DIALOG: TRADISI MERAYAKAN TAHUN BARU HIJRIYAH DAN ASYURA

Perayaan Tahun Baru HijriyahBerikut adalah dialog saya dengan seorang ibu mengenai peringatan Tahun Baru Hijriyah dan Asyura beberapa waktu lalu. Beberapa poin dalam dialog ini sangat menarik. Berikut petikannya, dan bagaimana pendapat pembaca diserahkan kepada pembaca pula:

Ibu (U): Afwan, dari mana asal mula diadakannya air dan bubur asyura, dan apa keutamaanya..?

Saya (S): Banyak versinya, bu, dan bagi saya semuanya tidak dapat membuktikan kebenaran dan tidak pula dapat dibuktikan kekeliruannya. Yang jelas, ia adalah tradisi masyarakat kita.

U: Mutaassif (kasihan), tradisi dari mana akhi, dan kalau tidak bisa membuktikan kebenaran dan kesalahan mohon penjelasannya, apa boleh tradisi dicampur dengan ritual agama..?

S: Budaya tidak akan bisa dipisahkan dari agama, bu. Sebab melalui budaya-lah agama yang berasal dari langit (ghaib/abstrak) bisa hadir di bumi (hadhir/nyata). Sebagian ritual agama , dalam konteks Islam, berasal dari tradisi yang sudah ada sebelumnya, seperti shalat, puasa, haji, yang mengalami modifikasi oleh Nabi. (Kita tentu ingat bahwa Nabi Muhammad tidaklah datang membawa agama baru, tapi perbaikan dan penyempurnaan terhadap agama-agama sebelumnya yang mengalami penyimpangan). Budaya adalah sarana agama untuk mewujud dalam kehidupan, selama nilai-nilai universal (ushul) agama tidak dilanggar. Meski begitu, bersama dengan tak terpisahkannya budaya dengan agama, kita juga harus “memisahkan” keduanya pada tataran pemahaman. Bagaimanapun budaya bukanlah agama, kita harus bisa memilah mana budaya dan mana agama sehingga kita tidak dapat memaksakan satu bentuk budaya tertentu untuk menghadirkan agama kepada orang lain, karena sarana untuk menghadirkan agama bisa dengan bentuk apa saja.

U: Afwan, apakah tradisi dari firqoh yang menyimpang harus kita jadikan tradisi juga..?

S: Sebagaimana disebut sebelumnya, tradisi atau budaya adalah sarana mewujudkan agama ke ranah konkrit, jadi bisa apa saja selama tidak melanggar hal-hal ushul. Kita punya tradisi sendiri, firqoh lain juga punya tradisi, bukan berarti harus mengikuti tradisi firqoh lain, hanya kita menghormati saja. “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS.64:16)

U: Orang-orang sesat dan menyimpang semisal kelompok Batiniyah, Syi’ah Rafidhah, dan yang setipe dengan mereka. Merekalah pencetus pertama adanya berbagai perayaan dan peringatan (yang tidak ada bimbingan dalam agama) di negeri Muslimin. Seorang yang sangat Faqih bermadzhab Syafi’iy, sekaligus pakar sejarah yang berasa dari negeri Mesir, yang dikenal dengan al-Miqrizy menjelaskan dalam kitabnya “al-Khithath”:

“Peringatan tahun baru Hijriyah merupakan salah satu dari serangkaian perayaan Daulah al-‘Ubaidiyah penganut agama Bathiniyah Isma’ilyah yang sejatinya adalah Syi’ah Rafidhah sekaligus Khawarij, yang berkuasa di negeri Maroko dan Mesir. Daulah ini melakukan berbagai kejahatan terhadap para ulama, para mu’adzin, para penduduk negeri tersebut yang tidak bisa digambarkan seperti pembunuhan, mutilasi (memotong-motong bagian anggota badan), menawan orang-orang perempuan, menjarah harta, merusak milik orang lain, menghancurkan dan membakarnya. Bahkan di antara para pembesarnya ada yang mengklaim derajat Rububiyah (yakni mengaku sebagai Tuhan). Di antara para pembesar tersebut ada yang terang-terangan mencela para Nabi dan para shahabat, bahkan memerintahkan untuk menuliskan celaan-celaan terhadap para sahabat di pintu-pintu masjid!! Adapula yang memerintahkan untuk membakar mushaf-mushaf dan masjid-masjid Ahlus Sunnah!! Bahkan dijelaskan oleh Ahli Sejarahnya kaum muslimin, yaitu Syamsuddin adz-Dzahabi ad-Dimasyqiy asy-Syafi’iy rahimahullah di dalam kitab beliau “Siyar A’lamin Nubala” bahwasannya mereka memutarbalikkan Islam, menampakkan (aqidah) Rafidhah, menyembunyikan madzhab Isma’iliyyah (salah satu sekte bathiniyyah).”

