PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN TENTANG PENDIDIKAN

Fazlur RahmanMunculnya gerakan pembaharuan di Timur Tengah dengan motor-motornya, seperti Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M), Muhammad Abduh di Mesir (1845-1905 M), Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M)di India, dan Rasyid Ridha (1865-1935 M), di satu sisi nampak merupakan potret terbukanya mata umat Islam bahwa Barat telah mendahului mereka dalam peradaban. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi senjata kolonialisme atas negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim membangkitkan kesadaran akan pentingnya membuka kembali pandangan umat Islam terhadap pengetahuan, setelah sebelumnya terbelenggu pada kemandegan selama berabad-abda. Pasca gerakan tersebut umat Islam pun bergerak membuka kembali keran ijtihad. Namun persoalan baru muncul: Bagaimana memadukan warisan pengetahuan Barat yang ditemui umat Islam pasca-kolonialisme dan menjadi nafas hampir seluruh penduduk dunia dengan nilai-nilai Islam?

Muncullah Seyyed Hossein Nasr (1933-…)dan Syed Muhammad Naquib al-Attas (1931-…). Yang pertama muncul dengan gagasan spiritualisme pengetahuan, sedang yang kedua dengan gagasan islamisasi ilmu.[1] Namun keduanya dinilai belum memuaskan secara epistemologis, sebab keduanya hanya berhenti pada persoalan aksiologis, yakni bagaimana ilmu pengetahuan disisipi dengan nilai-nilai Islam. Lalu hadirlah Fazlur Rahman (1919-1988 M) yang mencoba memperlihatkan pola hubungan ontologis dan epistemologis agama dan pengetahuan.

Fazlur Rahman dapat dikatakan sebagai seorang pemikir yang komplit. Ia tidak hanya seorang pemikir peradaban Islam, melainkan juga seorang filosof, pemikir pendidikan, ahli tafsir, bahkan pemikir sufi. Penelitian yang dilaksanakan Abdul Hakim, seorang dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin, memaparkan pemikiran-pemikiran sufistik Fazlur Rahman.[2] Dalam tesis tersebut ia disebut-sebut melahirkan pemikiran sufistik yang bercampur dengan neomodernisme Islam.[3] Ia memang mewakili kecenderungan tersebut, sehingga ia dibandingkan dengan al-Ghazali dalam penelitian yang dilakuka Sibawaihi ketika berbicara mengenai eskatologi.[4]

Karena neomodernisme Islam yang melekat kuat pada konsepsi-konsepsinya maka nilai-nilai rasionalisme tidak dapat dienyahkan. Dengan itu maka Islam dibaca dengan menghubungkannya pada gagasan-gagasan inter-disipliner yang saling berkaitan. Maka tak ayal ia pun berbicara mengenai pendidikan. Di sini kita kita terlebih dahulu membicarakan pandangannya tentang hubungan agama dan pengetahuan, barulah melangkah pada pemikirannya tentang pendidikan.

Agama dan Pengetahuan

Kehidupan Fazlur Rahman dilatarbelakangi oleh suasana kebangkitan kembali pengetahuan dengan berbagai permasalahannya pasca gerakan pembaharuan di Timur Tengah. Gerakan pembaharuan memang didasari oleh keterkejutan terhadap kemajuan Barat sekaligus kesadaran yang timbul di kalangan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan, namun juga meninggalkan semangat humanism yang cukup berguna bagi pemikir selanjutnya. Fazlur Rahman sendiri menyatakan: “bahwa pembaharuan modernism klasik setidak-tidaknya telah berupaya mengadakan reformasi internal, yakni menanamkan rasionalisme sebagai solusi awal terhadap kemacetan dan kemerosotan intelektual”.[5] Karena itulah, nilai-nilai relijius-humanistik begitu kental dalam pemikiran-pemikiran Fazlur Rahman, termasuk ketika membahas mengenai hubungan agama dan pengetahuan. Persoalan ini penting dalam rangka meletakkan dasar-dasar pendidikan Islam, sebab bagaimana mendidik jika pendidik tidak memahami terlebih dahulu apa yang ingin diajarkan kepada anak didik?

