakan bahwa tradisi pembacaan maulid Nabi diwariskan oleh Shalah al-Din al-Ayyubi, pemimpin pasukan tentara muslim dalam perang salib. Ketika Sang Singa Padang Pasir melihat berkurangnya semangat berperang pasukannya, ia membuat semacam “eksperimen” untuk mengembalikan semangat juang mereka, yakni membacakan kitab al-Maghaziy berisi kisah-kisah perjuangan dan perilaku Rasulullah Saw dalam perang. Eksperimen tersebut ternyata bermanfaat dan pasukan muslimin pun kembali mendapat gairah menuntaskan tugas mereka.

Dari sini kita dapat mengatakan maulid yang berisi kisah-kisah hidup Nabi Saw adalah senjata sebenarnya tentara muslimin dalam perang salib. Maka dari itu, maulid yang juga berisi shalawat-shalawat adalah senjata kita kaum muslimin saat sekarang ini. Lalu untuk apa senjata shalawat itu? Apa perang yang kita hadapi saat ini?

Nabi Muhammad Saw pernah menyatakan bahwa perang terbesar umatnya adalah perang melawan hawa nafsu. Inilah perang sesungguhnya. Banyak sekali masalah, keresahan dan ketakutan kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Rasa saling dengki, permusuhan, perbuatan kejahatan, dan lain-lain jika direnungkan berawal dari ketidakmampuan kita mengalahkan hawa nafsu. Banyak pula persoalan dan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat. Kebencian, pengkafiran, menganggap kelompok lain salah, merasa benar sendiri, juga diawali oleh ketundukan kepada hawa nafsu. Korupsi, kolusi, nepotisme, terorisme, yang mengancam keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara juga menunjukkan kekalahan para pelakunya terhadap hawa nafsu.

Bahkan, ketika melakukan upaya-upaya sporadis untuk memberantas semua keburukan itu kita juga dikuasai oleh hawa nafsu. Kita sering bersikap tergesa-gesa dalam menilai orang lain, sehingga dengan mengatasnamakan nahy al-munkar kita pun tergesa-gesa, melakukan kekerasaan dan mengambil wewenang Tuhan untuk menghakimi mereka yang dianggap salah secara teologis, entah dengan fisik, kata-kata, maupun rasa benci dalam hati. “Al-‘ajalah min al-syaithan”, tergesa-gesa adalah salah satu perbuatan syaithan, demikian sabda Rasulullah. Semua itu adalah wujud kejatuhan kita oleh dominasi hawa nafsu yang kata Allah selalu membawa kepada kerusakan.

ShalawatOrang yang ber-shalawat sejatinya adalah orang yang dingin hatinya, tenang jiwanya, tidak tergesa-gesa menilai orang lain salah, pun tidak tergesa-gesa menyimpulkan segala fenomena yang nampak di depan mata. Orang yang ber-shalawat adalah orang yang sejuk pikirannya, luhur budi pekertinya, bersikap lemah-lembut kepada siapapun, bahkan kepada orang lain yang berbeda faham dengannya, tak ada sedikit pun rasa benci di dalam hati apalagi dalam sikapnya.

Orang yang ber-shalawat adalah orang yang memiliki senjata ampuh untuk menaklukkan hawa nafsunya, yakni shalawat itu sendiri, sehingga hatinya bersih dan pantas menerima syafa’at dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Mari kita perbanyak membaca shalawat untuk kita “tiupkan” ke dalam hati agar kita tak lagi kesurupan hawa nafsu.

Iklan

DUA POLA KEMUNCULAN FILSAFAT ISLAM: SEBUAH PERTANYAAN

Filsafat IslamSebagaimana digambarkan dalam berbagai sumber (misal: Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Nasr ed; Tradisi Intelektual Islam, Farhad Daftary ed; History of Muslim Philosophy, M.M. Sharif) kehadiran Filsafat Islam bermula dari dialog antara budaya Arab-Islam sebagai pendatang dengan budaya daerah-daerah taklukan (Syiria, Persia, dll yang kebetulan sedang ngetren di sana Hellenisme). Sebagai penakluk Arab-Islam mendapat tantangan kultural serius dari daerah-daerah taklukan yang memiliki struktur budaya yang lebih kaya, sehingga memerlukan instrumen khusus untuk melegitimasi apa yang merewa bawa, yakni Islam. Instrumen tersebut rupanya adalah filsafat Yunani yang kemudian oleh para cendekiawan sesuai instruksi penguasa mempelajari filsafat Yunani untuk kemudian diartikulasikan menjadi filsafat Islam.

