Tata Cara Memperingati Maulid Nabi: Persoalan Membaca Rawi dan Syi’ir Maulid

image

Sejauh pengetahuan saya, tak ada masyarakat Islam di belahan dunia manapun yang merayakan peringatan Maulid Nabi lebih meriah daripada masyarakat Islam di Indonesia dengan budaya dan tradisi yang berbeda-beda. Perbedaan tata cara memperingati maulid Nabi yang paling kentara dan seringkali menimbulkan sinisme di kalangan masyarakat awam adalah persoalan apakah peringatan maulid Nabi itu diisi dengan pembacaan rawi-rawi dan syi’ir-syi’ir maulid Nabi (misalnya Maulid al-Habsyi) atau tidak. Berbeda tata cara peringatan Maulid Nabi itu boleh-boleh saja dan semuanya sah selama tujuan memperingati maulid Nabi diniatkan sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah dan upaya untuk mempelajari Sunnah Rasulullah lalu pelajaran yang berisi perilaku dan tingkah laku Rasul dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama tersebut kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kalangan yang tidak membaca rawi dan syi’ir maulid Nabi dan bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang berlebihan dalam agama, biasanya memusatkan perhatian mereka lebih kepada bagaimana membangun peradaban Islam secara keseluruhan. Jadi mereka lebih memusatkan perhatian terhadap bagian Islam yang bersifat lahiriyah. Adapun yang bathiniyah, menurut pendapat mereka, jika sudah dibangun sistem sosial dan sistem pemerintahan yang Islami maka yang bathiniyah pun dapat terpenuhi.

Sedangkan mereka yang memperingati Maulid Nabi dengan membaca sya’ir dan rawi maulid yang disusun oleh para ulama dan habaib lebih memusatkan perhatian mereka terhadap hal-hal yang bersifat bathiniyah atau pembentukan kepribadian muslim yang shaleh. Adapun persoalan lahiriyah bisa dicapai apabila yang bathiniyah sudah terbangun dengan baik.

Dengan demikian, pada dasarnya kedua golongan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni menjunjung tinggi agama Islam sebagai landasan hidup utama demi menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, hanya saja berbeda pandangan dari jalan mana memulainya. Pun berbeda pandang tentang mana yang ushul mana yang furu’, mana yang substansi mana yang aksidensi, mana yang isi dan mana yang kemasan.

Jadi jika tujuannya sama, maka sungguh ironis jika kita hanya memperdebatkan jalan mana yang harus dijalani. Satu jalan baik bagi seseorang yang yakin bisa sampai ke tujuan dengan kepuasaan tersendiri, namun tidak baik dan tidak memuaskan bagi yang tidak yakin dan kemudian memilih jalan berbeda yang ia yakini. Ibarat berangkat dari Surabaya ke Jakarta bisa melewati jalan-jalan berbeda, bisa melalui udara dengan pesawat udara, bisa pula melalui laut dengan kapal, atau mungkin lewat darat, bisa dengan kendaraan darat pribadi atau umum. Mungkin orang memilih pesawat karena memiliki uang berlebih tapi kadang orang yang tidak tergesa-gesa dan ingin menikmati perjalanan darat yang melintasi berbagai kota lebih memilih perjalanan darat yang meski perlu waktu untuk sampai ke tujuan tapi ada rasa puas dalam jiwanya.

Allah menegaskan bahwa Ia memang sengaja menjadikan manusia berbeda-beda: “…Seandainya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja)…” (QS. Al-Maidah: 48) karena tidak mungkin bagi manusia untuk melakukan segala hal, hanya sesuai kemampuan dan kelemahannya manusia mampu menguasai dirinya dan alam semesta. Maka Allah pun mengujinya apakah dengan kemampuannya yang khusus itu manusia mampu berbuat kebaikan: “…namun tiada lain Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu…” (QS. Al-Maidah: 48). Maka dengan kemampuan dan keyakinannya yang terbatas itu Allah memerintahkan: “…maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” (QS. Al-Maidah: 48), karena jika manusia berbuat dengan kelebihan dan kemampuan masing-masing maka kemakmuran yang dicita-citakan akan tercapai selama “perlombaan” tersebut dilaksanakan dengan semangat persatuan.

