SEKILAS TENTANG AL-QUR`AN (BAGIAN 3 / TERAKHIR)

Al-Qur`anPerdebatan-Perdebatan Seputar al-Qur`ân

Kedekatan al-Qur`ân dengan kehidupan umat Islam juga terlihat dari perdebatan-perdebatan yang mengemuka seputar al-Qur`ân. Mungkin bagi sebagian kita menganggap berdebat adalah sesuatu yang kesannya negatif, namun debat (jadal), sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`ân, adalah salah satu teknik dakwah. Hanya saja berdebat lebih bersifat defensif ketimbang ofensif, bertahan bukan menyerang. Ini yang kadang kurang difahami oleh sebagian pendakwah. Dalam sejarah, kelahiran teologi Islam dan filsafat Islam berawal dari perdebatan-perdebatan sebagai pertahanan terhadap serangan ide dari luar Islam maupun dari kalangan umat Islam sendiri.[1] Bagian tulisan ini penulis sajikan berupa beberapa contoh saja, dimana perdebatan itu muncul dalam bidang teologi Islam, Fiqh, dan kaidah ‘Ulûm al-Qur`ân.

Perdebatan mengenai al-Qur`ân dalam teologi Islam berkisar pada persoalan kedudukannya secara teologis. Tak ada yang menyangsikan bahwa al-Qur`ân adalah kalâm Allâh (perkataan Allâh). Tapi apakah kalâm itu qadîm (tak berawal) atau hadîts (berawal/ dari tiada kepada ada? Apakah al-Qur`ân itu makhlûq (diciptakan) atau ghayru makhlûq (tidak diciptakan)?

Kaum Mu’tazilah[2] berpendapat bahwa al-Qur`ân atau kalâm Allâh itu makhlûq, sebab jika ia qadîm maka ada yang qadîm selain Allâh, sehingga kepercayaan terhadap ke-qadîm-an al-Qur`ân membawa kepada syirik. Kaum ini berargumen bahwa Allâh disebut mutakallim, berarti yang berkata, yang berbicara. Yang berkata berarti melakukan perbuatan berkata. Melakukan perbuatan berkata berarti mewujudkan atau menciptakan perkataan (kalâm). Ini berarti kalâm itu diciptakan, yang berarti al-Qur`ân itu diciptakan (makhlûq).[3] Argumen Mu’tazilah ini berhubungan dengan pendapat Mu’tazilah sendiri tentang ketidakmungkinannya Allâh, memiliki sifat-sifat. Keterangan mengenai ini akan sangat panjang dan bukan kapasitas tulisan ini.

Diseberang kaum Mu’tazilah adalah kaum Asy’ariyyah[4] yang mengatakan bahwa kalâm Allâh itu qadîm atau tidak diciptakan. Pendapat mereka berlandaskan pada pengakuan akan adanya sifat-sifat bagi Allâh. Kaum Asy’ariyyah melalui pendapat pendirinya, Abû Hasan al-Asy’ariy berargumen menggunakan ayat al-Qur`ân: “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan perintah-Nya.[5] Pada ayat ini Allâh menyatakan bahwa langit dan bumi berdiri dengan perintah-Nya. Perintah itu ialah kalâm-Nya. Kemudian untuk menjelaskan bahwa perintah Allâh itu tidak diciptakan, ia mengemukakan lagi argumen berupa ayat al-Qur`ân: “Ingatlah, bagi-Nya penciptaan dan perintah.”[6] Pada ayat ini Tuhan memisahkan antara penciptaan dan perintah. Perintah dengan demikian terpisah dari penciptaan, tidak termasuk penciptaan. Ini menunjukkan perintah Allâh itu tidak diciptakan dan perintah Allâh adalah kalâm-Nya.[7]

Persoalan apakah al-Qur`ân qadîm atau makhlûq berimplikasi signifikan dalam penafsiran al-Qur`ân. Jika al-Qur`ân qadîm maka penafsirannya akan sedikit tertutup, sehingga penafsiran yang progresif cenderung dipandang negatif, sebab al-Qur`ân adalah kalâm Allâh yang merupakan bagian dari sifat Allâh, sehingga tingkat kesakralannya sangat tinggi. Sebaliknya, jika al-Qur`ân makhlûq maka penafsiran akan cenderung terbuka, tafsiran-tafsiran al-Qur`ân bisa progresif dan sedikit bebas, sebab sebagai makhluk al-Qur`ân terikat pada ruang dan waktu dimana ia diturunkan.

