GEMBIRA MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Islamic-Mosque_Theme_Ramadan_Vector_logo-1Tak terasa sebentar lagi bulan Ramadhan tiba. Berikut kultwit saya guna menyambut bulan yang sangat mulia ini. Semoga bermanfaat.

Kita semua tentu sudah memaklumi kemuliaan bulan Ramadhan. Tapi apa kemuliaannya yang paling utama? Hal utama yang jadikan Ramadhan begitu mulia adalah bahwa Allah wajibkan seluruh orang-orang yang beriman berpuasa selama sebulan penuh. Melalui ayat 183 dari surah al-Baqarah Allah menjelaskan ibadah puasa adalah ibadah yang tidak asing bagi seluruh manusia. Agama-agama yang telah ada sebelum Islam juga melaksanakan puasa dengan nilai-nilai dan tata cara yang berbeda-beda. Ibadah puasa juga bukanlah ibadah yang kuno. Puasa juga dilakukan oleh orang-orang di zaman modern ini dengan bentuk dan tujuan tertentu, seperti untuk memelihara kesehatan atau merampingkan tubuh, atau dalam bentuk mogok makan, dan lain-lain. Dengan demikian, karena puasa dijalankan oleh “orang-orang sebelum kamu”, maka malunya seorang muslim jika tidak berpuasa.

Menurut Dr. Quraish Shihab, puasa dengan aneka ragam tujuan dan bentuk, baik dalam rangka ibadah spiritual maupun tidak bernilai sama, yakni pengendalian diri. Manusia mempunyai banyak kebutuhan yang secara garis besar dikelompokkan kepada lima kebutuhan pokok: 1) fa’ali, yakni makan, minum dan kebutuhal seksual; 2) Kebutuhan akan ketenteraman & keamanan; 3) Kebutuhan keterikatan pada kelompok sosial; 4) Kebutuhan akan rasa penghormatan; dan 5) Kebutuhan akan pencapaian cita-cita. Seseorang yang mampu mengendalikan dirinya dalam kebutuhan pertama, yakni kebutuhan akan makan, minum dan kebutuhan seksual, akan dengan mudah mengendalikan kebutuhan-kebutuhan yang berada pada posisi berikutnya. Karena itu, ibadah puasa adalah semacam sekolah bagi diri kita untuk dapat kendalikan segala kebutuhan kita. Mengapa perlu dikendalikan? Sebab jika kebutuhan-kebutuhan itu dirasa sangat mendesak, orang cenderung berbuat kejahatan demi memenuhi hajat-hajatnya itu. Intinya, jika dapat mengendalikan nafsu makan dan minum, maka kita dapat mengendalikan keinginan-keinginan lainnya.

Maka, dengan datangnya bulan Ramadhan dan ibadah puasa, kita dipersiapkan untuk menjadi manusia sempurna. Kualitas ini disebut Taqwa. Tak heran jika Allah mewajibkan kita berpuasa “la’allakum tattaqun”, agar kamu bertaqwa. Kata “Taqwa” seakar dengan kata “ittaqa” yang berarti “terjaga, terkendali, terpelihara.” Sepadan dengan puasa sebagai pengendalian diri. Bulan Ramadhan sebagai masa pembentukan diri manusia inilah yang membuatnya bulan ini begitu mulia.

Karena kemuliaannya itulah maka Rasulullah memuliakan orang yang bergembira akan kedatangannya. “Barangsiapa yang bergembira akan datangnya bulan Ramadhan, Allah mengharamkan jasadnya dari api neraka” (HR. al-Nasa`i). Bergembira yang dimaksud bukanlah berarti gembira yang dibuat-dibuat. Sebagian dari kita mungkin merasa bulan Ramadhan sangatlah berat, karena harus meninggalkan makan dan minum di siang hari di iklim cuaca daerah kita yang cenderung panas. Kegembiraan akan datangnya bulan Ramadhan juga bukan kegembiraan karena motif tertentu selain motif pengendalian diri, seperti kemungkinan mendapat rezeki dari berbisnis makanan berbuka puasa, atau bisnis menyelenggarakan kegiatan keislaman. Rasa gembira yang dimaksud adalah rasa gembira yang muncul dari sifat atau karakter manusia itu sendiri yang muncul dengan sendirinya.

Imam al-Ghazali dalam mendefinisikan apakah itu al-akhlaq al-karimah menyatakan bahwa akhlak yang terpuji bukanlah apa yang tampak dari diri seseorang, tapi sifat dan karakter yang tertanam dalam diri seseorang sebagai landasan perilakunya. Sifat dan karakter itulah yang muncul pertama sebagai respon ketika seseorang dihadapkan suatu perkara. Jika responnya nya baik maka itulah al-akhlaq al-karimah, jika responya nya buruk maka itulah akhlak yang buruk. Maka dari itu, marilah kita kenali diri kita sendiri, respon bagaimana kah yang muncul ketika datang bulan Ramadhan? Rasa gembira yang bagaimana kah yang menjadi sifat kita dalam menyambut ibadah puasa? Rasa gembira akan kedatangan bulan Ramadhan yang mulia menunjukkan seseorang sebagai orang yang beriman. Maka wajar pulalah ibadah puasa diwajibkan hanya kepada orang yang beriman. “ya ayyuha al-ladzina amanu kutiba ‘alaikum al-shiyam”, wahai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, demikian firman Allah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Amin.