Sebelumnya juga telah disinggung bahwa Fazlur Rahman mencoba menyikapi persoalan tentang bagaimana menghubungkan agama dengan pengetahuan, yang menjadi bahasan paling penting di zamannya, bahkan hingga masa sekarang. Jika Seyyed Hossein Nasr dan Syed Muhammad Naquib al-Attas berbicara hanya pada tataran aksiologi, maka Fazlur Rahman mencoba menggagasnya pada tataran ontologi dan epistemologi. Awalnya Rahman mengkritik pandangan para pendahulunya yang menganggap bahwa ada yang salah dengan ilmu pengetahuan. Ia menyatakan bahwa tak ada yang salah dengan dengan ilmu pengetahuan, hanya yang menggunakannya saja yang bisa membawa ilmu pengetahuan kepada hal-hal yang membahayakan umat Islam. Baik dan buruk tergantung kepada si pemakainya. Ia mengibaratkan ilmu pengetahuan dengan pisau di tangan manusia.[6]

Di sini Rahman telah meletakkan pondasi ontologis pengetahuan, yakni bahwa pengetahuan adalah entitas yang berada di luar dan di dalam agama. Di luar berarti pengetahuan terlepas dari segala bentuk egoisme dan identitas keagamaan dan bersifat universal, sedang di dalam berarti pengetahuan berasal dari Tuhan. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan di dalam al-Qur`an, yakni bahwa semua pengetahuan datangnya dari Allah, sebagain diwahyukan kepada orang-orang yang dipilih-Nya melalui ayat-ayat qur`aniyyah dan sebagian lagi melalui ayat-ayat kauniyyah yang diperoleh manusia dengan menggunakan indra dan akalnya. Dengan demikian, pengetahuan yang diwahyukan mempunyai kebenaran yang absolute sedangkan pengetahuan yang diperoleh indera dan akal kebenarannya tidak mutlak.[7]

Rahman juga menyatakan bahwa di dalam al-Qur`an kata “al-‘ilm” (ilmu pengetahuan) menunjuk pada semua jenis ilmu. Contohnya, ketika Allah mengajarkan bagaimana Daud membuat baju perang, itu juga al-‘ilm. Bahkan sihir (sihr), sebagaimana yang pernah diajarkan oleh Harut dan Marut kepada manusia, itu juga merupakan jenis al-‘ilm meski jelek dalam arti praktek dan kegunaannya, sebab banyak yang menyalahgunakan sihir untuk memisahkan suami dari istrinya. Begitu pula hal-hal yang memberi wawasan baru pada akal, termasuk al-‘ilm.[8]

Dari uraian ini dapat dikatakan bahwa ilmu Allah dapat diketahui dan dipelajari melalui dua jalur, yaitu jalur ayat-ayat qur`aniyyah dan jalur ayat-ayat kauniyyah. Keduanya saling menjelaskan, namun penjelasan itu didapat dengan interpretasi manusia. Manusia dalam pemikiran Rahman, sekali lagi, mendapat tempat yang tinggi dalam otoritas ilmu pengetahuan, sehingga dapat kita simpulkan bahwa ilmu pengetahuan harus mengintegrasikan, jika boleh meminjam istilah Abid al-Jabiri, epistemologi bayani (berdasarkan teks) dan burhani (rasional). Jadi, tidak ada dikotomi, atau bahasa lugasnya pengistilahan, antara ilmu yang disebut umum dan ilmu agama. Semuanya menyatu secara multidisipliner. Ketika kita mempelajari fiqih, misalnya, kita juga mempelajari ilmu sosiologi, sejarah, ilmu administrasi, dan lain-lain. Ketika mempelajari teologi atau kalam, kita juga mempelajari antropologi, astronomi, dan lain-lain. Oleh karena itu, wajar bila kemudian pemikiran Rahman ini muncul dalam berbagai bentuk modifikasi pemikiran, seperti penafsiran al-Qur`an berdasarkan konteks sosio-kultural atau hermeneutika al-Qur`an dan liberalism Islam, tafsir al-Qur`an berdasarkan semangat pembebasan seperti dalam karya Ashghar Ali Engineer, tafsir al-Qur`an berdasarkan pandangan seorang ahli teknik sipil seperti Muhammad Shahrur, dan lain-lain. Pandangan integrasi ilmu inilah yang menunjukkan bahwa Fazlur Rahman menancapkan pondasi epistemologi pengetahuan yang penting bagi dunia kita saat ini.

