SEKILAS TENTANG ISLAM NUSANTARA

(Tulisan ini hanyalah kilas pandang saya dalam memahami Islam Indonesia atau Islam Nusantara, suatu pandangan tentang nilai dan bentuk Islam dengan konteks Nusantara)

Sudah menjadi teori yang sampai saat ini disepakati banyak ilmuwan bahwa Islam masuk ke Indonesia (atau Nusantara) dengan jalan damai tanpa melalui cara-cara kekerasan dan pemaksaan. Kebanyakan ahli sepakat bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 M dan gelombangnya mencapai titik puncak pada abad ke-11 M, dari Arab. Melalui teori ini dapat dikatakan Islam yang datang ke Nusantara adalah Islam yang datang dari masyarakat Islam-Arab. Namun demikian, Islam yang datang dari Arab berasimilasi (bercampur, berdialog) dengan budaya-budaya lokal dan bentuk kompromi Islam-Arab dengan budaya Nusantara itu adalah kasus yang unik. Proses islamisasi yang terjadi di Nusantara berbeda dengan yang terjadi di belahan dunia lain dikarenakan jauhnya Nusantara dari titik awal keberangkatan penyebaran Islam (Arab). Sebagian ahli lain mengatakan bahwa hasil dari proses islamisasi di Nusantara berbentuk Adhesi, artinya penduduk Nusantara memeluk Islam sembari masih mempertahankan komitmen terhadap kepercayaan dan praktek keagamaan lokal mereka di luar kepercayaan yang profetik atau yang menyangkut ushul al-din (prinsip-prinsip dasar agama).

Islam NusantaraNamun dalam rentang sejarah proses persentuhan Islam dengan budaya lokal terus terjadi hingga saat sekarang ini dan bentuknya bisa bermacam-macam, bisa dengan cara damai, bisa pula dengan cara-cara yang revolusioner, seperti kehadiran Imam Bonjol pada tahun 1890-an yang membawa pengaruh-pengaruh Salaf dan gerakan-gerakan puritanisme lain yang pola dakwahnya nampak lebih represif – hal ini disebabkan oleh faham sebagian ulama yang menginginkan perubahan cepat dan murni dalam kepemelukan Islam di masyarakat Nusantara. Karena itu, sejauh ini kita hanya dapat menyimpulkan bahwa islamisasi Nusantara melibatkan suatu proses yang bersifat evolusioner, atau islamisasi yang berproses secara pelan dengan berbagai macam bentuk persentuhan dengan budaya lokal. Hal ini tak terlepas pula dari sifat Islam Nusantara yang sangat terbuka sehingga apa yang terjadi di dunia Islam berpengaruh besar terhadap situasi Islam di Nusantara (Azra, 2003)

Sejak dimulainya era reformasi di Indonesia Islam muncul dalam kelompok-kelompok yang berbeda-beda yang masing-masing ingin diakui keberadaannya setelah di era Orde Baru suara-suara itu dibungkam oleh otoritas dan Islam hanya mewujud dalam dua arus utama, Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, yang sama-sama bersikap moderat dan mengusung Islam yang toleran dan inklusif. Namun kehadiran kembali gerakan-gerakan Islam puritan yang sebagiannya adalah anak cabang dari gerakan-gerakan Islam internasional – seperti HTI, MMI, PKS, dan lain-lain – yang nampaknya mencoba ingin mereformasi Islam dan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara ekstrim, sehingga menggoyang keharmonisan kehidupan bangsa ini yang masyarakatnya multi-kultur. Selain kelompok keagamaan, kelompok-kelompok masyarakat berbasis kesukuan juga ingin menonjolkan identitasnya, sehingga jika tidak disikapi dengan baik justru akan merongrong keutuhan negara ini. Menyikapi ini maka diperlukan konsep Islam yang dapat menjaga keutuhan masyarakat multi-kultur yang sudah sekian lama hidup dalam ke-Bhinneka Tunggal Ika-an. Konsep yang dimaksud adalah “Islam inklusif”.

Secara etimologi kata “inklusif” yang diperlawankan dengan kata “ekslusif” merupakan bentuk kata jadian yang berasal dari bahasa Inggris “inclusive” dan “exlusive” yang masing-masing memiliki makna “termasuk didalamnya” dan “tidak termasuk didalamnya/ terpisah”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “eksklusif” berarti “terpisah dari yang lain”. Sedangkan inklusif berarti “termasuk, terhitung”. Islam merupakan agama yang sangat inklusif, dan bukan merupakan ajaran yang bersifat eksklusif. Tapi inksklusifitas itu bukanlah yang bermaksud perbedaan agama yang di pahami oleh kelompok liberal. Inksklusifitas Islam yang dimaksud adalah agama yang universal dan dapat diterima oleh semua orang yang berakal sehat tanpa memperdulikan latar belakang, suku bangsa, status sosial dan atribut keduniawian lainya.”