Ini satu teori. Tapi muncul pertanyaan, bagaimana mungkin bangsa-bangsa yang begitu kaya budayanya bisa takluk oleh pendatang yang miskin budaya? Jawabannya mungkin satu, yakni Islam. Menurut berbagai sumber revisionis yang dikutip Mun’im Sirry menjelaskan bahwa agresifitas Islam justru hidup pasca Nabi Muhammad dan di daerah-daerah luar Arab. Jika kita kaitkan dengan budaya Hellenisme yang menggejala di daerah-daerah yang disebut taklukan itu maka perkembangan filsafat pasca yunani justru mendapatkan momentum ketika Islam datang.

Sebagai perbandingan, filsafat tak mampu berkembang di lingkungan Kristen Eropa di abad pertengahan karena dominasi gereja yang begitu hegemonik, meski filsafat Kristen juga hadir namun tak semeriah filsafat Islam. Yahudi juga tak dapat memberikan keleluasaan bagi filsafat karena terlalu sibuk mewujudkan “tanah yang dijanjikan”. Filsafat justru berkembang karena hadirnya ajaran Islam yang menuntun pemeluknya untuk berfikir dan ber-“hikmah”, dan ini rupanya cocok dengan budaya di daerah-daerah Hellenis. Terbukti banyak para filosof muslim kemudian yang merujuk kepada ajaran Islam dalam mempertahankan keberadaan filsafat Islam sebagai “hikmah yang pernah hilang” dari serangan kaum teolog dan kaum mistik.

Jika kesimpulan terakhir ini benar adanya, maka kita dapat menyebutkan bahwa ada dua pola kemunculan filsafat Islam, yakni yang pertama responsif, seperti yang digambarkan sumber-sumber yang disebutkan di atas dan yang kedua konstruktif, bahwa filsafat Islam hadir sebagai perkembangan filsafat yang mendapatkan momentum melalui ajaran Islam. Benarkah demikian? Nampaknya ini bisa menjadi kajian menarik selanjutnya.

TAKUT: SEBUAH RENUNGAN FILOSOFIS

Takut 1Tak ada manusia yang tak pernah merasa takut. Rasa takut selalu hadir di setiap waktu yang dijalani manusia dalam hidupnya. Kehidupan manusia selalu diisi dengan rasa takut disamping perasaan-perasaan yang membawa kebahagiaan. Takut adalah bagian dari kondisi kejiwaan yang mengiringi hidup sehingga keberadaannya tentu sudah ada sejak manusia pertama diciptakan.

Seorang pengendara kendaraan bermotor takut dirazia polisi karena surat-surat berkendaranya tidak lengkap. Seorang murid takut pergi ke sekolah karena pekerjaan rumah yang harus diserahkan kepada guru belum dikerjakan. Seorang mahasiswa takut tugas makalahnya tidak selesai sebab kelulusannya tergantung tugasnya itu. Seorang pegawai takut bolos kerja karena tunjangannya bisa dipotong. Jika melihat contoh-contoh rasa takut tersebut, serta contoh-contoh lainnya yang serupa, maka mudah untuk kita ketahui bahwa rasa takut muncul karena tidak terpenuhinya eksistensi diri. Jika pengendara kendaraan bermotor membawa lengkap surat-surat berkendara ia tak akan merasa takut. Jika murid itu sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya ia tak akan takut pergi ke sekolah. Jika mahasiswa menyelesaikan tugas makalahnya ia tak akan takut tidak lulus. Jika pegawai masuk kantor dengan disiplin ia tak akan takut tunjangannya dipotong. Eksistensi diri dalam kasus-kasus tadi berhubungan dengan hukum sebab-akibat. Jika sebab terpenuhi maka akibat bukanlah sesuatu yang menakutkan, sebaliknya jika sebab tak terpenuhi maka rasa takut akan akibat tak dapat terhindarkan. Intinya, rasa takut muncul jika eksistensi diri tak terpenuhi. Karena itu untuk menghilangkan rasa takut maka penuhilah eksistensi diri.

