TENTANG ISLAM NUSANTARA, LAGI

MinangkabaumosqueSemakin hari tema “Islam Nusantara” semakin hangat diperbincangkan. Kubu pengusung dan kubu penolak seperti berbalas serangan, menyampaikan argumen masing-masing. Hanya saja, kubu pengusung nampak lebih ilmiah dalam mengkampanyekan Islam Nusantara, sedangkan penolak lebih menampakkan sebagai reaksi emosional dibanding argumentasi kreatif. Meski demikian, kita katakan saja pertarungan ideologis-intelektual ini dapat memberi andil bagi kehidupan Islam kita di Indonesia yang menunjukkan geliat kebangkitannya. Bukankah peradaban besar lahir dari kedewasaan masyarakatnya dalam menyikapi perbedaan?

Sebenarnya gagasan Islam Nusantara bukan gagasan baru. Pada tahun 2010 digelar Annual Conference of Islamic Studies (Konferensi Tahunan Studi-Studi Islam) ke-10 di Banjarmasin. Pertemuan tahunan para cendekiawan itu mengambil tema “Menemukan Kembali (Reinventing) Islam Nusantara”. Dengan demikian, sejak saat itu, setidaknya, para ilmuwan kita sudah memiliki visi yang sama, yakni mengangkat Islam Nusantara. Terma “reinventing” sangatlah krusial di sini, istilah yang menunjukkan bahwa Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang baru diciptakan tetapi sudah dipraktekkan berabad-abad yang lalu sejak era masuk dan penyebaran Islam di bumi Nusantara. Istilah “Islam Nusantara” yang dikumandangkan saat ini lebih berupa slogan bagi sebuah pergerakan keilmuan yang bercita-cita menghidupkan Islam yang ramah, toleran dan rahmah li al’alamin, sebagaimana diterapkan oleh para ulama di zaman dulu. Islam Nusantara dinilai penting sebagai jalan tengah antara pemahaman Islam yang eksklusif dan radikal, diwakili oleh Islam Timur-Tengah, di satu pihak dan pemahaman Islam yang sekuler dan liberal di pihak lain.

Baru dalam beberapa bulan terakhir kita mendengar seruan akan penolakan, bahkan kecaman, terhadap gagasan Islam Nusantara. Tidak dapat diketahui pasti apakah para penolak tidak mengetahui bahwa gagasan itu sudah lama diusung atau sudah tahu tapi menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Namun ketika lantunan al-Qur`an dengan langgam jawa sebagai simbol Islam Nusantara muncul, penolakan dan kecaman pun tak dapat dihindarkan, seakan kasus langgam jawa seperti pemantik api yang kobarannya semakin membesar sekarang ini. Islam Nusantara akhirnya mendapat tantangan serius dari dua golongan, yakni kubu yang sudah lama berseberangan dengan kubu pengusung yang seakan mendapat peluru gratis untuk ditembakkan, dan masyarakat umum yang menganggap kasus langgam jawa adalah pemandangan tak lazim dan sulit diterima.

Penolakan terhadap Islam Nusantara berkisar pada: “seharusnya meng-Islam-kan Nusantara, bukan me-nusantara-kan Islam.” Jika membandingkan gagasan Islam Nusantara secara komprehensif dengan slogan tersebut, penolakan itu rasanya tidak nyambung. Sebagai orang awam pemahaman saya terhadap gagasan Islam Nusantara sebenarnya sederhana:

Dalam memandang agama harus dibedakan mana yang ‘substantif’ dan mana yang ‘bentuk’, mana yang isi dan mana yang kemasan. Yang substantif dalam agama tak akan berubah dan tidak boleh diubah. Ia bersifat universal dan fundamental. Ia merupakan nilai-nilai dan, karena itu, abstrak, seperti keesaan Tuhan, keadilan, kemanusiaan dan lain-lain. Adapun ‘bentuk’ bersifat historis, konkrit, bisa berubah sesuai konteks, yakni aplikasi nilai-nilai universal dan fundamental tadi, dan setiap masyarakat di setiap masa punya cara masing-masing dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut. Dalam Islam Nusantara atau Islam Indonesia, yang “di-nusantara-kan” atau “di-indonesia-kan” adalah ‘bentuk’ bukan yang substantif, kemasan bukan isi, sebab substansi dan isi memang tak bisa diapa-apakan. Cara menerapkan keadilan bagi masyarakat Arab berbeda dengan masyarakat Nusantara, begitu pula keadilan bagi orang Barat berbeda dengan keadilan bagi orang kita. Nabi Saw pernah mengatakan: “kamu lebih tahu urusan duniamu”. “Dunia” dalam nasihat Nabi itu bisa difahami sebagai ‘bentuk-bentuk’, perwujudan dari nilai-nilai, sebab alam dunia adalah bayangan dari alam sebenarnya dan hakiki, asal-muasal nilai-nilai, yakni akhirat. Jadi, wajar saja jika banyak orang keliru memahami gagasan Islam Nusantara karena sudah keliru cara pandangnya. Bagi yang tahu ilmu Nahwu, dalam pemahaman saya, mungkin Islam Nusantara jika dibahasa-arabkan berkerangka sifah wa al-mawshuf, bukan mudhaf-mudhaf ilayh, ada juga yang menyebut tarkib majaziy. Banyak orang yang nampaknya memahami Islam Nusantara dalam kerangka mudhaf-mudhaf ilayh, padahal ia seharusnya difahami sebagai sifah wa al-mawshuf. Yang pasti saya menangkap banyak hal positif dalam gagasan progresif yang sebenarnya sudah lama dilaksanakan tapi baru sekarang diributkan itu.

Iklan