Demikian kultwit saya untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat.

Iklan

“BARANGSIAPA MENIRU-NIRU SUATU KAUM…..”

nuzululu quranBaik menurut perintah Allah maupun kenyataan sosial, kita memang haruslah hidup berdampingan dengan orang-orang non-muslim. Meski demikian, Rasulullah telah melarang kita untuk hidup dengan gaya dan nilai-nilai hidup mereka yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan (kita tidak menutup mata akan kebenaran yang ada dalam agama-agama lain, tapi juga tidak menutup mata pula akan kekeliruan di sana, karena memang itu tujuan Islam, menyempurnakan agama terdahulu). Nabi Muhammad bersabda:

“Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia bagian daripada kaum itu” (HR….)

Hadits ini menggunakan istilah “tsyabbaha” yang berarti meniru-niru. Kaidah ilmu Sharf (ilmu tata gramatika bahasa Arab) menyebutkan bahwa bentuk kata kerja semacam itu bermakna “li al-dalalah ‘ala al-taktsir” atau “penunjukan terhadap keberlebihanan”. Maka, makna kata “tasyabbaha” dalam hadits tadi menunjukkan “tindakan berlebihan dalam meniru”, dalam hal ini meniru suatu kaum. Dalam konteks hubungan antara muslim dengan non-muslim, maka orang muslim tidak boleh meniru orang non-muslim secara berlebihan, sebab jika demikian maka ia tergolong sebagai orang non-muslim itu. Adapun jika meniru dalam kapasitas kepatutan, tidak ada pelarangan untuk itu. Misalnya, memakai toga pada upacara wisuda sarjana yang sebenarnya bukan merupakan budaya Islam, tidak mendapat sorotan hadits karena digolongkan bukan peniruan berlebihan, melainkan kepatutan. Contoh lainnya adalah libur di hari Minggu.

PERNIKAHAN DAN STATUS SOSIAL

Pernikahan MewahBeberapa hari lalu, orang terkaya di Kabupaten Sukamara (daerah tempat tinggal saya saat ini) langsungkan pernikahan anaknya. Pesta sekampung, Zaskia Gothik pun jadi penghiburnya. Penyelenggaraan pernikahan dan walimah al-‘ursy tentukan kelas sosial.

Agama ajarkan kesederhanaan, tapi dalam interaksi sosial orang dipaksa tegaskan status sosialnya, termasuk dalam penyelenggaraan pernikahan. Mantan rektor IAIN Antasari Banjarmasin, Dr. H. Kamrani Buseri, pernah ungkapkan fakta mengejutkan (entah dari mana beliau dapat sumbernya). Beliau sebut bahwa jangan mengira Nabi Muhammad itu miskin. Nabi melamar Siti Khadijah dengan mahar yang sangat mahal. Nabi melamar Khadijah dengan ratusan ekor unta dan perhiasan-perhiasan yang jumlahnya ratusan ribu dinar perhiasan. Jika dikalkulasikan dengan rupiah sekarang, jumlahnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah. Hal itu masuk akal karena mana mungkin Nabi hanya punya harta sedikit sedangkan Beliau dikenal sukses dalam berbisnis selama bertahun-tahun. Namun sekali lagi saya katakan bahwa pak Kamrani tidak sebutkan darimana sumber fakta itu.

Jika benar Nabi melamar Khadijah dengan sebegitu mewahnya, maka Nabi sudah lakukan langkah strategis bagi misi dakwahnya. Dengan tata cara pernikahan itu, Nabi ingin tegaskan status sosial Beliau bahwa dalam masyarakat Beliau bukan figur sembarangan. Tersisa satu pertanyaan, jika Rasulullah Saw sebenarnya kaya raya kemana harta-harta berlimpah itu? Jawaban paling mungkin adalah bahwa Nabi habiskan untuk kepentingan umat.

ESKATOLOGI

Gambar

Eskatologi, ilmu tentang kehidupan setelah mati. Penting untuk dipelajari, baik dalam sudut pandang iman, atau kerangka rasional.Setiap ide dan pemikiran dalam hidup pada dasarnya bernilai etis. Tapi apa gunanya etika dan hidup berakhlaq jika pada akhirnya kita mati?Karena itu, etika perlu bargaining point, yakni bahwa hidup etis diperuntukkan bukan demi hidup sekarang ini, tapi untuk hidup sesudah mati.