NYT2009042202553940CPendidikan

Ketika berbicara mengenai pendidikan, Fazlur Rahman terlebih dahulu mengkritisi perkembangan pemikiran pendidikan di masanya, yakni yang bernuansa modernism Islam yang dibawa oleh para pembaharu. Menurutnya tujuan pendidikan Islam yang ada saat itu tidaklah benar-benar diarahkan pada tujuan yang positif. Tujuan pendidikan Islam hanya cenderung kepada kehidupan akhirat semata dan cenderung bersifat defensif, yaitu untuk menyelamatkan umat Islam dari pencemaran dan pengrusakan yang ditimbulkan oleh dampak gagasan-gagasan Barat yang datang melalui berbagai disiplin ilmu, terutama gagasan-gagasan yang mengancam standar-standar moralitas tradisional Islam.[9]

Dalam kondisi kepanikan spiritual itu, strategi pendidikan Islam yang dikembangkan di seluruh dunia Islam bersifat mekanis. Akibatnya, muncullah golongan yang menolak segala apa yang berbau Barat, bahkan ada pula yang mengharamkan pengambilalihan ilmu dan teknologinya, sehingga apabila kondisi ini terus berlanjut akan dapat menyebabkan kemuncuran umat Islam.

Menurut Rahman, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, tujuan pendidikan Islam yang bersifat defensif dan cenderung berorientasi hanya pada kehidupan akhirat harus segera diubah. Tujuan pendidikan Islam harus berorientasi kepada kehidupan dunia dan akhirat serta bersumber pada al-Qur`an.

Kedua, beban psikologis umat Islam dalam menghadapi Barat harus segera dihilangkan. Untuk ini Rahman menganjurkan supaya dilakukan kajian Islam yang menyeluruh secara historis (kontekstual) dan sistematis (logis) terhadap perkembangan disiplin-disiplin ilmu – yang semula dikatakan – Islam, seperti teologi, hukum, etika, hadits, ilmu-ilmu sosial, dan filsafat, dengan berpegang kepada al-Qur`an sebagai dasar nilai. Disiplin ilmu-ilmu Islam yang telah berkembang dalam sejarah itulah yang menjadikan kehidupan intelektual dan spiritual masyarakat muslim berjalan dengan dinamis. Melalui upaya tersebut diharapkan bebas psikologis umat Islam dalam menghadapi Barat dapat hilang.

Ketiga, sikap negatif umat Islam terhadap ilmu pengetahuan (sains) juga harus dirubah. Menurut Rahman, tidak ada yang salah dengan ilmu pengetahuan, yang bisa salah adalah penggunanya.

Pola pendidikan yang cenderung defensive karena beban psikologis dan sikap negative terhadap ilmu pengetahuan yang diimplementasikan dalam bentuk dikotomi pengetahuan (ilmu umum dan ilmu agama) harus dihapuskan dengan cara mengintegrasikan apa yang disebut dengan ilmu umum dan ilmu agama secara organis dan menyeluruh.[10] Jadi, perlu dirumuskan secara epistemologis, rumusan ilmu yang mengintegrasikan ilmu-ilmu tersebut sebagai bahan ajar dalam pendidikan Islam, bukan sekedar “melabelkan” Islam pada ilmu pengetahuan atau membuang “virus-virus” tertentu dalam ilmu pengetahuan dan memberi nilai-nilai Islam sebagaimana dicetuskan al-Attas. Tak ada lagi penyebutan “umum” atau “agama” pada ilmu tertentu.

Dengan demikian di dalam kurikulum maupun silabus pendidikan Islam harus tercakup baik ilmu-ilmu seperti ilmu sosial, ilmu alam dan sejarah dunia maupun ilmu-ilmu seperti fiqih, kalam, tafsir, hadits, dan lain-lain sebagai satu kesatuan. Menurut hemat kami, apa yang telah dilakukan Azyumardi Azra pada Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah adalah langkah menuju integrasi tersebut.[11]