Dinukilkan dari al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliky rahimahullah, menjelaskan keadaan mereka : “Para Ulama negeri al-Qairawan sepakat bahwasannya keadaan Bani ‘Ubaid adalah sama dengan keadaan orang-orang murtad dan orang –orang zindiq.” Tidak ada keraguan lagi bahwa meniru dua kelompok diatas merupakan kejelekan, kerugian serta kebinasaan bagi pelakunya. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Artinya : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka, dia termasuk dari mereka (kaum tersebut).” Seorang pecinta Sunnah dan mencintai Nabi umat ini Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia, menghormati beliau dan para shahabatnya serta menganggungkannya, akankah dia rela menjadikan kaum tersebut yang demikian perbuatan dan sepak terjangnya, yang demikian sejarah kejahatannya, sebagai suri tauladannya dan panutannya dalam mengada-adakan acara tersebut??! Kami –walhamdulillah- dalam peringatan semacam ini dan selainnya, senantiasa bersuri tauladan kepada Nabi Salallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, para Tabi’in dan generasi awal umat ini. maka kami pun meninggalkan dan menjauhinya sebagaimana mereka menjauhinya dan tidak melakukannya, dengan harapan kami termasuk dari mereka. Kami tidak akan meniru orang-orang kafir, tidak pula meniru orang-orang sesat dan menyimpang dari kalangan al-Bathiniyah al-Isma’ilyah ar-Rafidhah al-Khorijiyah.

Bagi siapa saja yang memiliki akal dan pikiran yang bersih, perlu diketahui bahwa peristiwa hijrahnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah terjadi pada bulan Muharram, tidak pula di hari pertama bulan tersebut. Sebagaimana disebutkan oleh ahli sejarah, peristiwa hijrah tersebut terjadi pada bulan Rabi’ al-Awal. Adapun apa yang dilakukan di kalangan shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu hanya sebatas penentuan tahun Islamiyah dengan tahun Hijrah, yaitu menjadikan peristiwa sebagai tahun pertama, bukan menentukan hari Hijrahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan hari tersebut adalah hari pertama dalam setahun. dari Khutbah Asy-Syaikh ‘Abdul Qadir al-Junaid.

S: Perlu bukti lebih otentik untuk menghubungkan tradisi bubur Asyura dengan firqoh tertentu, dan perlu keberanian untuk mengatakan peristiwa Hijrah Nabi tidak pada bulan Muharram. Perayaan Tahun Baru Hijriyah bagi saya saat ini nampak sebagai ekspresi masyarakat untuk “menyaingi” perayaan Tahun Baru Masehi. Jadi mari kita hormati. Insya Allah tujuannya untuk meningkatkan takwa.

U: Jazakumullahu khair atas Ilmunya.

Iklan

MAKNA DI BALIK PENANGGALAN HIJRIYAH

hijrahWaktu terus bergulir dan tahun pun terus berganti. Hari ini kita sudah sampai pada titik ke 1436 dari perhitungan tahun hijriiyah atau yang dikenal dunia dengan tahun Islam. Saya sebenarnya kurang sepakat jika tahun atau penanggalan hijriyah disebut sebagai tahun atau penanggalan Islam, sebab tahun hijriyah milik semua orang, sebagaimana halnya tahun masehi. Namun demikian, saya bangga bahwa sistem pembacaan waktu itu dilahirkan dan ditetapkan oleh orang Islam.

Kita tentu sudah maklum bahwa penanggalan hijriyah adalah suatu sistem pembacaan waktu yang pertama kali diprakarsai oleh salah seorang Sahabat Nabi Muhammad Saw, ‘Umar ibn Khaththab. Penanggalan hijriyah ini didasarkan pada perhitungan rotasi bulan terhadap bumi, dimana bulan sekali perputaran bulan mengelilingi bumi itu memakan waktu 29 atau 30 hari, berbeda dengan penanggalan masehi yang didasarkan pada revolusi bumi terhadap matahari. Penanggalan hijriyah dimulai dari peristiwa urbanisasi Nabi Muhammad Saw dan seluruh pengikutnya dari Mekkah ke kota yang masyarakatnya lebih kosmopolit dan plural/ multikultural, Madinah, yang sekaligus menandai reorientasi dakwah Nabi setelah sempat gagal di kota Mekkah yang cenderung feodal dan mengagungkan prinsip kesukuan – kondisi sosial masyarakat Madinah diyakini menjadi modal utama yang sangat penting bagi suksesnya misi reformasi spiritual dan kultural yang dilaksanakan Nabi. Sampai saat ini belum diketahui secara jelas sistematika matematis perhitungan yang melandasi terciptanya penanggalan hijriyah ini, sebab harus kita akui kelahiran penanggalan hijriyah adalah produk kebudayaan yang unik mengingat karakteristik masyarakat Arab Utara yang hingga menjelang kedatangan Rasulullah miskin budaya kecuali dalam bidang bahasa dan sastra. Dengan demikian, penanggalan hijriyah adalah terobosan yang sangat tak ternilai hebatnya bagi masyarakat Arab saat itu.