Itu dalam skala kecil. Sekarang kita beralih kepada pembahasan takut dalam skala yang lebih besar. Apakah ketakutan terbesar manusia? Beberapa orang yang saya tanyakan pertanyaan ini menjawab bahwa ketakutan terbesar manusia adalah kematian. Saya sepakat. Jika sebuah batu tiba-tiba dilemparkan kepada anda, secara refleks anda mencoba menghindari atau menangkisnya. Secara naluriah kita berupaya menjauhi rasa sakit yang merupakan bagian dari kematian atau sebut saja “kematian kecil”. Setiap hari manusia memenuhi kebutuhan perut dengan berbagai cara, ada yang menempuh cara yang jujur dan beradab, tak jarang pula manusia menempuh cara yang berujung konflik. Semua itu karena manusia takut mati. Akan tetapi, karena kematian terjadi di masa yang akan datang dan kita semua sadar bahwa bagaimanapun kematian akan mendatangi kita, maka kita sebenarnya menghadapi ketakutan yang lebih besar dan lebih luas lagi, yakni takut akan masa depan.

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) nampaknya adalah impian sebagian besar orang, jika tidak dikatakan semua. Setiap tahun beratus, bahkan berjuta, pelajar masuk ke perguruan tinggi. Setiap tahun pula beratus, bahkan berjuta, mahasiswa lulus perguruan tinggi dan diwisuda. Itu berarti beratus, bahkan berjuta, pula jumlah para pencari kerja baru. Semua itu dilakukan agar pada akhirnya pelajar dan mahasiswa itu menjadi PNS. Kita tentu tidak menafikan bahwa di antara para sarjana ada yang memiliki idealisme tidak ingin menjadi PNS, tapi budaya masyarakat kita secara umum memang berpandangan bahwa PNS adalah mata pencaharian impian. Berbagai seminar bisnis dan kewirausahaan diadakan untuk menyadarkan para pencari kerja bahwa menjadi PNS bukan pilihan satu-satunya, tapi pendaftaran PNS selalu ditunggu-tunggu banyak orang. Seorang teman pernah menyeletuk bahwa toh mereka yang semula beridealisme tak ingin jadi PNS, ketika lulus sebagai pegawai pemerintah, mereka akan bungkam.

Masa depanMengapa PNS menjadi incaran para sarjana? Sebab pekerjaan sebagai PNS dianggap menjamin masa depan. Setiap bulan, pegawai pemerintah dijamin pendapatannya, belum lagi gaji ke-13, tunjangan hari raya, tunjangan daerah dan tunjangan-tunjangan lainnya. Jumlah pendapatan PNS sebenarnya tidak cukup banyak dibandingkan pemasukan yang didapat wiraswasta dan para pengusaha, bahkan berbagai pemasukan yang diterima PNS itu kadang tidak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang pegawai negeri pernah mengatakan pada saya bahwa pegawai negeri jangan bermimpi menjadi orang kaya sebab gaji yang diterimanya begitu-begitu saja jumlahnya, mimpi menjadi orang kaya hanya milik pengusaha. Ia sadar akan hal itu, tetapi mereka yang berbisnis tidak dapat menjamin pemasukan bulan depan belum tentu sebanyak yang didapat pada bulan ini, bisa saja lebih banyak atau bisa saja lebih sedikit, atau bahkan tidak ada pemasukan sama sekali. Adanya jaminan masa depan adalah keunggulan tersendiri bagi seorang PNS, selain kehormatan sebagai pegawai pemerintah, meski dengan jumlah pemasukan yang tidak banyak. Selain itu, PNS juga memiliki jaminan masa depan yang lebih berarti dan menjadi pesona tersendiri, yakni jaminan pensiun. Terjaminnya masa depan adalah hasrat fundamental manusia untuk memenuhi eksistensi dirinya agar ia tidak lagi merasa takut.