Bayangkan jika kedua golongan tadi (yang satu mementingkan lahiriyah dan yang satu mementingkan bathiniyah) bersatu membangun Islam, maka kecemerlangan Islam baik dari segi lahiriyah maupun bathiniyah akan tercapai. Tidak perlu khawatir soal perbedaan, sebab: “Hanya kepada Allah-lah kamu kembali, lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maidah: 48).

image

Iklan

KHUTHBAH JUMAT: MEMPERINGATI MAULID NABI

Marilah kita kembali mengingatkan diri kita semua untuk meningkatkan taqwa kepada Allah Swt, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bersedia untuk tunduk kepada Allah tak mungkin menjadi prinsip hidup seseorang tanpa didahului oleh pembenaran terhadap keberadaan-Nya serta keyakinan yang teguh bahwa Allah-lah penguasa (ilah) dan pembina (rabb) alam semesta. Pembenaran (tashdiq) ini disebut dengan iman. Iman dalam pengertian Ilmu Tauhid adalah:

Pembenaran terhadap apa yang Rasulullah Saw datang bersamanya dari Allah

Dari pengertian ini maka iman adalah membenarkan atau menyatakan bahwa apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu benar, yakni kabar-kabar dan pengetahuan-pengetahuan mengenai Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para Rasul-Nya, hari kiamat dan ketentuan tentang perjalanan hidup alam semesta. Pembenaran inilah yang mesti menjadi landasan kehidupan orang yang selamat dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Apa dan bagaimana pembenaran itu bisa berada dalam jiwa kita, tidak dapat disampaikan pada kesempatan khuthbah kali ini. Semoga ada kesempatan lain untuk bisa dengan jelas menyampaikannya.

Hadirin jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah!

Kini kita telah memasuki bulan Rabiul Awwal, bulan yang dikenal umat Islam dengan “bulan maulud”, yakni bulan yang didalamnya Nabi Muhammad saw dilahirkan, tepatnya pada tanggal 11 Rabi’ul awal. Sejauh pengetahuan khathib, tak ada masyarakat yang menyambut bulan maulud lebih meriah daripada masyarakat Islam Indonesia. Selama sebulan penuh ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kita akan menyaksikan perayaan Maulid Nabi Muhammad di mana-mana di negeri ini. Di tempat kita, misalnya, ada yang merayakannya dengan menyelenggarakan acara peringatan biasa yang diisi dengan ceramah seputar diri dan hidup Rasul; ada yang memperingati hari kelahiran Rasulullah dengan shalawatan atau pembacaan maulid beserta seni gendang dan rebana, atau yang kita sebut terbang; kalangan akademisi dan para mahasiswa menyelenggarakan seminar-seminar dan simposium-simposium yang berisi kajian-kajian tentang Rasulullah; di pedesaan, khususnya di tempat di mana khatib pernah tinggal, dilaksanakan peringatan maulid Nabi diiikuti masyarakat satu kampung dengan menyembelih hewan ternak yang halal dalam jumlah yang banyak; bahkan di tempat lain seperti di pulau Jawa dilaksanakan acara kirab maulid yang melibatkan penduduk satu kota atau dikenal dengan Sekaten. Semua memperingati bulan maulid dengan aneka ragam budaya yang tentu berbeda.

Hadirin sidang jumat yang berbahagia!

Terlepas dari berbagai perbedaan (khilafiyah) cara memperingati hari kelahiran Rasul di negeri kita, yang jelas peringatan maulid Nabi Muhammad Saw adalah salah satu cara kita yang hidup jauh dari zaman Rasul untuk mempelajari sunnah-sunnah-Nya sebagai warisan Rasul bagi umatnya selain al-Quran. Rasulullah bersabda: “kutinggalkan untukmu dua perkara yang jika engkau berpegang pada keduanya tak akan sesatlah engkau selamanya: kitab Allah (al-Quran) dan sunnah Rasul-Nya

Mungkin dalam benak kita sunnah Rasul hanyalah sebatas apa yang tercatat dalam hadits-hadits-Nya, namun lebih luas lagi, Sunnah adalah perilaku dan teladan Nabi baik dalam posisi beliau sebagai individu maupun Nabi sebagai anggota masyarakat dan pemimpin umat. Sunnah Rasul menduduki posisi penting kedua setelah al-Quran sebagai sumber ajaran agama Islam, sebab dalam memahami agama dan melaksanakannya, orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci, kemudian, kedua, harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. Sebab, Nabi-lah sebagai utusan Tuhan, yang paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan pada manusia melalui beliau, juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya.