Mungkin tak ada makna implementatif yang lebih luhur di balik peristiwa hijrah Nabi itu selain “perubahan”. Bergantinya tahun hijriyah berarti perubahan dalam segala hal, dari keadaannya yang biasa atau bahkan buruk kepada keadaan yang lebih baik. Sebuah kerugian bagi seseorang jika keadaan hari ini tak berubah atau bahkan lebih buruk dari hari kemarin. Namun, sangat menarik jika kita melihat makna di balik penanggalan hijriyah yang dimulai dari suatu peristiwa, bukan dimulai dari kelahiran atau kematian seorang figur tertentu, seperti dalam penanggalan masehi. Penanggalan hijriyah dimulai dari peristiwa hijrah nabi yang melambangkan suatu perubahan kualitatif dalam masyarakat muslim, mengajarkan kita bahwa bagi Islam suatu kemuliaan terletak pada kualitas, bukan pada kefiguran seseorang. Dengan demikian, Islam mengajarkan kita bahwa seseorang atau sesuatu itu mulia karena kualitasnya, bukan karena keturunan, suku, bangsa, bahasa, atau agamanya. Al-Qur`an pun menegaskan bahwa orang paling mulia dilihat dari kualitas takwanya (QS. al-Hujurat: 13) dan Nabi juga menjelaskan bahwa Allah tidak akan memandang penampilan dan pakaian seseorang tapi pada hatinya. Sebuah ungkapan terkenal di kalangan para ulama bisa pula kita perpegangi mengenai perihal ini: “al-syarafu bi al-adabi la bi al-nasabi” (kemuliaan itu karena adab bukan karena keturunan). Melalui peringatan peristiwa hijrah ditandai dengan pergantian tahun hijriyah ini marilah kita merubah pola fikir kita dalam memandang sesorang atau sesuatu agar sesuai dengan ajaran Islam yang mulia dan diridhai Tuhan itu.

SELAMAT TAHUN BARU 1436 HIJRIYAH, SEMOGA KITA SEMUA DALAM KEBAIKAN SEPANJANG TAHUN INI

TENTANG TAUHID DAN PENERAPANNYA DALAM KEHIDUPAN

sujudBarangkali pertanyaan yang muncul atau setidaknya pernah terlintas dalam benak kita adalah: bagaimana menerapkan Tauhid dalam kehidupan sehari-hari? Bagaimana suatu konsepsi akan ketuhanan yang tinggi di atas sana bisa dibuat nyata dalam kehidupan sehari-hari di bawah sini? Maklum, konsep Tauhid yang merupakan pondasi agama Islam ini memang konsep ketuhanan paling rumit, karena Tuhan terlepas dan suci dari segala unsur kemanusiaan. Momentum puncaknya adalah ketika Tuhan sendiri menegaskan bahwa laysa kamitslihi syay’ (tiada sesuatu yang serupa dengan-Nya).

Sebuah teori lama mengenai studi agama yang sebenarnya perlu dikritik, namun dalam tulisan ini disampaikan sebagai titik berangkat kita dalam memahami konsep tauhid. Teori yang dikembangkan oleh tokoh seperti Max Weber dan RN. Bellah ini, bahwa dalam sejarah manusia agama mengalami evolusi. Sebagaimana difahami dalam ilmu Biologi, evolusi berarti perubahan biologis makhluk hidup sangat lambat dari bentuknya yang paling sederhana kepada bentuk yang paling rumit atau kompleks. Pandangan terhadap perkembangan agama nampaknya mengambil teori evolusi biologis ini sebagai analogi. Dengan demikian, agama pun berubah secara lambat dari bentuknya sederhana kepada bentuk yang kompleks dan rumit, yakni dari animisme, dinamisme, politeisme, hingga bentuk mutakhir, monoteisme (Tuhan yang Tunggal).