Perdebatan seputar al-Qur`ân dalam Fiqih tidak begitu besar. Tak ada keraguan akan posisi al-Qur`ân sebagai sumber hukum Islam. Perdebatan dalam Fiqih berkisar pada posisi Sunnah Nabi yang tercantum dalam hadîts-hadîts terhadap al-Qur`ân, bolehkah sunnah menetapkan hukum yang tidak tercantum secara eksplisit di dalam al-Qur`ân dan bolehkah sunnah menghapus (naskh) hukum dalam al-Qur`ân. Sebagian ahli fiqih menyatakan boleh, sebagian lagi tidak, sebab bagaimanapun sunnah menempati urutan kedua setelah al-Qur`ân dalam pengambilan sumber hukum.

Perdebatan tentang al-Qur`ân dalam ilmu al-Qur`ân sendiri cukup ramai, khususnya mengenai kaidah nâsikh-mansûkh (menghapus-dihapus). Mungkinkah suatu ayat dihapus oleh ayat yang lain? Jika ya, maka apa manfaat tetap mencantumkan ayat yang telah dihapus? Terjadinya naskh (penghapusan/ pembatalan) antar ayat dalam al-Qur`ân mungkin bisa dimaklumi, tapi bagaimana jika ayat dihapus oleh sunnah, meski mungkin suatu topik dalam sunnah dibatalkan oleh ayat al-Qur`ân.

Sekali lagi, penulis tidak ingin memunculkan pesimisme kita dalam memahami al-Qur`ân yang ternyata dunia al-Qur`ân itu begitu njelimet. Justru dengan mengenali dunia seputar al-Qur`ân kecintaan kita kepada al-Qur`ân semakin bertambah, yang rasa kecintaan itu justru ditunjukkan oleh pihak-pihak yang berdebat.

Tafsir

Bagian akhir makalah ini akan penulis lengkapi dengan sedikit keterangan mengenai Tafsir, kegiatan memahami isi kandungan al-Qur`ân. Tafsir merupakan salah satu aktivitas penting dalam keilmuan Islam, yakni dalam rangka memahami pesan-pesan al-Qur`ân. Ketika Nabi hadir bersama-sama umat maka makna-makna teks al-Qur`ân diserahkan sepenuhnya kepada beliau, sebagai firman Allah: “…agar kamu menerangkan kepada seluruh manusia apa yang datang kepada mereka (al-Qur`ân).[8] Namun ketika Nabi telah tiada, umat mau tak mau memahami pesan-pesan al-Qur`an secara mandiri dalam menjawab segala persoalan umat.

Istilah “tafsîr” diambil dari kata “tafsirah” yang berarti terma yang diketahui seorang dokter dari suatu penyakit.[9] Adapun secara istilah, sebagaimana dinyatakan Abû Hayyân, Tafsir adalah ilmu yang membahas tata cara menyampaikan lafazh-lafazh al-Qur`ân, beserta keterangan-keterangan dan hukum-hukumnya, dan makna-makna yang terkandung di dalam susunan kalimatnya.[10] Dengan demikian, Abu Hayyân memandang Tafsir dari sudut pandang pengertian Tafsir itu sendiri, yakni membaca al-Qur`ân dengan benar dan kefahaman terhadap bacaan itu. Secara lebih spesifik, al-Zarkâsyiy menyatakan bahwa Tafsir adalah ilmu yang menjadikan kitab Allah yang diturunkan pada Nabi-Nya, Muhammad Saw, dapat difahami beserta kejelasan makna-makna dan mengeluarkan hukum darinya dengan dasar ilmu bahasa, Nahw, Sharf, Bayân, Ushul al-Fiqh, dan ilmu Qirâ`ah, dan kejelasan makna tersebut memerlukan pengetahuan tentang asbâb al-nuzûl (sebab-sebab turunnya ayat) dan nâsikh-mansûkh.[11] Di sini al-Zarkâsyiy lebih memandang Tafsir dalam hubungannya dengan ilmu-ilmu lain, khususnya ‘Ulûm al-Qur`ân.

Tafsir pada dasarnya bertujuan untuk: (1) Menunjukkan kesempurnaan al-Qur`ân secara ilmiah dengan mengumpulkan makna-makna yang terdapat dalam teks umumnya, karena (2) pemecahan masalah-masalah kehidupan bergantung pada kejelasan kitab suci, dan (3) karena teks al-Qur`an terdiri atas makna-makna yang luas, seperti dalam majâz, al-isytarak (kata-kata bermakna ganda), dan pembuktian mutlak, sehingga diperlukan kejelasan mengenai maksud sebenarnya Sang Pengarang (Allah).[12]

Berbagai metode tafsir dihadirkan oleh para ahli tafsir yang kemajuan dalam bidang ini terbilang signifikan, sehingga banyak sekali metode penafsiran al-Qur`ân. Namun jika kita rangkum metode-metode tafsir itu terdiri dari dua macam, yakni tafsîr bi al-ma`tsûr dan tafsîr bi al-‘aql.

Tafsîr bi al-ma`tsûr adalah metode tafsir yang bersandar pada keterangan verbal yang benar (shahîh al-manqûl), yang terdiri dari al-Qur`ân itu sendiri (tafsîr al-qur`ân bi al-qur`ân), sunnah Rasulullah di dalam hadîts- hadîts, riwayat para Sahabat dan para Tâbi’în.[13] Di antara karya tafsir yang menggunakan metode tafsîr bi al-ma`tsûr adalah Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm karya Ibn Katsîr atau yang lebih dikenal dengan Tafsîr ibn Katsîr, Jamî’ al-Bayân fi Tafsîr al-Qur`ân karya Ibn Jarîr al-Thabâriy, dan al-Durr al-Mantsûr fi Tafsîr bi al-Ma`tsûr karya al-Suyûthiy.

Adapun metode tafsîr bi al-‘aql adalah metode tafsir yang menggunakan akal atau metode pemikiran logis. Para ahli al-Qur`ân berbeda pendapat mengenai keabsahan tafsir dengan menggunakan akal ini. Namun demikian, karya-karya penting tafsîr bi al-‘aql sangatlah banyak. Salah satunya adalah Tafsîr al-Baydhâwiy karya Imam al-Baydhâwiy. Para mufassir Indonesia juga melahirkan karya-karya tafsir jenis ini meski dalam bahasan-bahasannya juga merujuk kepada sunnah Nabi sebagai pelengkap, seperti Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab.

Di era modern ini, muncul pula metode-metode baru penafsiran al-Qur`ân bermunculan. Metode tafsir yang sedikit kontroversial adalah metode dengan menggunakan teknik hermenutika. Teknik ini berlandaskan pada tiga sudut pandang al-Qur`ân, yakni teks, konteks, dan kontekstualisasi. Al-Qur`ân pada dasarnya adalah sebuah teks atau korpus terbuka sehingga terbuka pula untuk ditafsirkan, tapi al-Qur`ân diturunkan dengan bahasa tempat ia diturunkan sehingga latar belakang kultural yang berbeda dengan kultur si penafsir atau kultur dimana jawaban al-Qur`ân terhadap persoalan umat yang berbeda ruang dan waktu dengan tempat turunnya al-Qur`ân menyelimuti teks, sehingga persoalan konteks al-Qur`ân perlu diperhatikan. Untuk ini ilmu Sejarah, Antropologi, dan Sosiologi sangat diperlukan. Setelah mengetahui gambaran kultural masyarakat ruang dan tempat al-Qur`ân diturunkan, maka dilakukan kontekstualisi atau pencocokan dengan kultur zaman si penafsir.

Metode paling mutakhir yang paling digandrungi mahasiswa jurusan Tafsir di Perguruan Tinggi adalah metode tafsir tematik (al-tafsîr al-Mawdhû’iy). Tafsir Tematik adalah metode tafsir berdasarkan tema. Langkah-langkahnya adalah: (1) Mengumpulkan ayat-ayat al-Qur`ân yang berbicara tentang suatu tema yang sama, (2) mengurutkan kumpulan ayat-ayat tersebut menurut urutan turunnya, (3) mengaitkan ayat-ayat tersebut satu sama lain hingga memperoleh pengertian yang komprehensif mengenai tema yang ditafsirkan. Alat untuk melakukan metode tafsir ini bisa dengan Tafsîr bi al-ma`tsûr, bisa dengan tafsîr bi al-‘aql, bisa pula dengan teknik hermeneutika, atau kombinasi dari berbagai metode tafsir. Hemat penulis, metode tafsir tematik adalah metode yang paling baik dalam upaya kita memahami al-Qur`ân. Jika penulis tidak salah, metode tafsir tematik pertama kali diperkenalkan dan dikampanyekan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab. Karya-karya besarnya seperti Membumikan al-Qur`ân dan Wawasan al-Qur`ân dapat dikatakan sebagai karya-karya tafsir tematik.

Penutup

Demikianlah sedikit oleh-oleh dari penulis bagi kita para pengkaji al-Qur`ân. Semoga dengan sedikit coretan ini kita terdorong untuk mencoba mempelajari, memahami, sekaligus mengamalkan al-Qur`ân. Penulis mengharapkan kritik dan saran agar tercapai kesempurnaan bagi makalah ini. Dan kepada Allah-lah kita serahkan segala kebenaran.

Catatan:

[1] Penulis telah membuat tulisan mengenai sejarah filsafat Islam dengan judul Sejarah Kemunculan Filsafat Islam. Semoga bisa kita kaji dan kritik bersama-sama di lain kesempatan.

[2] Mu’tazilah adalah aliran teologi yang dalam menetapkan iden-idenya berdasarkan kerangka rasional. Lihat selengkapnya dalam Hadariansyah AB, Pemikiran-Pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam, (Banjarmasin: Antasari Press, 2010), cet. II, h. 87-89. Sempat menjadi madzhab teologi formal negara di zaman kekhalifahan ‘Abbâsiyyah.

[3] Ahmad Amîn, Dhuhâ Islâm, jilid 3, (Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabiy, 1936), cet. X, h. 36-37.

[4] Asy’ariyyah adalah aliran teologi yang nantinya disebut dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah. Hujjah al-Islâm, Imam al-Ghazâliy sangat berperan dalam penyebaran teologi Asy’ariyyah. Lihat selengkapnya dalam Hadariansyah AB, Pemikiran-Pemikiran…, h. 165-171.

[5] QS. Al-Rûm: 25.

[6] QS. Al-A’râf: 54.

[7] Abu Hasan al-Asy’ariy, al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah, (Mesir: Idârah al-Thibâ’ah al-Munîrah, t.t), h. 9-10.

[8] QS. Al-Nahl: 44.

[9] Jalâl al-Dîn al-Suyûthiy, al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur`ân, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1951), h. 173.

[10] Menurut al-Suyûthiy, maksudnya adalah meliputi apa yang menjadi keterangan (dalîl) dari suatu ayat, baik secara hakiki maupun majazi. Jalâl al-Dîn al-Suyûthiy, al-Itqân…, h. 174.

[11] Jalâl al-Dîn al-Suyûthiy, al-Itqân

[12] Jalâl al-Dîn al-Suyûthiy, al-Itqân

[13] Manna’ al-Qaththan, Mabâhits…, h. 347.

SUMBER RUJUKAN

Al-Asy’ariy, Abu Hasan, al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah, Mesir: Idârah al-Thibâ’ah al-Munîrah, t.t

Al-Qaththân Mannâ’, Mabâhits fi ‘ulûm al-Qur`ân, t.tp: t.p, t.th

Al-Suyûthiy, Jalâl al-Dîn, al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, 1951

Amal, Taufik Adnan, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur`ân, cet.I, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2005

Amîn, Ahmad, Dhuhâ Islâm, jilid 3, cet. X Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabiy, 1936

Basya, Fahmi, Matematika Islam: Sebuah Pendekatan Rasional untuk Yaqin, Jakarta: Republika, 2004

Hadariansyah AB, Pemikiran-Pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam, cet. II, Banjarmasin: Antasari Press, 2010

Hitti, Philip K., History of the Arabs (terj.), cet. I, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2010

Karim, Khalil Abdul, Hegemoni Quraisy: Agama, Budaya dan Kekuasaan (terj.), Yogyakarta: LKiS, 2001

Mujiburrahman, Bercermin ke Barat: Pendidikan Islam Antara Agama dan Kenyataan, Banjarmasin: Jendela, 2013

Shihab, Quraish, Membumikan al-Qur`ân, cet. XXXI, Bandung: Mizan, 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s