Metode integrasi epistemologis seperti yang ditawarkan oleh Rahman itulah yang pernah diterapkan pada masa keemasan Islam. Pada masa itu ilmu dipelajari secara utuh dan menyeluruh antara ilmu-ilmu yang diperlukan untuk mencapai kesejahteraan di dunia dengan ilmu-ilmu untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Pendekatan integralistik epistemologis itu, yang melihat adanya hubungan fungsional antara apa yang disebut dengan “ilmu umum” dan “ilmu agama”, telah berhasil melahirkan cerdik-pandai yang memiliki pikiran-pikiran kreatif dan terpadu serta memiliki pengetahuan luas dan mendalam. Ibnu Sina, misalnya, selain ahli agama, juga seorang psikologis, ahli dalam ilmu kedokteran dan lain sebagainya. Demikian pula dengan Ibnu Rusyd, disamping sebagai ahli hukum Islam dan filsafat, ia juga ahli dalam bidang matematika, fisika, astronomi, logika, dan ilmu pengobatan.[12]

Kesimpulan

Integrasi ilmu secara epistemologis sebagai bahan ajar dalam pendidikan Islam menjadi tema utama dalam pemikiran Fazlur Rahman tentang pendidikan. Gagasan ini nampak kontekstual di tengah suasana keislaman kita saat ini yang masih terpenjara dalam penggolongan ini “Islam” dan itu “bukan Islam” yang bertopang pada unsur identitas dan simbol-simbol. Jika berlandaskan pada pemikiran Nurcholis Madjid tentang “huruf besar” dan “huruf kecil” maka penggolongan kita terhadap segala hal berkisar pada Islam dengan “I” besar. Bersamaan dengan itu penggolongan tersebut disikapi secara defensif, dalam arti yang bukan Islam harus ditolak atau dibersihkan dari nilai-nilai yang bukan Islam. Sifat eksklusif yang defensif inilah yang, menurut Fazlur Rahman, harus dibuang dari pola fikir umat Islam.

Perubahan pola fikir ini juga berlaku dalam pandangan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan sebagai bahan ajar dalam pendidikan Islam. Islamisasi ilmu mungkin telah dikenal dan diterapkan oleh sebagian ilmuwan Islam, namun bagi Fazlur Rahman sikap ini justru masih menimbulkan kesimpangsiuran epistemologis, sehingga penerimaan kita terhadap ilmu pengetahuan – yang karena berasal dari Barat sehingga dinilai dimasuki nilai-nilai Barat – terkesan paradoks, menerimanya di satu sisi namun menolaknya di sisi lain. Dengan demikian integrasi-epistemologis ilmu bagi Fazlur Rahman adalah sikap paling tepat terhadap ilmu pengetahuan, dalam bahasa yang sederhana, ilmu pengetahuan harus disikapi sebagai bukan berasal dari mana-mana, melainkan dari Allah semata.

Catatan-catatan:

[1] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang,1994), h. 45 dan 57.

[2] Abdul Hakim, Pemikiran Tasawuf Fazlur Rahman, Tesis, Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Banjarmasin, 2005.

[3] Neomodernisme Islam pada dasarnya adalah kecenderungan pemikiran yang menjabarkan Islam dengan latar belakang nilai-nilai relijius-humanistik. Cirri-cirinya antara lain adalah sikap yang liberal (dalam arti kebebasan manusia dalam mengonsepsi pengetahuan), kritis sembari apresiatif terhadap warisan pemikiran Islam dan Barat sekaligus. Karena itu neomodernisme menekankan pentingnya ijtihad yang sistematis (logis) dan komprehensif (multi-disipliner). Lihat Abd A’la, Dari Neomodernisme ke Islam Liberal, (Jakarta: Paramadina, 2003), h. 20.

[4] Sibawaihi, Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman: Studi Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer, (Yogyakarta: Islamika, 2004).

[5] Fazlur Rahman, Revival and Reform in Islam (terj.), (Jakarta: Rajawali Press,2000), h. 24.

[6] Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur`an (terj.), (Bandung: Pustaka, 1992), h. 7

[7] Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (terj.), (Bandung: Pustaka, 1985), h. 72

[8] Fazlur Rahman, Major…, h. 69.

[9] Fazlur Rahman, Islam…, h. 86.

[10] Fazlur Rahman, Islam…, h. 145.

[11] Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah hanya memiliki satu jurusan studi, yakni Studi Islam. Dengan ini para mahasiswa dapat melakukan studi terhadap Islam dengan berbagai landasan ilmu, tidak hanya ilmu yang disebut “agama” tetapi juga ilmu “agama”.

[12] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2000), h. 77.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s