JANGAN SOMBONG MENJADI PENGIKUT MUHAMMAD SAW

syukurAllah dalam kitab-Nya sebut bahwa kehadiran Rasulullah Saw adalah nikmat dari Allah Swt kepada orang-orang yg beriman. (QS.Ali Imran:163)
Disebut nikmat karena beliaulah yang membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, menyucikan jiwa mereka, dan mengajari mereka Kitab dan hikmah. Padahal sebelumnya orang-orang mukmin itu berada dalam kesesatan yang nyata. Bayangkan jika Allah tak mengutus Rasul dan ia tidak memberi petunjuk jalan kebaikan, pastilah kita dan seluruh manusia sesat. Karena itulah kedatangan Rasul yang menerangi jalan hidup kita disebut sebagai nikmat.

Yang namanya nikmat tentu harus disyukuri. Kita tentu ingat bahwa jika bersyukur atas nikmat yang kita punya Allah tambah nikmat itu. Sebaliknya jika tak bersyukur (kufr) Allah pasti mengazab kita dengan penderitaan yang terasa amat pedih. Demikianlah disampaikan-Nya dalam QS.Ibrahim:7. Ayat ini juga menyampaikan bahwa salah satu sifat orang kafir adalah tidak bersyukur atas nikmat yang diperolehnya. Jadi orang yang mengaku muslim pun bisa dianggap memiliki sifat orang kafir jika tidak bersyukur. Dengan demikian, kekafiran lebih berupa kualitas, bukan pengakuan di mulut atau catatan identitas diri.

Lalu apa itu syukur? Syukur adalah perasaan hati dan pengakuan jiwa bahwa nikmat yang diterima berasal dari Allah semata, bukan dari yang lain atau dari usaha sendiri. Dengan kata lain, “apa yang kupunya adalah bentuk kemurahan Allah”, bukan “ini semua kudapat dari upaya dan keahlianku.” Jadi, dalam rasa syukur ada unsur ketauhidan, pengakuan akan kemahakuasaan Allah sekaligus pengikisan rasa keegoan dan keakuan. Bersyukur berarti meninggikan Allah dan merendahkan diri sendiri serta menghilangkan sifat sombong.

Lalu bagaimana pemahaman ini dipadankan dengan ayat yang mengatakan kedatangan Rasulullah itu nikmat? Sebagai umat Nabi Muhammad Saw yang disebut nabi paling mulia dari nabi-nabi yang lain, kita harus bersyukur atas status itu, yakni bahwa kita menjadi umat Muhammad adalah anugerah Tuhan, bukan karena kemuliaan kita sendiri. Sikap syukur menjadi umat Muhammad diwujudkan dalam bentuk kerendahan hati, bukan dengan kebanggaan dan kesombongan. Maka kita tidak boleh sombong dan merasa tinggi hati karena jadi umat Rasulullah Saw dan menganggap umat lain rendah. Orang yang menganggap orang lain rendah dan dirinya tinggi hanya karena orang lain itu tidak mengikuti Muhammad berarti tidak bersyukur atas nikmat menjadi umat Muhammad. Dan tidak bersyukur adalah salah satu sifat orang kafir.

Sekian. Mari penuhi jiwa kita dengan rasa syukur. (@Dhanida11)

Iklan

TAHUN GAJAH

tahun-gajahTahun Gajah dikenal sebagai tahun ketika Nabi Muhammad Saw lahir dari rahim seorang wanita mulia, Aminah binti Wahhab. Disebut Tahun Gajah (‘am al-fil) karena di tahun itu ada sebuah peristiwa menakjubkan tercatat dalam sejarah dan diingat semua orang sepanjang zaman. Pada tahun itu, pasukan tentara bergajah dari Habsyi (sekarang Ethiopia) yang dipimpin oleh Abrahah menyerang kota Mekkah, khususnya bangunan suci kebanggaan bangsa Arab, Ka’bah. Namun pasukan bergajah tersebut mengalami nasib naas di tengah jalan sebelum sampai ke kota Mekkah, sehingga gagallah rencana serangan itu.