Sebagai manusia yang diutus Tuhan untuk menyempurnakan akhlak, maka Sunnah Nabi haruslah difahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau. Akhlak dan teladan Nabi dapat dilihat dalam al-Quran sendiri. Allah dengan tegas menyatakan: “Telah tersedia dalam diri Rasul Allah suri tauladan yang baik, bagi sesiapa yang benar-benar berharap pada Allah dan pada Hari Kemudian, serta banyak ingat kepada Allah” (Q.S. al-Ahzab :32). Sebagai contoh, Allah menggambarkan akhlak Nabi dalam al-Quran sebagai berikut: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaannmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: ‘cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang yang memiliki tahta yang agung” (QS. At-Tawbah: 128)

Jelas tertera dalam ayat ini bahwa Rasul adalah pemimpin yang sangat simpatik dengan umatnya atau mereka yang dipimpinnya, ikut merasakan derita mereka, yang diinginkan Rasul hanyalah keselamatan bagi umatnya, bukanlah Rasul itu pemimpin yang pemarah, cerewet, atau bahkan zhalim terhadap yang dipimpinnya, dan hal itu tentu mustahil bagi Rasul. Rasul sangat mencintai orang-orang yang beriman. Jikapun mereka berpaling dari keimanan Rasul tidaklah memusuhi, membenci, atau bahkan memerangi, melainkan ia menyerahkan urusan itu kepada Allah, penguasa yang lebih tinggi. Dengan bertawakkal, berarti Rasul mendoakan orang-orang yang lalai agar dikembalikan kepada jalan yang benar. Meski begitu, Rasul juga tegas, bukan kasar, menegur mereka yang melakukan kesalahan, seperti yang terjadi pada saat kaum muslimin ramai menyerbu seorang pedagang untuk membeli dagangannya, sedangkan Rasul sedang berkhutbah Jumat, maka ia segera menegur mereka untuk kembali menyelesaikan ibadah Jumat berdasarkan wahyu dari Allah: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS. Al-Jumu’ah: 9-10)

Hadirin jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah!

Dengan demikian, al-Quran menjadi rujukan utama dalam mempelajari dan meneladani akhlak dan kepribadian Nabi. Bahkan menurut para ahli tafsir, sumber informasi mengenai kepribadian Rasulullah justru lebih banyak dan jelas tertulis di dalam al-Quran. Maka wajarlah jika kemudian istri Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa: “Akhlaq Rasulullah Saw adalah al-Quran”. Meski al-Quran menjadi sumber sunnah Rasulullah saw, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para Sahabat juga tidak kalah penting. Selain al-Qur`an dan hadits, kita juga dapat mengetahui tentang bagaimana Rasul mencontohkan secara nyata bagi kita pelaksanaan ajaran agama Islam melalui kitab-kitab sirah nabawiyah atau biografi Nabi Muhammad saw. Kitab Sirah juga dapat dibaca untuk mengetahui perilaku dan akhlaq Rasulullah yang harus kita teladani, karena sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi, meliputi pula corak dan ragam tindakan beliau, baik sebagai pribadi maupun pemimpin. Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin itulah Kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran. Kitab sirah Nabi yang paling awal adalah Sirah ibn Ishaq tahun 151 Hijriyah yang kemudian di syarh atau disunting oleh Ibn Hisyam. Jenderal Shalahuddin al-Ayyubi yang memimpin perang salib melawan tentara kristiani pernah membacakan kitab sirah Nabi Muhammad Saw yang berisi perilaku Nabi dalam perang, yakni kitab al-Maghazi, untuk meningkatkan semangat pasukannya dalam perang serta menuntun mereka untuk berperang sesuai adab dan perilaku Nabi yang luhur. Menurut para ahli sejarah, inisiatif Shalahuddin al-Ayyubi inilah yang menginspirasi para ulama untuk menyusun konsep maulid Nabi yang akhirnya sekarang ini kita nikmati dalam bentuk rawi-rawi dan syi’ir-syi’ir maulid al-Habsyi susunan al-Habib al-Imam al-‘Allamah ‘Ali ibn Muhammad ibn Husin al-Habsyi , Maulid Barzanjiy karangan Sayyid Ja’far ibn Husain ibn Abdul Karim al-Barzanji, Maulid al-Diba’iy karangan al-Imam al-Jalil Abdurrahman al-diba’i dan lain-lain.

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia!

Dari keterangan ini dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa membaca maulid dalam bentuk rawi-rawi dan syi’ir-syi’ir maulid yang dikarang oleh para ulama tadi adalah salah bentuk kita untuk mengetahui dan mengingat sunnah Rasul. Dengan mengingatnya kita berharap dapat meneladani dan mengamalkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Karena itu hendaknya dalam acara peringatan Maulid Nabi kita mengambil hikmah dan pelajaranlah. Janganlah acara Maulid dijadikan ajang untuk pamer keahlian dalam membawakan maulid, atau pamer keahlian dalam berceramah, atau pamer kedudukan karena panitia mampu menghadirkan penceramah hebat, atau bagi yang hadir salah faham mengenai barakah maulid, padahal barakah berarti dapat mengambil hikmah dan pelajaran.