Hal ini nampaknya diperkuat oleh Ibn Khaldun yang terkenal sebagai ahli sosiologi sejarah. Dari bahasan dalam Muqaddimah-nya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Bahwa Nabi Muhammad Saw turun sebagai pembawa risalah terakhir Tuhan yang menyempurnakan ajaran-ajaran-Nya terdahulu. Ini berarti konsep tentang Ketuhanan Yang Maha Tunggal sudah ada sebelum Muhammad – kita sudah maklum akan hal ini – hanya saja orang-orang di periode sebelum Muhammad belum mampu menerima ketunggalan Tuhan sehingga Tuhan difahami dengan sifat-sifat kemanusiaan, misalnya Tuhan memiliki anak dan dilahirkan, Tuhan membagi diri-Nya dalam berbagai bentuk sesuai dengan fungsinya sebagai Pembina atau Penghancur, dan lain-lain. Karena yang dibawanya adalah risalah final, maka konsepnya harus sempurna dan harus difahami secara sungguh-sungguh karena setelah itu tidak ada lagi penyempurnaan. Untuk memahami konsep final itu maka diperlukan masyarakat yang mampu menyerap pengetahuan agung Muhammad itu dengan baik. Masyarakat Arab adalah masyarakat yang mampu menerima hal ini karena setidaknya dua hal:

Pertama, Masyarakat Arab hidup di daerah beriklim sedang. Ibn Khaldun membagi dunia ke dalam 7 macam daerah iklim. Daerah iklim kesatu dan kedua terletak di sekitar ekuator (khatulistiwa) sehingga iklimnya panas. Daerah iklim keenam dan ketujuh terletak di dekat kutub sehingga iklimnya dingin. Kedua bagian dunia yang panas dan dingin tidak memungkinkan lahirnya peradaban besar, bahkan sifat manusia yang hidup di kedua iklim ini cenderung barbar dan lebih dekat kepada binatang. Adapun iklim ketiga, keempat, dan kelima yang terletak di antara garis ekuator dan garis kutub beriklim sedang sehingga lebih memungkinkan munculnya peradaban besar di sana. Para Nabi yang membawa pengetahuan tinggi diperkirakan turun di daerah-daerah beriklim sedang ini yang karena iklimnya lahirlah masyarakat yang tingkat pola pikirnya lebih mampu menyerap pengetahuan.

Kedua, masyarakat Arab mengkonsumsi makanan lebih sedikit. Daerah iklim ketiga dan kelima meski sedang namun lebih dekat kepada iklim panas dan dingin. Khusus daerah iklim ketiga yang ditinggali masyarakat Arab badui, sedikitnya daerah subur dan lahan pertanian memaksa mereka untuk hidup berpindah-pindah dan mengkonsumsi makanan yang terbatas. Berbeda dengan masyarakat yang hidup di daerah subur dimana sumber makanan berlimpah, menyediakan berbagai macam makanan untuki dikonsumsi. Berbagai macam makanan yang masuk ke dalam badan mengeluarkan uap yang mampu memenuhi otak sehingga mengganggu kejernihan pikiran. Konsumsi makanan yang terbatas dan kadang hanya memakan satu jenis makanan saja dapat memperlancar kerja pikiran, menegapkan badan, dan menghaluskan kulit. Inilah ciri-ciri yang nampak dari orang-orang dalam masyarakat Arab badui.

Modal-modal inilah yang memudahkan Nabi Muhammad menyampaikan risalah Tuhan yang berisi konsepsi Ketuhanan Yang Maha Tunggal yang rumit itu. Selain itu, jazirah Arab sudah sejak lama menjadi tempat tinggal masyarakat monoteis (berkeyakinan kepda Tuhan Tunggal), khususnya kaum Yahudi dan Nasrani, sehingga kedatangan Rasul bukannya membawa konsepsi keberagamaan yang baru, melainkan menyempurnakan agama-agama yang terdahulu. Lalu apa bedanya ketuhanan Muhammad dengan konsep ketuhanan monoteis yang sudah ada sebelumnya?

Suatu hari seorang Nasrani mendatangi Nabi Muhammad dan bertanya: “Hai Muhammad, gambarkanlah Tuhanmu yang engkau yakini itu (sampai engkau begitu ngotot menyeru kami untuk mengikutimu beriman kepada Tuhanmu – pen.)! Apakah ia terbuat dari emas atau mungkin perak atau bebatuan berharga lain?” Tak lama setelah mendapat pertanyaan itu Nabi pun menerima wahyu dari Tuhan: “Katakanlah hai Muhammad, Dia-lah Allah Yang Maha Tunggal. Hanya Allah-lah tempat bergantung. Ia Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tiada sesuatu pun yang mampu menyerupai-Nya.” (QS. Al-Ikhlash:1-4)