Menjadi pegawai pemerintah berarti masa depan terjamin. Bagaimana jika pemerintahan runtuh? Bagaimana jika negera dinyatakan bangkrut? Bagaimana jika ada bangsa atau sekelompok masyarakat yang menghancurkan negera? Bagaimana jika datang sebuah bencana besar yang memporak-porandakan keutuhan negara yang menjamin masa depan rakyatnya? Mungkin saya berlebihan ketika melontarkan pertanyaan-pertanyaan ini. Tapi bagaimanapun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kita tidak tahu sebenar-benarnya bagaimana masa depan kita. Kematian dan masa depan adalah misteri yang dijalankan Tuhan, sehingga kapan dan bagaimana kita mati serta bagaimana nasib kita kelak hanyalah Ia yang maha tahu. Tak ada seorang pun yang bisa menjamin masa depan. Sampai di sini sampailah kita pada pemahaman bahwa kematian dan masa depan bukanlah ketakutan manusia terbesar dari yang terbesar. Ketakutan maha besar manusia adalah ketidak-tahuan.

Dengan demikian, ketidak-tahuan adalah hal yang harus diberantas agar takut tak lagi memenuhi kalbu. Apabila menyimak ajaran-ajaran di setiap agama kita akan menemukan bahwa sifat mengetahui adalah sifat pertama dan yang utama untuk dimiliki individu yang beriman. Para filosof juga tak ketinggalan. Sejak filsafat Yunani, filsafat Barat hingga ke filsafat Timur dan filsafat Islam kita juga menemukan bahwa pengetahuan adalah dasar dari eksistensi manusia. Filsafat (cinta kebijaksaan) itu sendiri adalah upaya untuk meraih pengetahuan. Lalu apa yang harus diketahui agar eksistensi diri terpenuhi?

Agama dan filsafat membahas berbagai hal yang objeknya manusia, mulai dari apa dan siapakah manusia, dari mana dan dari apa manusia ber-ada, sejauh mana pengetahuan manusia, sampai bagaimana seharusnya manusia berperilaku. Inilah yang dimaksud dengan mengetahui atau mengenali diri. Dengan mengenal dirinya manusia akan menemukan Eksistensi Sejati dirinya. Kalangan sufi-filosofis Islam menyebut upaya ini dengan ma’rifah al-nafs yang menghantarkan manusia kepada ma’rifah Allah, pengenalan terhadap Sang Wajib al-Wujud (Eksistensi Sejati). Para sufi-filosofis, atau filosof-sufistik, menyatakan Eksistensi Sejati inilah yang melingkupi seluruh alam, karena hakikatnya seluruh alam semesta berasal dari pancaran cahaya-Nya (Nur). Menarik sekali bahwa Bahasa Arab menyebut pengetahuan dengan “’ilm” yang seakar kata dengan “’alam”, sehingga mengetahui berarti menyatu dengan alam yang dilingkupi oleh Sang Cahaya. Ini kemudian membawa kepada penyatuan eksistensi manusia dengan Eksistensi Sejati. Penyatuan diri ini melahirkan kesadaran akan keterbebasan dari belenggu ruang dan waktu dan manusia pun dengan percaya diri akan menyambut kematian dan masa depan sebagai tahapan pulang menuju Hakikatnya. Rasa takut pun hilang.

CahayaMungkin konsepsi ini terdengar begitu njelimet dan rumit, karena memang saya tak punya bahasa lain lagi untuk menggambarkannya. Bagi kalangan umum proses pengetahuan diri ini mungkin dirasa sangatlah berat, seakan jalan yang ditempuh para sufi-filosofis itu terkesan begitu eksklusif. Akan tetapi, sepanjang sejarah agama-agama dan sejarah filsafat berisi pencarian manusia akan hakikat dirinya. Maka tak ada salahnya untuk berfikir (tafakkur) merenungi diri sendiri dan mencoba menemukan dan memenuhi eksistensi diri, seperti halnya melengkapi surat-surat berkendara, mengerjakan pekerjaan rumah, menyelesaikan tugas makalah dan berdisplin masuk kantor. Bukankah kita semua ingin terhindar dari rasa takut?

TUHAN TELAH MATI DAN MENEMUKAN KEMBALI EKSISTENSI SEJATI

eksistensialismeSemakin hari semakin banyak kelompok bermunculan. Berawal dari aliran-aliran, dari aliran-aliran itu muncul sekte-sekte, dari sekte-sekte itu muncul sub-sub sekte, dari sub-sub sekte itu muncul komunitas-komunitas, dan seterusnya hingga tidak diketahui seberapa kecil dan banyak lagi.