Skripsi saya dulu bahas soal Eskatologi Hindu. Bahwa kualitas hidup kita saat ini tentukan kehidupan kembali (punarbhava) kita setelah mati.Dalam agama-agama ibrahimik (Yahudi, Kristen, Islam) setelah mati kita akan hidup di “alam lain” (akhirat), dimana di sanalah kita berakhir.John Hick, ahli perbandingan agama menyatakan, bahwa Eskatologi Hindu dan Buddha adalah yang terbaik karena hidup etis tak inginkan balasan.Namun Fazlur Rahman, sebut jalan terbaik bagi agama-agama Ibrahimik agar tak terjebak pada etika berorientasi balasan dgn kutip al-Quran.Allah janjikan surga bagi orang baik, neraka bagi yang jahat, “…tapi keridhaan Allah lebih besar. Itulah keberuntungan mulia” (QS.9:72)

ONTOLOGI

stock-footage-beautiful-light-flash

Kita akan berbicara Ontologi. Apa itu “ada”? Bagaimana sesuatu bisa dianggap“ada”? Yang pasti, menurut sebagian aliran filsafat, bahwa sesuatu itu ada karena kita bicarakan. Bahan-bahan pembicaraan biasanya didapat karena pengalaman. Saya tidak tahu bahwa seonggok pohon ada di belahan dunia yang tak pernah saya kunjungi. Selain itu, persoalan bahwa “sesuatu ada” adalah persoalan bahasa. Jika saya melihat sebuah benda yang disebut kursi, saya katakan bahwa kursi itu ada karena saya menyebutnya kursi dan orang-orang lain sepakat bahwa benda itu bernama kursi. Bisa saja benda itu disebut dengan kata yang lain, tapi benda itu sudah kadung disebut kursi. Dengan demikian, benda itu “tidak ada pada dirinya sendiri”. Keberadaan sebuah benda adalah hasil olah fikir manusia sebagai subjek terhadap sesuatu sebagai objek. Maka, “ada” adalah sesuatu yang subjektif, termasuk kategorisasinya, seperti sifat, warna, dan nilai-nilainya. Pada hakikatnya, sesuatu di luar diri manusia adalah tidak ada (nihil).

Namun kita tak dapat memungkiri bahwa sebuah kursi itu ada di hadapan kita dan kita menggunakannya untuk keperluan sehari-hari. Kita tak dapat pungkiri bahwa segala sesuatu di hadapan kita itu ada. Jika demikian, bagaimana jika keberadaan sesuatu itu subjektif sementara ia jelas-jelas ada? Saya kira jawaban paling memuaskan adalah bahwa kita YAKIN sesuatu itu ada.

AKAL DAN BERFIKIR

Berfikir

Allah swt setidaknya 13 kali di dalam al-Quran mengajukan pertanyaan retoris berbunyi: “Afala ta’qilun” (“tidakkah kamu berfikir?”). Pertanyaan semacam ini sering diajukan Allah kepada orang-orang yang keliru penilaian dan tindakannya terhadap sesuatu. Seperti ayat berikut: “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu lupa terhadap (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab? Maka tidakkah kamu berfikir (ta’qilun)?” (QS.al-Baqarah:44). Begitu pula ayat ini: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu berfikir (ta’qilun)?” (QS. Al-An’am: 32).

Pertanyaan senada juga diajukan Allah kepada mereka namun Allah menggunakan redaksi berbeda, yakni “afala tatafakkarun” (“tidakkah kamu befikir?”) seperti dalam ayat: “Katakanlah (hai Muhammad), aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan padamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, apakah sama orang yang buta dengan yang melihat? Apakah kamu tidak berfikir (tatafakkarun)?” (QS. Al-An’am: 50).

Penggunaan dua redaksi berbeda, yakni kata “’aql” dan “fikr” yang menunjuk pada arti “berfikir” dan “pemikiran” di dalam Al-Quran memiliki urgensi penting, mengingat tidak ada sinonim dalam Bahasa Arab. Jika melihat konteks penggunaan masing-masing kata tersebut, khususnya pada ayat-ayat tersebut tadi, maka “fikr” menunjuk pada aktivitas berfikir biasa yang dapat dilakukan oleh siapapun yang diciptakan memiliki akal, sedangkan “’aql” lebih menunjuk kepada karakter orang yang berfikir. “Akal” atau (al-‘aql) adalah elemen yang hanya ada pada diri manusia yang membuatnya spesial dibanding makhluk-makhluk lain. Karakternya sebagai makhluk yang berakal inilah hakikat manusia sesungguhnya.

Karena itulah, penggunakan akal dalam Islam mendapat tempat yang sangat tinggi. Orang-orang yang masuk neraka karena ingkar terhadap seruan kebenaran dari Allah merasa menyesali perbuatan mereka dengan berkata: “…sekiranya kami mendengarkan (peringatan itu) atau berfikir (na’qilu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Al-Mulk:10). Hukuman neraka yang diterima orang-orang kafir itu dikarenakan mereka tidak mau mendengarkan seruan Allah melalui wahyu yang disampaikan nabi-nabi-Nya atau karena tidak memiliki karakter berfikir dan mengkhianati hakikat kemanusiaannya dengan tidak menggunakan akalnya. Dengan demikian, selain wahyu, akal juga menjadi media bagi kita untuk menemukan kebenaran ilahi. Penggunaan akal sangatlah dianjurkan, sehingga orang yang selalu mempergunakan akalnya tentulah orang yang akan beruntung dan termasuk sebagai penghuni surga-Nya.