Rangkaian ayat yang tercantum dalam al-Qur`an ini dimulai dengan penegasan secara umum bahwa ketuhanan yang diserukan Muhammad adalah ketuhanan monoteistik mutlak. Menurut para ahli tafsir, ketunggalan Allah bermakna tiga hal: Pertama, bahwa Allah Maha Tunggal sehingga tidak mengenal pembilangan (ta’addud). Dalam kajian tasawuf menyebut “Allah itu Satu” sebenarnya masih keliru sebab “satu” adalah bilangan yang dibedakan dari “dua”, “tiga” dan seterusnya, sedangkan ketunggalan Allah tak dapat dijelaskan dengan dibedakan dari yang lain. Ketunggalan Allah bersifat mandiri dan karena itu mutlak. Kedua, bahwa Allah Maha Tunggal sehingga tiada Tuhan selain Dia dan tiada yang berkedudukan dengan kedudukan-Nya. Ketiga, bahwa Allah Maha Tunggal sehingga Ia tidak dapat dibagi-bagi, entah dalam zat-Nya maupun sifat-sifat-Nya, seperti dalam konsep ketuhanan lain yang mengakui adanya Tuhan Kepala, Tuhan Pencipta, dan Tuhan Penghancur, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, karena Tuhan tak dapat dibagi-bagi maka hanya Allah-lah tempat bergantung dan memohon pertolongan. Hal ini menunjukkan keterpusatan pengabdian kepada Allah saja, bukan di saat tertentu kepada Tuhan yang ini dan di saat lain kepada Tuhan yang itu.

Tuhan Muhammad adalah Tuhan yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, seperti halnya makhluk. Maka dari itu, Tuhan tidaklah sama sekali berunsur makhluk. Ia bersih dan suci dari segala sifat yang dimiliki makhluk. Dengan ini maka agenda tauhid adalah pembersihan dan penyucian Tuhan dari berbagai sifat kemahklukan. Pembersihan dan penyucian disebut dalam bahasa Arab dengan “ikhlash”, berasal dari kata “khalish” yang berarti bersih dan suci. Maka wajarlah jika kemudian rangkaian jawaban Nabi Muhammad terhadap pertanyaan tantangan orang Nasrani sebagaimana diceritakan di atas disajikan dalam al-Qur`an dalam sebuah Surah yang dinamai “al-Ikhlash”. Akhirnya, kesucian Tuhan tak akan mampu diserupai apa dan siapapun selain daripada-Nya.

Kini sampailah kita pada pertanyaan utama kita, yakni bagaimana mewujudkan konsepsi Tuhan Yang Maha Tunggal dalam kehidupan? Di sini setidaknya ada dua jawaban:

Pertama, pengabdian sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa ketuhanan tunggal murni yang menjadi prinsip dasar tauhid berimplikasi pada pengabdian terhadap satu objek ketuhanan saja, yakni Allah Swt Yang Maha Tunggal dan kekuasaan-Nya tak terbagi-bagi itu. Mengabdi berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt, suatu semangat yang memang diusung oleh agama Islam, dimana “islam” berarti “penyerahan diri”. Maka dari itu, segala fikiran, perasaan, dan perbuatan harus selalu diniatkan lillahi ta’ala, demi Allah ta’ala. Karena Tuhan adalah sumber segala sifat baik dan terpuji, maka fikiran, perasaan dan perbuatan harus didasarkan pada kebaikan dan kebenaran.

Kedua, ketinggian Tuhan dan kesetaraan makhluk. Konsepsi tauhid pada penghujungnya hanya mengakui dua keberadaan, yakni Tuhan dan makhluk, dimana yang disebut terakhir pada hakikatnya tiada (fana`) dan yang wujud hanya Dia Yang Maha Tunggal. Karena hanya Allah Yang Maha Ada dan tiada sesuatu yang lain pun yang mampu menyamai-Nya maka hanya Allah-lah Yang Maha Tinggi sedangkan makhluk sangatlah rendah, hanya Allah Yang Maha Kuat sedangkan makhluk sangatlah lemah. Karena seluruh makhluk lemah dan rendah maka derajat mereka pun sama saja dalam kerendahan dan kelemahan itu. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah daripada yang lain. Karena itu, tiada alasan bagi manusia untuk merasa takut dengan sesama manusia dan takut kepada makhluk lain karena tak ada yang lebih tinggi dari mereka. Namun manusia pun tak memiliki alasan untuk merasa tinggi dan menganggap yang lain rendah sehingga ia menyakiti sesama manusia, merendahkan sesama, menghina sesama, menggunjing sesama, mendengki sesama, memerangi sesama, dan lain-lain. Manusia pun tak punya alasan untuk menyakiti makhluk-makhluk lain, baik berupa binatang, tumbuh-tumbuhan, bebatuan, sungai, laut, dan seluruh makhluk di alam semesta. Karena itulah Islam mengajarkan kita untuk tidak mengeksploitasi alam, merusaknya dan menghancurkannya. Dengan demikian, tauhid juga mengandung makna pengakuan akan keagungan Tuhan dan kesetaraan seluruh makhluk.

PERSOALAN KURIKULUM: MATERI ATAU METODE?