Islam inklusif merupakan pandangan bahwa semua agama dan kearifan lokal yang ada dalam setiap budaya memiliki kebenaran dan memberikan manfaat dan keselamatan bagi para penganutnya, sebagaimana di Indonesia banyak terdapat beraneka ragam budaya dan tradisi. Dalam artian lain bahwa, Islam inklusif mempunyai pandangan  bahwa agama-agama dan kearifan-kearifan lokal yang ada di sekeliling kita memiliki kebenaran yang sama, yaitu sama-sama mempunyai tujuan yang sama yaitu kepada Allah. Hanya saja cara menuju kepada Allah yang berbeda antara agama yang satu dengan agama yang lainnya.

Islam inklusif mengharuskan umat Islam meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang paling benar, namun Islam melarang untuk merendahkan agama lain. Apalagi menyakiti penganut agama non Islam. Sikap merendahkan penganut non muslim justru akan menunjukkan bahwa agama Islam bukan agama yang mulia. Nabi Muhammad SAW, merupakan sebuah suri tauladan yang baik yang layak dijadikan panutan dalam konteks ini. Dalam kehidupan beliau sebagai pememimpin masyarakat Madinah, sikap toleran terhadap umat yang lainnya merupakan ciri dari kepemimpinannya. Islam inklusif merupakan sebuah pandangan yang mengajarkan tentang sikap terbuka dan toleran dalam beragama dan dengan berhubungan dengan segala hal di luar Islam. Sikap terbuka dan toleran akan berdampak pada relasi sosial yang bersifat sehat dan harmonis antar sesama warga masyarakat.

Dasar Islam yang inklusif adalah konsep bahwa Nabi Muhammad diutus oleh Allah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) sebagaimana diajarkan al-Qur`an, jadi Islam yang dibawa Rasul adalah Islam yang berpijak pada kasih sayang dan cinta kepada seluruh alam. Selain itu, keragamaan agama dan budaya adalah sebuah keniscayaan teologis. Teologi Islam (tauhid) mengandung makna yang lebih dalam sebagai dasar inklusifitas Islam. Pertama, pengabdian sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa ketuhanan tunggal murni yang menjadi prinsip dasar tauhid berimplikasi pada pengabdian terhadap satu objek ketuhanan saja, yakni Allah Swt Yang Maha Tunggal dan kekuasaan-Nya tak terbagi-bagi itu. Mengabdi berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt, suatu semangat yang memang diusung oleh agama Islam, dimana “islam” berarti “penyerahan diri”. Maka dari itu, segala fikiran, perasaan, dan perbuatan harus selalu diniatkan lillahi ta’ala, demi Allah ta’ala. Karena Tuhan adalah sumber segala sifat baik dan terpuji, maka fikiran, perasaan dan perbuatan harus didasarkan pada kebaikan dan kebenaran.

Kedua, ketinggian Tuhan dan kesetaraan makhluk. Konsepsi tauhid pada penghujungnya hanya mengakui dua keberadaan, yakni Tuhan dan makhluk, dimana yang disebut terakhir pada hakikatnya tiada (fana`) dan yang wujud hanya Dia Yang Maha Tunggal. Karena hanya Allah Yang Maha Ada dan tiada sesuatu yang lain pun yang mampu menyamai-Nya maka hanya Allah-lah Yang Maha Tinggi sedangkan makhluk sangatlah rendah, hanya Allah Yang Maha Kuat sedangkan makhluk sangatlah lemah. Karena seluruh makhluk lemah dan rendah maka derajat mereka pun sama saja dalam kerendahan dan kelemahan itu. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah daripada yang lain. Karena itu, tiada alasan bagi manusia untuk merasa takut dengan sesama manusia dan takut kepada makhluk lain karena tak ada yang lebih tinggi dari mereka. Namun manusia pun tak memiliki alasan untuk merasa tinggi dan menganggap yang lain rendah sehingga ia menyakiti sesama manusia, merendahkan sesama, menghina sesama, menggunjing sesama, mendengki sesama, memerangi sesama, dan lain-lain. Manusia pun tak punya alasan untuk menyakiti makhluk-makhluk lain, baik berupa binatang, tumbuh-tumbuhan, bebatuan, sungai, laut, dan seluruh makhluk di alam semesta. Karena itulah Islam mengajarkan kita untuk tidak mengeksploitasi alam, merusaknya dan menghancurkannya. Dengan demikian, tauhid juga mengandung makna pengakuan akan keagungan Tuhan dan kesetaraan seluruh makhluk.

Konsekuensi dari Islam inklusif adalah: (1) Islam adalah agama terbaik, namun keselamatan di luar agama Islam adalah hal yang mungkin, dan (2) Islam adalah agama yang berkembang (progresif). Karena itu, perlu diterapkan metode kontekstual dalam memahami al-Qur`an dan Sunnah. Kontekstualisasi al-Qur`an terwujud dalam konsepsi Islam Indonesia sebagaimana diusung banyak kalangan akhir-akhir ini.