Manusia saat ini nampaknya memang sedang haus akan eksistensi. Masing-masing ingin menemukan jati dirinya, jati diri yang telah hilang seiring dengan semakin tertekannya diri oleh suasana hidup yang semakin berat atau karena jati diri yang ada sebelumnya tak mampu memenuhi eksistesi saat berhadapan dengan pengalaman sehingga lambat laun terkikis.

Upaya penemuan jati diri itu tampil dalam kelompok-kelompok dengan ideologi-ideologinya sendiri. Ideologi berarti pembatasan dan pembedaan yang tanpa disadari justru membuat kita semakin jauh dari esensi/ kehakikian (Haqq). Mungkin ini yang dimaksud Nietzsche “Gott ist tot! Tuhan telah mati! Kita semua telah membunuhnya!”

Namun bagaimanapun, mungkin Nietzsche setuju, eksistensi-eksistensi itu sudah hadir, kelompok-kelompok itu sudah bermunculan, sesuatu yang tak terhindarkan. Toh kitab suci menyebut bahwa berbagai macam perbedaan golongan adalah takdir Tuhan dan Ia menghendaki ini. Maka bagaimana jika kehadiran kelompok-kelompok ini malah tidak mendamaikan dunia?

Harapan kita adalah penemuan kembali Kesejatian Eksistensi, Wujud Abadi (perennis) yang melampaui segala macam wujud (atau maujud?), Eksistensi yang telah hilang ditelan kesementaraan (dunya). Akan tetapi penemuan kembali ini bukanlah lari meninggalkan pengalaman yang ada lalu menarik suatu kesadaran baru yang independen, melainkan memusatkan diri pada aspek-aspek dalam (esoteris) dari segala hal-hal luaran (eksoteris) ini.

Hal-hal eksoteris tetaplah penting sebab ia adalah pintu masuk kita menuju yang esoteris. Agama-agama dan secara partikular kelompok-kelompok agama, dengan simbol-simbolnya, seperti ritual ibadah, struktur kepercayaan, komunitas kaum beriman (ummah), dan lain-lain adalah bahasa-bahasa kita untuk, pada akhirnya, memahami Eksistensi Sejati itu. Hanya saja, untuk tujuan ini diperlukan keterbukaan diri seluas-luasnya untuk berusaha masuk ke dalam, melampaui segala macam simbol yang berbeda-beda itu, sebab agama-agama dan segala macam kepercayaan berpusat kepada Wujud yang sama, namun kehadirannya di bumi diungkapkan dengan berbagai macam ekspresi budaya, sehingga perbedaan jelas tak terbantahkan. Agama harus dikembalikan kepada aspek hakikinya, yakni spiritualitas, tanpa meninggalkan simbol-simbolnya itu. Dengan menitik-beratkan perhatian kepada aspek esoteris ini diri akan melampaui segala hal yang eksistensial yang selama ini kita anggap sebagai esensi atau makna sejati.

Inilah yang dilakukan Ibn Miskawaih yang digadang-gadang sebagai filosof keabadian (perennial) muslim pertama, meski ia disebut-sebut banyak dipengaruhi al-Farabi. Menurutnya, Hakikat (Esensi) dapat ditemukan dalam alam sosial kita, yakni dengan memahami aspek esoteris di balik segala macam yang maujud (dalam bahasa filsafat barat: “fenomena”). “Kesatuan dalam keragaman”, demikian ungkapan yang terkenal di dunia sufi. Maujud yang beragam ini adalah manifestasi (tajalli) Yang Maha Sejati, maka untuk menemukan jati diri yang sejati kita harus menempuh perjalanan pulang kepada Yang Maha Sejati (inna li Allah wa inna ilaihi raji’un).

Nampaknya langkah ini serupa dengan apa yang ditempuh Nietzsche: Tuhan telah mati, yang ada hanya keragaman eksistensi, maka eksistensi mendahului esensi. Dengan demikian, kita harus melakukan penemuan Eksistensi Sejati kita yang ada di balik segala eksistensi atau jati diri yang kita buat. Syaratnya kita tidak boleh berhenti pada satu titik eksistensi, melainkan terus melakukan pencarian, mengais-ngais dan membuka tabir yang menghalangi kita dari segala ke-aku-an karena diselubungi ideologi. Manusia adalah makhluk yang “menjadi”, bukan “ada”, kira-kira demikian ujar Nietzsche.