Kegiatan Belajar MengajarSaat ini dunia pendidikan Indonesia sedang ramai membicarakan perihal Kurikulum 2013. Nama kurikulum yang menggantikan Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan (KTSP) ini adalah “Kurikulum 2013”, padahal kita sekarang sudah di bagian akhir tahun 2014 dan kurikulum masih belum dilaksanakan secara menyeluruh, ditambah sebentar lagi pemerintahan berganti yang sangat mungkin perubahan kurikulum lagi. Menurut beberapa kalangan, kurikulum ini perlu lebih banyak pengembangan lagi karena pihak guru dan murid masih kesulitan mengimplementasikannya dalam bentuk konkrit di sekolah. Keterangan mengenai Kurikulum 2013 bisa dilihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_2013 .

Dalam pembacaan saya, pada dasarnya Kurikulum 2013 berorientasi pendidikan karakter, sebagaimana digemakan banyak para ahli pendidikan akhir-akhir ini. Dengan arah demikian, maka Kurikulum 2013 berupaya lebih memfokuskan pendidikan pada pembentuk sisi afektif dan psikomotor siswa ketimbang sisi kognitifnya. Sisi afektif berarti sikap dan perilaku siswa dan sisi psikomotor berarti keterampilan siswa. Sampai di sini kita mungkin mengapresiasi inisiatif penyusun kurikulum pendidikan di tengah kondisi moral bangsa yang sudah mencapai taraf memprihatinkan.

Persoalan yang muncul adalah pada sistem penilaian. Bagaimana mengukur sikap dan perilaku siswa, sebab rasanya tidak mungkin menilai sikap dan perilaku yang bersifat rasa dan karsa manusia – karena itu tak dapat dilihat secara empiris melainkan secara rasa dan karsa pula – dengan angka-angka atau huruf-huruf. Karena itu, penilaian sikap dan perilaku haruslah berbentuk kualitatif, sehingga buku laporan belajar siswa hanya berisi narasi-narasi.

Persoalan lain pun muncul. Penilaian kualitatif menuntut pandangan objektif guru. Sejauh mana objektivitas guru dalam menilai sikap dan perilaku siswa? Sebab, walau bagaimanapun, guru juga manusia yang dipengaruhi oleh kondisi emosi dan perasaannya. Bisa saja guru menilai siswa yang sebenarnya baik perilakunya namun tidak suka orangtuanya karena alasan tertentu justru menilai siswa itu dengan penilaian yang buruk atau tidak terlalu baik. Bisa pula guru paruh baya menilai berdasarkan kecantikan wajah siswi dan hal ini sering saya temui saat saya masih mengajar di sebuah sekolah khusus putri. Banyak lagi hal-hal lain yang mengganggu objektivitas guru dalam menilai perilaku siswa. Dengan demikian, kualitas guru harus diberikan perhatian lebih.

Soal kualitas guru memang salah satu hal paling fundamental yang nampaknya belum menjadi perhatian utama dalam penyusunan kurikulum. Melalui penyusunan kurikulum yang belum juga rampung dan cepat berubah selama ini, dunia pendidikan kita nampaknya lebih memperhatikan materi daripada metode. Jika kita perhatikan, KBK, KTSP, hingga Kurikulum 2013 secara mendasar, jenis-jenis kurikulum tersebut pada intinya adalah berisi materi pendidikan dan pengajaran. Meski ada pula dibahas mengenai metode, namun kapasitasnya sangat sedikit dan tidak menjadi sorotan. Dari tahun ke tahun kita selalu memperdebatkan materi hingga tak pernah rampung satu pun. Pelatihan-pelatihan, seminar-seminar, dan diskusi-diskusi untuk guru menghabiskan energi dengan hanya berkutat pada persoalan materi, tidak pada metode.

KH. Imam Zarkasyi, pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, yang dimasukkan dalam jajaran tokoh pendidikan di Indonesia pernah berujar: “al-thariqah ahammu min al-maddah” (metode lebih utama daripada materi). Secanggih-canggihnya materi tak akan bisa sampai pada tujuannya tanpa metode yang tepat untuk menyampaikannya. Sebaliknya, metode yang baik akan membuat materi yang sederhana sekalipun menjadi bermakna. Wajarlah jika KH. Imam Zarkasyi membangun pondok pesantren yang agenda utamanya adalah tarbiyah al-mu’allimin al-islamiyyah (Pendidikan Islami bagi para pengajar), sebab pada akhirnya seluruh hidup kita adalah aktivitas mendidik dan dididik, apapun profesi kita nantinya. Bagi Pak Zar, demikian beliau dikenal, pendidikan bukan sekedar aktivitas di sekolah, melainkan seluruh aktivitas hidup selama 24 jam setiap hari adalah pendidikan, seperti kalimat beliau yang terkenal, “apa yang kau lihat, dengar, dan rasakan, itulah pendidikan”. Dengan ini maka materi pendidikan dan pengajaran sudah terpampang dalam keseharian anak didik, tinggal bagaimana metode pendidik dan pengajar memberikan makna dan inspirasi saat anak didik berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari itu.

Dalam konteks pendidikan kita, maka materi (maddah) memang berperan penting dalam aktivitas pendidikan dan pengajaran tapi tidak sepenting metode (thariqah). Karena itu, sudah saatnya kita lebih banyak memenuhi rumusan pendidikan dan pengajaran kita pada metode. Kita telah banyak menyaksikan perbedaan kualitas pendidikan dan pengajaran di berbagai sekolah padahal kurikulumnya sama. Ini menunjukkan perbedaan metode, sekolah mana yang menjalankan metode yang lebih baik.

Metode yang baik menuntut kualitas guru yang baik pula, terlebih pada niat pendidikan kita saat ini yang nampak ingin sekali membangun karakter anak didik, sebab pada akhirnya karakter anak didik ditentukan oleh karakter pendidik. Dengan demikian, pelatihan-pelatihan kependidikan hendaknya dipusatkan kepada pembentukan karakter dan mentalitas guru, bukan sekedar sistem kegiatan belajar-mengajar. Konsep tarbiyah al-mu’allimin yang dijalankan oleh KH. Imam Zarkasyi menunjuk pada pendidikan kepribadian guru, bukan pada sistem. Selain itu, ada ungkapan yang sudah sangat masyhur, kalau tidak salah berbunyi: “al-tarbiyah ‘amal al-‘ulama` wa al-anbiya`” (mendidik itu pekerjaan para ulama dan para nabi). Ungkapan ini menunjukkan betapa mulianya guru. Guru karena itu bukanlah sekedar profesi tapi suatu keterampilan khas yang tidak sembarang pribadi dapat melaksanakannya. Pendidik adalah sumber keteladanan utama dan, tanpa melupakan metode lain, keteladanan adalah metode paling tepat dan efektif dalam membentuk akhlaq anak didik, sebagaimana dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul. Wallahu a’lam bi al-shawabi.

“Inti dari pekerjaan guru adalah menginspirasi”Amaliyah al-Tadris

Program ‘Amaliyah al-Tadris (praktek mengajar).

Salah satu kegiatan dalam proses pendidikan Pondok Pesantren Modern Gontor terhadap calon pendidik

“KRITIK”

Diskusi IlmiahSeorang agamawan kemarin mengajak saya untuk sering saling bertemu, mengobrol dan berbincang mengenai masalah-masalah agama. Saya jawab dengan cukup antusias bahwa hal itu bagus sekali dan saya pun merasa “kesepian” di kota kecil ini karena tak ada kawan diskusi.

Saya katakan bahwa saya tidak terlalu suka dengan “pengajian” tapi lebih menyukai “pengkajian” karena di dalamnya ada diskusi. Dalam diskusi ada saling komentar, saling kritik, dan saling memberi pendapat. Semula saya fikir tidak ada yang salah dengan kata-kata saya, namun rupanya ada persoalan. Sontak agamawan itu menolak kata “kritik”.

Baginya “kritik” adalah sesuatu yg negatif karena mengandung perasaan tinggi diri dan merendahkan orang lain. Dalam fikiran saya “kritik” bukanlah berarti “menyalahkan” tapi “menyelidiki” suatu wacana, mulai dari bangunan berfikirnya, perbandingannya dengan wacana lain yang berbicara hal serupa, sampai implementasi wacana di ranah praksis. Demikianlah aktivitas “kritik” seharusnya difahami. Pengertian “kritik” inilah yg difahami para ilmuwan sejak dulu kala mulai al-Farabi dan Ibnu khaldun.

Salah kaprah terhadap sesuatu memang selalu menjadi kendala kaum agamawan dalam membangun keilmuan, jika memang ingin membangun. Kesalahkaprahan ini bisa mengantar agamawan kepada pandangan agama yg eksklusif terhadap segala sesuatu. Para agamawan terlalu cepat menilai segala sesuatu. Mungkin ini karena semangat keagamaan yang hanya berorientasi pada Fiqih, dimana imaji hitam-putih, halal-haram, mendasari pola fikir. Agama pun kaku dan membisu.

Maka dari itu, penting kiranya para agamawan membuka diri terhadap hal-hal baru. Mereka harus lebih banyak melihat dan mendengar segala yang disekitar, bukan lebih banyak berbicara mengenai segala yang disekitar. Bukankah Allah sudah menasihati manusia untuk banyak melihat dan mendengar alam semesta yang di sana terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya, yakni kebenaran?!

ISLAM HUMANIS

HandsSeringkali pertanyaan muncul di benak, kenapa agama dan orang-orang di bidang agama dianggap bidang yang dijauhkan dalam pergaulan orang-orang modern? Secara halus, dalam berbagai sikap dan perlakuan, agama dan agamawan dipinggirkan karena dianggap tidak mampu memuaskan kehidupan masyarakat modern, meskipun kita tidak menutup maka akan masih adanya sebagian masyarakat yang relijius. Hal ini diperparah dengan kemunculan kelompok-kelompok radikal agama dengan pemikiran dan aksi radikal yang memperburuk citra agama.

Menanggapi ini agama malah mengeksklusifkan diri dan menganggap orang-orang di luar bidang agama “tak mendapat hidayah”, “hatinya tertutup”, dan lain sebagainya. Agama malah menjustifikasi negatif. Ya, mungkin itulah jawabannya. Agama hadir di tengah masyarakat sebagai sesuatu yg eksklusif, “sesuatu yang di seberang sana”. Agama dikemas dalam bentuknya yg membedakan diri dari manusia dan masyarakat. Agamawan merasa diri sebagai “aku” yang spesial, sedang “yang lain” adalah lawan yg harus ditundukkan. Dalam fikiran agama, manusia adalah pihak yang harus “diagamakan”. Ini tentu saja keliru.

Institusi agama bisa menjadi salah satu pemicu eksklusivitas agama ini di tengah masyarakat. Logika sesuatu yg terinstitusi, terstandar, selalu membingkai agama dalam batasan-batasan yg kemudian memunculkan pembedaan-pembedaan, ini aku dan itu bukan aku, yang “bukan aku” harus tunduk. Jika ini dibiarkan, agama hanya akan jadi sesuatu yang selalu dipinggirkan dan dijauhi dan dakwah sebagai agenda agama pun pupuslah. Pada akhirnya, agama pun terasing dari masyarakat dan masyarakat terasing dari agama.

Dengan demikian, pola fikir eksklusif dalam agama harus direkonstruksi. Agama hendaknya tak lagi berfikir “mengagamakan manusia”, orientasi agama harus bergerak dari “mengagamakan manusia kepada “memanusiakan agama”. Agama harus dikemas dalam bentuknya yang humanistik, manusiawi. Ini berarti bagaimana agama menyesuaikan diri dengan kemanusiaan. Sebagai contoh, bidang teologi hendaknya berorientasi humanis, dengan memperluas ruang kebebasan manusia (free will), meskipun “memperluas” bukan berarti tidak membatasi; bidang fiqh atau hukum agama harus humanis, dengan mashlahah masyarakat menjadi nilai dasar hukum; warisan bidang Tasawuf pun tak sedikit yg membahas tajalli-nya Tuhan dalam jiwa manusia; dan secara umum agama harus dikembalikan kepada pengertiannya yang substansial, yakni sebagai keyakinan dan, karena itu, bersifat spiritual, bukan sekedar kemasan politik, ekonomi, dan sosial-budaya, meski percampuran agama dengan bidang-bidang tersebut tak dapat dihindari. Implikasinya, misalnya, dalam konteks interaksi sosial seorang agamawan tak perlu “meresmikan” pakaiannya dengan gamis, surban, kopiah, janggut, terlihat melaksanakan shalat, terlihat berpuasa, dan lain-lain, namun keberagamaan harus dilihat dalam implementasi ajaran agama yang pada intinya adalah akhlak yang terpuji (al-akhlaq al-karimah). Maka dari itu, penafsiran-penafisran baru terhadap ajaran agama yang humanistik harus digalakkan dalam rangka menjadikan agama tetap sebagai pegangan hidup manusia. Sebagian kita mungkin sudah maklum bahwa zaman yang dikatakan sebagai zaman keemasan umat Islam, menurut ahli sejarah, lahir dengan didorong oleh semangat humanisme yang memenuhi semangat masyarakat dan pemerintah kekhalifahan Bani ‘Abbas di Baghdad.

Pemahaman agama yang humanistik sangat terlihat bahkan dari riwayat Sahabat yang sudah sangat terkenal. Suatu hari saat ‘Umar ibn Khaththab ingin mengeksekusi seseorang yang kedapatan mencuri. Sang Khalifah tentu mengetahui bahwa dalam hukum Islam hukuman potong tangan adalah hukuman layak bagi seorang pencuri, namun beliau justru tidak memotong tangan si pencuri. ‘Umar justru melakukan refleksi terhadap kasus hukum tersebut, dimana hasil pemikirannya berkesimpulan bahwa terjadinya pencurian tidak dengan serta-merta direduksi kepada keburukan moral, melainkan karena tatanan sosial yang tidak rapi. Ia berpendapat bahwa rendahnya tingkat ekonomilah yang membuat si pencuri melakukan perbuatan kriminalnya. Untuk itu ia sebagai pemerintah harus melakukan pembenahan di bidang ekonomi agar dapat mencegah tidak kejahatan pencurian.

Intinya adalah bahwa agama haruslah humanis, bergabung dan menyatu dgn manusia dan kehidupannya, agar manusia merasa bahwa hakikatnya hidup hanyalah pengabdian kepada Tuhan dan dengan ini manusia merasa bahwa agama adalah bagian dari kehidupannya.