Pertama-tama Islam Indonesia menghidupkan kembali sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang mengambil bentuk asimilasi dengan budaya-budaya lokal. Hal ini menimbulkan gairah untuk menggali kembali khazanah intelektual Islam klasik di Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Wali Songo, ‘Abd al-Samad al-Palimbani, Nur al-Din al-Raniri, Muhammad Nafis al-Banjari, dan Muhammad Arsyad al-Banjari berserta karya-karya mereka dalam pelbagai bidang agama, ditemukan dan diangkat kembali sebagai sumber-sumber intelektual Islam Indonesia. Ini adalah wujud dari Islam washathan (terinspirasi dari ajaran al-Qur`an), yakni Islam yang berada di tengah-tengah di antara dua kubu ekstrim, dalam hal ini kedua kubu ekstrim yang dimaksud adalah Timur Tengah dan Barat. Islam Indonesia berada pada posisi di tengah kedua kubu itu, sehingga Islam Indonesia tidak puritan, tekstual, islamis, seperti Islam di Timur Tengah saat ini dan tidak pula liberal, sekular, atheis, seperti Barat. Dengan demikian, Islam Indonesia berarti Islam yang difahami secara kontekstual oleh orang Indonesia sendiri dan sumber-sumber keislaman ini dapat ditemukan dalam khazanah intelektual Islam klasik Indonesia.

Naskah KunoSebagai contoh dari kontekstualisasi Islam yang didapat dari karya intelektual Islam klasik adalah konsep pembagian harta waris oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Datuk Kelampayan (gelar Muhammad Arsyad) tidak membagi harta waris seperti sudah dikenal dalam ilmu Faraidh, yakni bagi suami yang ditinggal mati istri mendapat harta separuh dari harta waris dan istri mendapat seperempat harta. Bagi Syekh Arsyad sebelum seluruh harta waris dibagi sesuai hukum Faraidh, harta itu harus dibagi terlebih dahulu separuh-separuh. Paruh pertama untuk suami atau istri yang ditinggal mati istri atau suaminya. Paruh kedua dibagi sesuai dengan hukum waris Islam. Pembagian semacam ini adalah bentuk kontektualisasi Islam dimana kondisi sosial masyarakat Banjar memperlihatkan bahwa suami dan istri sama-sama bekerja atau memiliki andil yang sama dalam keluarga, berbeda dengan masyarakat Arab di zaman Rasul yang masih kental dengan kesenjangan kelamin antara laki-laki dan perempuan. Separuh harta waris yang dibagikan sebelum diterapkannya Faraidh ini disebut dengan harta bersama atau harta perpantangan atau harta papantangan.

Dengan demikian, para ulama Islam klasik Nusantara telah lebih dahulu menerapkan kontekstualisasi ajaran al-Qur’an sebagai wujud dari inklusifitas Islam terhadap budaya dan tradisi lokal. Kontekstualisasi Islam inilah kemudian yang coba dilakukan gerakan Islam Nusantara sebagaimana kita lihat hari ini.

Iklan

KONSEKUENSI MENJADI EKSKLUSIF

radikalismeSejauh ini, misi gerakan-gerakan terorisme berkedok agama telah berhasil. Menyebar ketakutan. Hanya saja, tindakan mereka berimbas pada keberadaan gerakan-gerakan radikal lain yang seinduk. Citra gerakan-gerakan salafi radikal semakin buruk dan popularitasnya semakin menurun. Inilah yang kiranya menjelaskan mengapa gerakan-gerakan salaf tidak suka terorisme meski di sudut hati mereka menganggap gerakan-gerakan radikal aplikatif itu pahlawan (benci tapi rindu).

Di lain pihak, masyarakat semakin paranoid dengan gerakan dakwah salafi. Ini ditunjukkan dengan semakin tajamnya penglihatan orang terhadap ciri-ciri simbolik mereka, seperti pakaian, perilaku, dan gaya hidup. Orang bersikap waspada terhadap orang yang berjenggot tebal dan panjang, bercelana di atas mata kaki, dan jilbab panjang bercadar. Terakhir pemerintah melalui Kemenkominfo menutup situs-situs internet yang berisi faham-faham radikal. Ini menunjukkan sikap paranoid itu.

Saya adalah seorang nahdhiyyin yang berjenggot cukup panjang dan tidak terlalu suka memakai songkok. aat saya mengikuti pelatihan GP Ansor saya sempat dicurigai penyusup. Padahal saya merawat jenggot karena istri saya, anggota muslimat NU dan berkerudung biasa, melihat saya lebih ganteng jika berjenggot.

Apapun itu, dipandang secara paranoid itu wajar, sebab itulah konsekuensi menjadi kelompok yang eksklusif. Sekian.