Umat Islam mengenal sejarah itu sebagai kegagalan golongan kafir untuk menghancurkan kota Mekkah dan potret keagungan Allah yang menggagalkan rencana jahat mereka dengan mengirimkan berjuta burung Ababil yang datang dari neraka membawa batu-batu panas dan menghujamkannya kepada pasukan bergajah itu sehingga binasalah mereka. Namun sejarah tidak hanya berbicara sampai di situ. Para hali menyebutkan bahwa serangan raja Habsyi dilatarbelakangi oleh sikap berbau politis, khususnya dalam bidang agama dan perdagangan.

Zaman itu Mekkah adalah kota yang terletak di antara wilayah dua negara adidaya yang selalu bersaing dalam berbagai hal, kerajaan Persia di satu pihak dan kerajaan Byzantium (Sekarang Istanbul di Turki, Byzantium adalah nama kota itu saat masih dikuasai kekaisaran Romawi) di pihak lain. Persaingan antara keduanya melahirkan perseteruan politis, termasuk dalam dunia perdagangan. Salah seorang Persia bernama Dzu Nuwas rupanya bermain secara licik, yakni membunuh para saudagar Romawi dan setiap kafilah dagang yang mengadakan perjalanan bisnis antara Habsyi dan Byzantium. Hal ini tentu merugikan pihak Byzantium. Karena itulah kaisar Byzantium memerintahkan penguasa Habsyi untuk menghabisi Dzu Nuwas dan antek-anteknya. Dikirimlah beberapa pimpinan rahib dan Abrahah untuk menghajar Dzu Nuwas, namun Abrahah rupanya bertindak berlebihan karena ambisi dagangnya yang ingin memperluas distribusi dagangnya ke kota Mekkah yang saat itu bukan di bawah kekuasaan negara manapun.

Mekkah menjadi sasaran karena kota itu adalah kota pusat perdagangan yang sangat penting dan tempat transit para kafilah dagang, termasuk kafilah dagang Persia, musuh Byzantium. Selain itu, Mekkah juga adalah sebuah kota suci sekaligus bersejarah. Di sanalah Nabi Ibrahim beserta anaknya, Ismail, membangun sebuah bangunan berbentuk kubus yang disebut sebagai rumah Tuhan (bayt Allah) yang kita kenal dengan Ka’bah. Setiap tahun banyak orang dari dalam dan luar Mekkah mendatangi Ka’bah guna melakukan ibadah haji, tentu saja sistematika peribadatannya tidaklah persis sama dengan apa yang diajarkan Muhammad kemudian.

Hal ini tentu menguntungkan pihak pengurus kota Mekkah secara financial karena tradisi tahunan ini dapat memberikan pemasukan keuangan bagi kota Mekkah. Hasil devisa tersebut misalnya didapat dari hasil pungutan pajak, aktivitas perdagangan di sekitar Ka’bah, pelayanan haji, biaya penginapan, dan lain-lain. Semua ini masih nampak hingga sekarang, dimana salah satu pemasukan terbesar Arab Saudi selain minyak adalah ibadah haji.

Bagi orang-orang zaman dulu, penduduk kota Mekkah sebagai pengurus Ka’bah juga mendapat tempat yang mulia sebagai penjaga rumah Tuhan dan penyedia layanan ibadah haji. Tugas tersebut merupakan tugas yang mulia dan bersifat keagamaan. Gelar kehormatan keagamaan yang didapat pengurus Ka’bah dan kemuliaan bagi kota Mekkah itu membuat Abrahah merasa terendahkan. Dengan hal ini nampaknya Abrahah merasa harus bertindak. Si raja Habsyi pun berang sehingga timbullah inisiatifnya untuk menyerang Ka’bah dengan membawa ribuan pasukan bergajah.

Muhammad Ridha, seorang ahli sejarah Muslim, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad lahir bertepatan tanggal 20 Agustus 570 M, atau 50 hari setelah peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah dari Habsyi. Ini berarti peristiwa itu terjadi sekitar akhir bulan Juni, saat dimana cuaca padang pasir Arab mencapai 55 derajat celcius. Cuaca panas setengah mendidih tersebut mengakibatkan pasukan bergajah terserang penyakit cacar mematikan. Penyerangan Ka’bah pun gagal dan hal ini diketahui oleh Abdul Muthalib, kepala suku Quraisy saat itu.

Sumber: Khalil Abdul Karim, Quraisy min al-Qabilah ila al-Dawlah al-Markaziyyah.

SELAMAT MERAYAKAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW